5 Potret Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

0
11
Pasang surut pertumbuhan ekonomi Indonesia
5 potret pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2014 sampai 2019

elahan.com, Masa pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla telah selesai. Waktunya berganti dengan masa kerja Kabinet Indonesia Maju milik Joko Widodo dan Ma’ruf Amien. Selama lima tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami gonjang-ganjing. Di satu sisi banyak peningkatan yang dihasilkan, namun banyak juga penurunan yang dirasakan. Perlunya menganalisa hasil kerja tahun 2014 sampai 2019 sebagai pacuan untuk tahun 2019 sampai 2024.

Berikut lima potret pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2014 sampai 2019:

1. Landmark hasil kerja

Pencapaian yang paling nampak pada pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla adalah percepatan pembangunan infrastruktur. Sejak krisis ekonomi Asia pada tahun 1998 Indonesia telah mengalami defisit infrastuktur yang luar biasa akut. Maka tidak salah hal ini perlu diapresiasi karena menjadi landmark hasil kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Selama lima tahun terakhir hambatan-hambatan yang dulu menghalangi percepatan pembangunan infrastuktur ditebas habis. Seperti permasalah pembebasan tanah dan kurangnya regulasi diatasi dengan UU yang disetujui pada 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Lalu, masalah terbatasnya biaya diatasi dengan pengalokasian dana yang banyak. Terakhir eksekusi proyek dipersiapkan dan dilakukan dengan matang.

2. Antara untung dan buntung

Pertumbuhan ekonomi Indonesia lima tahun terakhir tidak sesuai target. Hanya mampu mencapai kisaran 5 persen dari target awal 7 persen. Selama ini ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada Sumber Daya Alam (SDA). Inilah yang perlu menjadi perhatian khusus.

Akibat penurunan harga batu bara dan komoditas menyebabkan melambatnya pertumbuhan ekonomi sejak 2012. Ditambah lagi pada 2013, kebijakan moneter dan fiscal yang ketat. Pada 2015 situasi semakin memburuk dengan menurunnya harga energy dan komoditas. Sehingga mengakibatkan pertumbuhan ekonomi mencapai 4,9 persen yang merupakan titik terendah. Hal ini memberikan dampak yang amat memukul pada ekspor, investasi dan konsumsi rumah tangga.

Pembangunan infrastuktur belum dapat mendorong pada pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek. Menurut Jhon M. Keynes, resep pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek adalah mendorong permintaan. Sedangkan Pembangunan infrastuktur hanya berfungsi sebagai upaya perbaikan sisi supply. Untuk itu upaya yang perlu diperhatikan pemerintah dalam mendorong permintaan adalah mendorong daya beli.

Indonesia perlu bertranformasi ke sektor industri manufaktur. Agar pembangunan infrastuktur memberikan dampak yang signifikan terhadap ekspor dan investasi karena minimnya biaya logistik. Sehingga tidak perlu menunggu keberhasilannya dalam jangka panjang.

Meskipun demikian, pencapaian pemerintah dalam lima tahun terakhir dengan kisaran 5 persen tetap perlu diapresiasi. Karena bukan suatu yang mudah untuk tumbuh 5 persen dengan hanya mengandalkan sumber daya alam di saat harga energi dan komoditas menurun dan tak menentu.

3. Stabilitas ekonomi meski rupiah jatuh

Pemerintah dan Bank Indonesia memilih stabilitas dibandingkan pertumbuhan dalam mengantisipasi normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat. Kebijakan ini memberikan dampak ke negar-negara lain termasuk Indonesia. Dampaknya adalah keluar arus modal dari Emerging Economies.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia lima tahun terakhir
Pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu diapresiasi dan dievaluasi

Pada 2018, rupiah pun melemah hingga mencapai 15.000 per dolar. Naik dari sebelumnya 13.500 per dolar. Sama seperti kejadian taper tantrum pada 2013, pemerintah dan Bank Indonesia menerapkan stabilisasi ekonomi. Caranya dengan menaikkan bunga, membiarkan rupiah mengikuti pasar dan memotong deficit anggaran. Langkah ini lebih tepat ketimbang tidak menerapkan stabilisasi sama sekali. Meskipun rupiah jatuh namun bisa saja dampaknya jauh lebih buruk dari itu.

Beruntung, rupiah kembali menguat setelah arus modal kembali mengalir ke Emerging Economies pada akhir Desember 2018. Setelah Bank sentral Amerika Serikat menaikkan bunga dan melakukan normalisasi kebijakan moneter.

4. Kondisi hutang masih relatif

Sebenarnya kondisi hutang Indonesiah masih relative aman. Apabila imbalan yang diperoleh dari aktivitas ekonomi yang dibiayai dari hutang lebih besar dari bunga yang harus dibayarkan maka hutang tidak bermasalah.  Karena rasio hutang akan menurun.

Pada tahun 2005, rasio hutang mencapai 47,3 persen. Pada 2012 menurun hingga sebesar 23 persen. Pada 2013-2014 berada di posisi stabil yaitu di kisaran 24-25 persen. Hingga 2018 mulai naik kembali mencapai 29 persen. Peningkatan rasio hutang sejak 2015 disebabkan melambatnya pertumbuhan ekonomi, yaitu sebesar 5 persen. Sedangkan defisit anggaran meningkat.

Angka 29 persen masih lebih baik dari tahun 1999-2008. Meskipun sedikit lebih buruk dari tahun 2009-2016. Akan tetapi ekonomi Indonesia masih baik-baik saja. Namun tetap diperlukan dorongan dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tahun 2014 sampai 2019. Maka tantangan ke depannya adalah kualitas belanja atau dorongan daya beli yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan.

5. Pengangguran menurun tapi meningkat

Selama lima tahun terakhir, angka kemiskinan dan ketimpangan serta pengangguran mengalami penurunan. Pada 2014 presentase pengangguran muda usia 15-24 tahun menurun dari 22 persen menjadi 20 persen pada 2018. Bukan itu saja, yang awalnya 33 persen menurun menjadi 29 persen pada presentase pengangguran dan setengah pengangguran.

Kita patut mengapresiasi pencapaian ini, namun jangan langsung bergembira. Pasalnya presentase menurunnya pengangguran muda disebabkan menurunnya presentase pengangguran berpendidikan SMA ke bawah. Sedangkan, presentase pengangguran muda dengan pendidikan SMA ke atas meningkat dari 60 persen pada 2014 menjadi 74 persen pada 2018. Yang paling banyak meningkat pada pendidikan SMK sebesar 10 persen serta diploma dan sarjana sebesar 6 persen.

Pengangguran muda yang kurang berpendidikan tidak memiliki ekspetasi tinggi terhadap pekerjaan. Hal inilah yang menyebabkan penurunan dari angka 50 persen pada 2014 menjadi 10 persen pada 2018. Para pengangguran berpendidikan SMA ke bawah cenderung menerima pekerjaan apa saja dibandingkan yang berpendidikan SMA ke atas. Sayangnya tidak jarang mereka yang mau bekerja apa saja kadang juga menerima upah yang rendah.

Pemerintah Indonesia perlu menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi setiap pendidikan. Sehingga tidak terjadi eksploitasi dalam pekerjaan dan menurunkan jumlah pengangguran yang memuaskan. Agar tidak terjadi penurunan yang sebenarnya bukan disebabkan karena dampak pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kelima poin di atas setidaknya mampu memberikan gambaran bagaimana pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam lima tahun terakhir. Selama masa pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla pada periode 2014-2019 perlunya apresiasi atas kerja yang sudah dilaksanakan. Namun tetap perlu evaluasi atas kekurangan yang ada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here