Bowo Sidik Pangarso Seret Nusron Wahid dan Menteri di Kabinet

0
73
Bowo Sidik Pangarso
Bowo Sidik Pangarso diperiksa KPK

Elahan.com, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melakukan operasi tangkap tangan (OTT) yang melibatkan Bowo Sidik Pangarso (BSP) yang merupakan anggota Komisi VI DPR RI pada Kamis, 28 Maret 2019 dini hari.

Saat itu KPK mendapat informasi penyerahan uang dari AWI (Asty Winasti) yang merupakan Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia kepada Indung (IND) selaku pihak sawasta. Penyerahan uang tersebut dilaksanakan di Gedung Granadi yang berlokasi di Kuningan, Jakarta Selatan.

Tim KPK langsung mengamankan uang sebesar Rp 89,4 juta dari Indung yang dimasukkan dalam amplop coklat. Diduga Indung merupakan orang kepercayaan Bowo. Uang ini merupakan comitment fee karena telah membantu PT HTK menjalin kerja sama dengan PT Pupk Indonesia Logistik dalam penyewaan kapal.

Setelah mengamankan beberapa orang di lokasi tersebut, tim KPK menuju apartemen Bowo di daerah Permata Hijau. Namun, KPK hanya menemukan sopir Bowo dan mengamankannya. Sedangkan Bowo yang awalnya sempat melarikan diri, akhirnya berhasil diamankan KPK di rumahnya pukul 02.00 WIB. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, Bowo dibawa ke Gedung Merah Putih KPK.

Di sebuah kantor di Jakarta, tim KPK menemukan uang sebesar Rp 8 miliar yang dimasukkan ke dalam amplop-amplop yang ada di 82 kardus dan 2 wadah plastik. Uang dalam amplop tersebut pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu. Diduga uang ini akan dibagikan Bowo kepada warga sebagai ‘serangan fajar’ untuk kepentingan pencalonannya sebagai anggota DPR di Pemilu 2019.

Kemudian, saat menjalani pemeriksaan di KPK pada Selasa, 9 April 2019, Bowo Sidik Pangarso menyebut Nusron Wahid yang meminta dirinya menyiapkan 400 ribu amplop tersebut.

Bowo Sidik Pangarso seret nama Nusron Wahid
Bowo Sidik Pangarso sebut nama Nusron Wahid

Pengacara Bowo, Saut Edward Rajagukguk menjelaskan bahwa Nusron turut menyiapkan 600 ribu amplop untuk dibagikan terkait keikutsertaannya sebagai calon legislatif di Pemilu 2019. Diketahui bahwa Nusron dan Bowo merupakan calon legislatif dari dapil Jawa Tengah II.

Ketika ditanya mengenai amplop dengan cap jempol tersebut, Bowo tidak menjawab secara gamblang. Dia hanya mengatakan bahwa dirinya mendukung pasangan calon 01. Saut menjelaskan mengenai cap jempol tersebut hanyalah sebagai penanda semata. Apakah amplop tersebut sampai kepada yang bersangkutan atau tidak.

Nusron Wahid langsung membantah tuduhan Bowo tersebut. Dia menyebut tidak tahu menahu mengenai urusan amplop itu.

Selain menyeret nama Nusron Wahid, Bowo juga menyebut sosok menteri yang masih aktif dan direktur BUMN yang ikut terkait dengan ampolp ‘serangan fajar’ tersebut. Meski tidak membongkar siapa sosok menteri dan direktur BUMN itu, tetapi Bowo dipastikan akan bersikap kooperatif dengan menyebutkannya kepada tim penyidik KPK.

Menurut pengacaranya, Bowo akan mengajukan diri menjadi justice collaborator atau saksi pelaku yang bekerja sama. Namun saat itu, Saut belum membeberkan siapa-siapa saja nama yang turut berperan dalam kasus ini yang segera akan diungkap Bowo.

Pernyataan pengacara Bowo tersebut membuat Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf enggan berspekulasi lebih jauh. Menurut juru bicara TKN, Ace Hasan Syadzily, proses hukum yang sedang ditangani KPK harus dihormati semua pihak. Pengakuan pengacara Bowo tersebut menurut Ace belum tentu benar sebab kasus tersebut masih dalam tahap penyidikan dan memiliki tendensi untuk menyeret pihak lain yang belum tentu kebenarannya.

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah meminta agar cap jempol pada amplop pada kasus suap Bowo Sidik Pangarso ini tidak dikaitkan dengan urusan Pemilu 2019.  Febri berharap semua pihak bisa melihat proses ini secara independen sebagaimana proses hukum yang berlaku dan tidak mengaitkan KPK dengan isu politik praktis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here