Bolehkah Wakaf Asuransi Dalam Islam ? Ini Kata DSN MUI

0
28
wakaf asuransi

Elahan.com, Wakaf merupakan suatu bentuk kegiatan kedermawanan dalam Islam yang memberikan banyak manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat hingga menjanjikan pahala yang tak akan terputus. Bentuknya pun bermacam-macam, salah satunya wakaf asuransi.


Ketua Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Ahmad Sya’roni menyatakan jika asuransi wakaf dalam wujud asuransi syariah memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan di Indonesia. Sebagaimana diketahui, Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tentu adanya wakaf sudah tidak asing lagi.

Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) menyatakan wakaf asuransi atau mewakafkan manfaat asuransi dan memanfaatkan investasi pada asuransi jiwa syariah hukumnya adalah boleh, asal mengikuti ketentuan yang sudah ada dalam fatwa MUI.

Kata DSN MUI soal Wakaf Asuransi


Fatwa yang mendasari pembolehan wakaf asuransi adalah DSN MUI Nomor 106 tahun 2016 tentang wakaf manfaat asuransi dan manfaat investasi pada asuransi jiwa syariah.
Wakil Ketua Umum Badan Pelaksana Harian (BPH) DSN MUI Fathurrahman Djamil menyatakan pada dasar prinsipnya, manfaat asuransi yang dimaksud adalah untuk melkukan mitigasi risio peserta atau pihak yang ditunjuk.
Ia juga menambahkan, ada tiga jenis konsep wakaf dalam asuransi. Pertama adalah wakaf sebagai model asuransi, di mana tabbaru fund atau dana dikumpul yang sekarang ada pada asuransi syariah merupakan dana wakaf. Mekanismenya, sebelum orang atau wakif ber-tabbaru dan dana tabbaru itu akan dimasukkan ke dalam dana fund, bukan tabarru fund.


Kedua adalah wakaf sebagai fitur produk asuransi syariah yaitu produk yang dibuat perusahaan asurans syariah di mana wakif beriniat agar manfaat investasi dan manfaat asuransi diwakafkan. Manfaat asuransi yang dimaksud adalah sejumalah dana yang bersumber dari dana tabarru yang berasal dari kontribusi peserta yang digunakan untuk membayar santunan kepada peserta yang mengalami musibah atau pihak lainnya yang berhak atas dana tersebut.

Menurut Fathurrahman, manfaat investasi yang dimiliki peserta atau nasabah asuransi ini boleh diwakafkan. Sedangkan, manfaat asuransi pada dasarnya tidak boleh diwakafkan apabila dana yang dimiliki bukan milik peserta karena satu dan hal lainnya. Namun, ada beberaoa pengecualian sehingga wakaf ini diperbolehkan. Pihak yang ditunjuk atau semua pihak calon penerima manfaat asuransi berjanji untuk mewakafkan sebagian manfaat asuransi tersebut dan ketentuan lainnya yang telah diatur dalam fatwa.

Ketiga, dalam fatwa MUI soal wakaf manfaat asuransi dan manfaat investasi pada asuransi jiwa syariah menjelaskan pihak yang ditunjuk untuk menerima manfaat asuransi menyatakan janji yang mengikat (wa’d mulzim) untuk mewakafkan manfaat asuransi, serta jumlah paling banyak yang boleh diwakafkan adalah 45 persen dari total manfaat asuransi. Semua calon penerima manfaat asuransi yang ditunjuk atau penggantinya menyatakan persetujuan dan kesepakatannya. Lalu, ikrar wakaf dilaksanakan usai manfaat asuransi secara prinsip telah menjadi hak dari pihak yang ditunjuk atau penggantinya. Kadar manfaat investasi yang boleh untuk diwakafkan paling banyak adalah sepertiga dari total kekayaan atau tirkah, kecuali yang disepakati lain oleh semua ahli waris.

Jadi, pada dasarnya wakaf memiliki beberapa jenis dan salah satunya adalah wakaf asuransi atau bisa disebut wakaf manfaat asuransi. Hal ini dinyatakan boleh dilakukan asal dana tersebut merupakan dana milik peserta dan atas persetujuan dari wakif atau peserta.
Melalui program wakaf ini, bukan hanya pihak yang diberi dana wakaf manfaat asuransi saja yang merasakan dampaknya, namun lebih dari itu. Pengguna atau peserta juga bisa merasakan manfaatnya serta amalan yang tak akan terputus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here