Cerita Pembantaian Wamena di Tiga Tahun Berbeda

0
24
Pembantaian Wamena merupakan sejarah kelam Indonesia
Peristiwaa Pembantaian Wamena selalu menyisakan suka mendalam bagi ibu pertiwi

elahan.com, Cerita pembantaian Wamena akan selalu diingat sebagai sejarah pilu masyarakat Indonesia. Insiden berdarah tersebut selalu menyisakan luka dan duka mendalam. Setelah reformasi, Wamena masih terus melanjutkan cerita pilunya tersebut.

Inilah tiga cerita pembantaian Wamena di tiga tahun berbeda:

1. Tahun 2000

Tepat tengah hari pada 6 Oktober 2000 awal semua cerita dimulai. Kota kecil yang berpenduduk 500 ribu jiwa awalnya hidup harmonis dan tentram. Meskipun hidup dengan masyarakat multi suku, tidak ada yang mempermasalahkan mengenai penduduk asli dan penduduk pendatang.

Saat itu, insiden yang menorehkan duka mendalam itu diakibatkan kebijakan politik yang tidak konsisten. Presidium Dewan Papua telah salah paham dengan simbol budaya yang disangka simbol politik. Sehingga kepolisian pun mengambil langkah dengan berniat menurunkan bendera Bintang Kejora yang justru mengundang amarah masyarakat.

Bendera Bintang Kejora dianggap sebagai simbol dari partai politik tertentu. Padahal bendera ini merupakan simbol budaya masyarakat di Lembah Baliem tersebut. Selain karena kesalahpahaman, faktor ketidaktahuan yang disebabkan rendahnya pengetahuan juga menjadi pemicu insiden berdarah ini terjadi. Dengan alasan ini pula, masyarakat Wamena menghentikan proses penurunan bendera tersebut.

Pada pembantaian Wamena tahun 2000, banyak korban yang harus rela kehilangan nyawanya. Kurang lebih 75 orang menjadi korban kebrutalan insiden hari itu. Tercatat sedikitnya 30 orang tewas termasuk wanita dan anak-anak. Sekitar 45 orang terluka akibat tikaman berbagai macam senjata tajam dari para perusuh. Luka-luka yang dialami korban juga cukup serius.

Perusuh pada insiden berdarah itu bukan saja penduduk asli, bahkan penduduk pendatang justru menjadi sasaran. Padahal para pendatang berniat mengadu nasib dengan berdagang di Wamena. Masyarakat yang selamat saat pembantaian Wamena saat itu menyelamatkan diri dengan mengungsi di Lembaga Pemasyarakatan setempat.

Meskipun insiden pembantaian telah diselesaikan, tetap saja mengubah suasana desa. Tak ada lagi suasana ramai nan damai, yang ada hanya puing-puing, abu, serta rasa trauma mendalam pada setiap hati masyarakat Wamena.

Pembantaian Wamena dari Tahun ke Tahun
Cerita Pembantaian Wamena dari Tahun ke Tahun

2. Tahun 2003

Tepat pada Hari Raya Paskah, 4 April 2003, masyarakat sipil Papua dikejutkan dengan penyisiran 25 kampung. Peristiwa mengejutkan ini diakibatkan gudang senjata Markas Kodim 1702 Wamena dibobol orang-orang tak dikenal. Sejumlah pujuk senjata dan amunisi diduga telah dicuri orang-orang tersebut. Selain itu, mereka juga menyerang dua anggota Kodim, yaitu Lettu TNI AD Napitupulu dan Prajurit Ruben Kana hingga tewas. Selain itu, satu korban juga mengalami luka berat akibat kejadian ini.

Para penyerang pun diduga kabur ke daerah Wamena. Untuk itu, dilakukan penyisiran pada 25 kampung dalam rangka penangkapan pelaku pencurian dan pembunuhan. Dalam proses penangkapan pelaku ini, masyarakat Wamena justru mendapatkan perlakuan kurang manusiawi dan melanggar hak asasi manusia. Hingga Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melaporkan adanya 9 korban tewa dan 38 korban mengalami luka berat.

Bukan itu saja, pemindahan secara paksa terhadap warga-warga kampung juga mennyebabkan banyak korban berjatuhan.  Pasalnya aparatur negara melakukan penangkapan, penyiksaan, perampasan dan pengungsian secara paksa. Hingga akhirnya, tercatat 15 korban perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang. Juga 42 korban meninggal dunia akibat kelaparan.

3. Tahun 2019

Kronologi kejadian yang terjadi pada Senin, 23 September 2019, bermula dari unjuk rasa siswa yang berakhir rusuh. Kerusuhan terjadi akibat massa aksi bersikap anarkis. Sungguh disesali aksi ini berujung dengan membakar rumah warga, kantor pemerintahan, PLN dan beberapa kios masyarakat.

Penyebab siswa mengadakan unjuk rasa ini adalah adanya kabar tentang seorang guru yang menyampaikan pesan bernada rasial terhadap siswa di Wamena. Kabar tersebut menyebar yang kemudian memicu kemarahan siswa hingga memutuskan untuk mengadakan unjuk rasa.

Unjuk rasa yang berlangsuh ricuh tersebut, sebenarnya telah diusahakan untuk memukul mundur massa aksi. Suara senjata terdengar berentetan. Meskipun begitu, aparat kepolisian dan TNI tidak mampu menghentikan demonstran yang anarkis tersebut. Pembantaian Wamena mengakibatkan aktivitas kota sempat lumpuh dan masyarakat harus mengungsi di kantor Polres Wamena.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here