Demonstrasi Hong Kong Terus Berlanjut, Tuntutan Massa Semakin Meluas

0
23
Demonstrasi Hong Kong terjadi pada Minggu, 14 Juli 2019

Elahan.com, Demonstrasi Hong Kong tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Setelah berlangsung berminggu-minggu, kerusuhan anti-pemerintah ini terus berlanjut.

Ribuan orang turun ke jalan di kota Sha Tin, kota yang terletak di perbatasan Hong Kong dengan China pada Minggu, 14 Juli 2019. Bahkan sebagian pengunjuk rasa ada yang mengibarkan bendera Inggris dan Amerika.

Sebagian demonstran kembali menyerukan agar Pemimpin Eksekutif Carrie Lam segera mengundurkan diri. Sebagian peserta demo yang lain juga membawa spanduk berisi tuntutan kemerdekaan bagi Hong Kong.

Awalnya protes ini dipicu oleh adanya RUU Ekstradisi yang memungkinkan warga Hong Kong dikirim ke Tiongkok untuk diadili. Sehingga masyarakat Hong Kong menilai bahwa RUU Ekstradisi ini dapat merusak independensi peradilan Hong Kong serta dapat menyasar orang-orang yang menentang pemerintah China.

Namun, sekarang tuntutan massa sudah berubah menjadi lebih luas, yaitu meminta adanya demokrasi sebab ini bisa membatasi dan mengurangi kebebasan Hong Kong.

Seperti diketahui bahwa Hong Kong merupakan negara bekas koloni Inggris. Menjadi bagian dari China namun dijalankan di bawah aturan ‘satu negara, dua sistem’ yang menjamin tingkat otonomi. Dalam hal ini, Hong Kong punya peradilan sendiri dan sistem hukumnya terpisah dengan daratan China.

Pada protes yang terjadi Minggu kemarin, aparat keamanan menggunakan semprotan merica serta pentungan yang berfungsi untuk mengusir demonstran yang menyimpang dari rute yang sudah ditetapkan sebelumnya. Sementara pemrotes yang bertopeng memasang barikade sehingga menimbulkan ketegangan antara polisi dengan para demonstran.

Di hari yang sama, kalangan wartawan juga menggelar aksi menentang perlakuan buruk polisi terhadap wartawan. Sebelumnya pada hari Sabtu ada protes serupa yang menentang penyelundupan barang-barang dari Hong Kong ke China. Demonstran ini menggelar aksi di kota Sheung Shui, berdekatan dengan perbatasan China yang menjadi destinasi populer di negara tersebut.

Biasanya, Sheng Shui digunakan para pedagang untuk membeli barang-barang untuk dijual dengan harga tinggi di China. Namun, warga setempat mengeluh karena adanya turis jadi mendongkrak harga, mengubah wajah daerah tersebut, serta mengganggu pelayanan umum.

Namun, pada 9 Juli 2019 lalu, Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam menyebut bahwa RUU ekstradisi yang menjadi kontroversi tersebut “telah mati”. Meskipun Carrie tidak secara ekspilit mengatakan apakah RUU tersebut benar-benar dicabut. Sehingga membuat pengunjuk rasa akan terus melanjutkan demonstrasi.

Demonstrasi Hong Kong terus terjadi
Demonstrasi Hong Kong terus terjadi

Menurut pemberitaan BBC, Carrie Lam menyebut bahwa putusan tersebut tidak ditetapkan sepenuhnya karena tuntutan demonstran. RUU Ekstradisi ini sudah menimbulkan kerusuhan di Hong Kong dalam waktu yang lama. Pemerintah juga sempat menangguhkan pembahasan RUU ini tanpa batas waktu yang jelas.

Lam juga menjelaskan pada wartawan bahwa ada keraguan pada pemerintah untuk kembali memproses hal ini di dewan legislatif. Namun, Lam dengan tegas menyebut bahhwa rencana seperti itu sudah tidak ada. Pembahasannya sudah mati.

Carrie Lam sempat menyebut bahwa RUU Ekstradisi ini “akan mati” di 2020 nanti saat masa legislatif yang sekarang berakhir.

Anggota Parlemen dari Partai Sipil Alvin Yeung menyebut kata “sudah mati” merupakan deskripsi politik dan bukan merupakan bahasa legislatif. Dia menambahkan bahwa RUU ekstradisi masih dalam proses penilaian kedua secara teknis. Dia juga tidak mengerti kenapa kepala eksekutif seperti Carrie Lam tidak mau menggunakan kata penarikan.

Aktivis mahasiswa Joshua Wong, salah satu tokoh utama gerakan protes Demonstrasi Hong Kong menegaskan agar RUU tersebut “ditarik secara resmi”. DIa juga menyebut bahwa Lam menggunakan permainan kata-kata untuk berbohong pada masyarakat Hong Kong.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here