Aeronautika Jadi Cara BJ Habibie Memulihkan Krisis Ekonomi 1998

0
15
BJ Habibie
BJ Habibie

Elahan.com, Rabu 11 September 2019 menjadi duka bagi Indonesia karena telah berpulangnya Bacharuddin Jusuf Habibie atau biasa dikenal BJ Habibie yang juga merupakan Presiden Indonesia ke-3 serta menjadi anak bangsa yang kiprahnya di bidang teknologi diakui oleh dunia.

BJ Habibie bukanlah seorang politisi atau ekonom. Beliau adalah teknokrat yang telah malang-melintang di dunia teknologi, sebelum akhirnya Ia diminta Soeharto untuk pulang dan diangkat menjadi Menristek. Kecintaannya kepada Indonesia menjadikan dirinya kembali ke Indonesia untuk mengabdi pada bangsanya.

Selang berjalannya waktu pada Mei 1998 Soeharto resmi mengundurkan diri dan menghantarkan Habibie menjadi orang nomor satu di Indonesia saat itu. Banyaknya masalah yang ada di negeri saat itu mulai dari politik, stabilitas keamanan, hingga perekonomian harus ditanggung oleh BJ Habibie.

Kondisi ekonomi Indonesia yang saat itu sangat buruk menjadikan nilai tukar rupiah amblas, cadangan devisa tergerus habis, melonjaknya inflasi, serta pertumbuhan ekonomi yang minim. Latar belakangnya sebagai seorang ahli teknologi menjadikan dirinya sempat diragukan oleh beberapa pihak.

Dilansir dari Majalah Tempo edisi 11 Oktober 1999, di mata pelaku pasar tahun 1997/1998 Habibie dipandang sebagai sosok yang suka menghambur-hamburkan uang untuk proyek mahal. Bahkan Lee Kuan Yew yang menjadi Perdana Menteri Singapura saat itu sempat mengatakan naiknya Habibi bisa ‘menghancurkan rupiah’.

Namun, hal ini berhasil dipatahkan dengan kenyataan yang berkata lain. Pada era BJ Habibie, ekonomi Indonesia mengalami fase pemulihan pasca-kiris moneter di tahun 1998. Beliau berhasil mengembalikan nilai tukar rupiah yang sempat terjun bebeas ke level Rp 16.800 per dolar AS pada Juni 1998 ke level Rp 7.000-Rp 8.000 per dolar AS pada masa akhir pemerintahannya.

Bagaimana cara BJ Habibie mengatasi dan menyelesaikan permasalahan ekonomi pasca Soeharto lengser ?

Bagaimana cara BJ Habibie mengatasi dan menyelesaikan persoalan ini ? Rupanya kemahirannya dalam dunai pesawat terbang menjadikan dirinya mampu menyelesaikan persoalan ini dengan menggunakan pendekatan aeronautika yaitu dengan mengibaratkan Indonesia adalah pesawat terbang dengan posisi stall.

Stall merupakan kondisi ketika posisi pesawat kehilangan daya angkat, dengan posisi bagian depan pesawat mengarah ke atas dengan sudut yang lebih dari 15 derajat dan kondisi ini bisa menyebabkan pesawat jatuh. 

Keseimbangan menjadi dasarnya. Dalam aeronautika guna meningkatkan kecepatan atau menerunkan kecepatan maka dibutuhkan keseimbangan dengan gravitasi dan inilah yang disebut dengan aerodinamika.

Berdasarkan pendekatan itu, Habibi melihat kondisi rupiah tahun 1998 ibarat pesawat terbang dimana rupiah saat itu mengalami stall. Maka, guna menyelesaikannya perlu adanya upaya menstabilkan nilai rupiah terlebih dahulu.

Upaya tersebut berupa restukrurisasi perbankan yang salah satunya dengan mengkonsolidasi empat bank milik pemerintah yang kemudian melahirkan Bank Mandiri. Menurut Habibie, melakukan penyehatan terhadap bank komersial menjadi hal penting guna menopang perekonomian serta memperkuan Bank Indonesia (BI)

Selain itu Habibie mengambil langkah yang dianggap cukup berani meski ditentang oelh banyak kalangan yaitu dengan memisahkan BI dari pemerintah melalui Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999. Hal ini dilakukan agar bisa menghasilkan mata uang rupiah yang berkualitas tinggi.

Menurut Habibie, Bank Sentral harus bisa bekerja lebih objektif, profesional dan lepas dari kepentingan politik. Berkat keputusannya kahirnya BI memiliki wewenang untuk mengintervensi rupiah hingga saat ini.

Selanjutnya, Habibie berupaya mengambil kepercayaan pealku ekonomi dalam negeri untuk meredam kekhawatiran terhadap hiperinflasi. Selain itu, kebijakan moneter ketat ditempuh, dalah satunya dengan menertibkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan tingkat bunga yang tinggi. Ini bertujuan agar masyarakat bisa menyimpan kembali uangnya di bank.

Di saat yang sama, Habibie juga mempertahankan kebijakan tarif dasar listrik dan BBM bersubsidi agar administered price bisa diturunkan. Hal ini menjadikan harga-harga bahan pokok menjadi terjangkau bagi masyarakat yang tengah berada pada keterpurukan akibat krisis. Cara ini pun cukup efektif untuk menahan laju inflasi yang diikut dengan menurunnya suku bunga SBI dari 70 persen menjadi hanya belasan persen.

Meski demikian, kebijakan ekonomi yang ditempuh ketika masa Habibie menjabat ini mendapat kritik dari beberapa pihak. Sejumlah analis menilai menguatnya nilai tukar rupiah disebabkan oleh faktor lain di luar Habibie dan salah satu aliran modal masuk yang cukup besar di pasar saham bukan karena kebijakan pemerintah, melainkan karena harga saham di bursa sudah terlalu murah ketimbang harga industri sejenis di luar negeri.

Walau demikian, kebijakan perekonomian yang diambil Habibie telah menjadi pondasi penting bagi perjalanan perekonomian Indonesia hingga menjadi stabil seperti saat ini. Pondasi ini menjadi penting untuk membangunan Indonesia hingga kini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here