Bencana Alam Meningkat di Tahun 2019

0
45
bencana alam
bencana alam

Elahan.com, Memasuki pertengahan tahun 2019 ada 2.277 bencana alam yang tercatat oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang terjadi di Indonesia. Jumlah ini terhitung sejak bulan Januari hingga 31 Juli 2019.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak Januari hingga Maret 2019 sendiri jumlah bencana alam di Indonesia meningkat dari tahun 2018.

Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho pada Jumat 29 Maret 2019, selama bulan Januari sampai Maret 2019 telah terjadi 1.107 bencana yang menyebabkan 375 orang meninggal dan hilang, 1.340 alami luka-luka dan 850.772 orang mengungsi dan terdampak.







Sutopo Purwo Nugroho ketika menjelaskan peningkatan bencana alam di Indonesia tahun 2019

Sutopo juga menjelaskan pada awal tahun ini terjadi bencana yang paling mematikan adalah banjir dan tanah longsor. Kedua jenis bencana alam tersebut yang paling banyak memakan korban jiwa jika dibandingkan dengan tahun 2017 dan 2018.

Ia juga mengatakan jika bencana yang paling banyak memakan korban adalah banjir bandang di Sulawesi Selatan dan di Sentani. Hal ini sebabkan adanya banjir yang disertai dengan tanah longsor.

Selanjutnya, BNPB juga memperkirakan kerugian materil akibat bencana alam yang menimpa Indonesia pada awal tahun ini jumlahnya mencapai miliaran rupiah. Kerugian terbesar yang dialami menyagkut tempat tinggal masyarakat.

Berikut beberapa bencana alam yang terjadi dari awal hingga pertengahan tahun 2019:

1. Letusan Gunung Anak Krakatau

Sebenarnya Gunung Anak Krakatau mengalami letusan hebat pada akhir Desember tahun 2018 lalu, dan letusan terus berlanjut hingga Januari 2019 walau letusannya tidak sebesar Desember 2018. Akibat dari kejadian ini terjadi tsunami hebat di kawasan Selat Sunda yang meliputi daerah Banten hingga Lampung dan mengakibatkan ratusan orang tewas.

2. Gempa Sumba Barat

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi gempa berkekuatan 6,2 magnitud di wilayah laut bagian barat Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur pada Selasa, 22 Januari 2019.

Gempa ini terjadi pada 06.59 dengan episentrum di 103 kilometer barat daya Sumba Barat. Sementara, untuk pusat gempa berada pada kedalaman 10 kilometer di bawah permukaan bumi.

Gempa susulan pun sempat terjadi dengan kekuatan 5,2 magnitudo pada pukul 07.38. BMKG menyatakan gempa yang terjadi tidak berpotensi tsunami.

3.  Gempa Pangandaran

Gempa tektonik terjadi di daerah Pangandaran, Jawa Barat dengan kekuatan 4,9 magnitudo pada Sabtu 27 Juli 2019. Guncangan terjadi pada pukul 10.44 WIB dan tidak berpotensi tsunami.

Gempa bumi yang terjadi tergolong dangkal terjadi akibat adanya aktivitas zona subduksi lempeng Indo-Australia yang menyelusup menunjam ke bawah lempeng Eurasia.

Gempa ini terasa di Cilacap, Jawa Tengah. Hingga pukul 11.05 tidak ada gempa susulan yang terjadi.

4.  Gempa Lombok

Pada Sabtu, 4 Mei 2019 terjadi gempa dengan kekuatan 4,3 magnitudo yang menguncang Lombok. Suara geburuh atap rumah membuat masyarakat kaget dan mereka secara langsung lari berhamburan keluar rumah.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BMKG Mataram, sumber gempa ini berada pada kedalaman 17 kilometer atau sekitar 13 kilometer barat daya Kabupaten Lombok Utara yang lokasinya ada pada posisi 8.40 lintang selatan 116.05 bujur timur.  Gempa tidak berpotensi tsunami.

5. Letusan Gunung Tangkuban Perahu

Baru-baru ini pada 26 Juli 2019, Gunung Tangkuban Perahu mengalami letusan pada pukul 15.48 WIB. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan gunung ini  meletus dengan ditandai adanya asap tebal yang keluar dari Kawah Ratu secara tiba-tiba.

Area wisata Gunung Tangkuban Perahu sempat ditutup guna menanggulangi jatuhnya korban akibat letusan gunung. Kemudian pada 1 Agustus 2019 area ini kembali dibuka, namun secara tak terduga Gunung Tangkuban Perahu kembali meletus.

Kamis, 1 Agustus 2019 Gunung Tangkuban Perahu kembali meletus. Letusan terjadi sebanyak 8 kali dan status dinaikan menjadi waspada.  Jenisnya masih freatik yaitu berupa pelepasan energi berupa uap air dan gas.

Dilansir dari Tempo.co, pada tanggal 2 Agustus 2019 PVMBG sejak pukul 08.00 WIB menaikan statusnya dari level 1 atau normal menjadi level 2 atau waspada. Menurut analisis tim PVMBG ancaman berada dalam radius 1,5 kilometer dari pusat kawah.  

PVMBG telah menerbitkan VONA atau peringatan dini untuk otoritas penerbangan atas letusan Gunung Tangkuban Perahu. Letusan gunung ini juga masih dinyatakan belum berbahaya bagi aktivitas penerbangan disekitar gunung  tersebut.

Bencana alam memang tidak dapat diprediksi, bisa terjadi kapan pun dan dimana pun. Anda sebaiknya harus selalu waspada dan siap sedia perlengkapan saat berada di keadaan darurat.  Jika terjadi kabut asap akibat letusan gunung api sebaiknya selalu siap sedia masker agar tehindar dari ISPA, serta selalu mengikuti instruksi evakuasi yang telah diarahkan oleh petugas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here