Elektabilitas Semua Paslon Stagnan, Golput Dikhawatirkan Naik

0
92
Elektabilitas paslon Presiden Indonesia (istimewa)
Elektabilitas paslon Presiden Indonesia (istimewa)

Elahan.comElektabilitas paslon capres-cawapres nomor 01 maupun nomor 02 semenjak kampanye dimulai terlihat stagnan, menurut keterangan dari hasil survei lembaga penelitian dan konsultan politik Charta Politika.

Pasangan capres Joko Widodo – Ma’ruf Amin berada pada angka 53,2%, sementara pasangan capres Prabowo Subianto – Sandiaga Uno memeroleh angka 34,1%. Angka dari paslon nomor urut 02 ini tidak banyak menurun dari bulan Oktober ke Desember sebesar 35,5% .

Pengamat politik dari Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI), Hurriyah, tidak heran elektabilitas paslon turun dengan melihat angka-angka tersebut.

Menurut Hurriyah, dalam masa kampanye 4 bulan terakhir, kedua pasangan calon ini belum masuk ke intisari program kerja yang ditawarkan masing-masing paslon.

“Selama ini kan di media kita dapat melihat perdebatannya masih pada permasalahan yang sehubungan dengan identitas atau soal gimmick gimmick politik, jadi polemik yang kalau gunakan bahasa anak-anak sekarang  ‘recehan’,” ungkap Hurriyah, Rabu (16 Januari 2019).

“Bagi semua undecided voters  yang belum menilai pilihan mereka hendak melihat narasi apa yang sebetulnya ingin dikatakan kedua calon. Apa visi tujuan mereka, bagaimana program-program yang bakal mereka tawarkan,” bebernya.

Pengamat politik Hurriyah cemas, jika kondisi ini terus berlarut selama masa kampanye yang tersisa, undecided voters (orang yang belum menentukan pilihan)  memutuskan untuk tidak memilih atau menjadi golput dalam Pilpres 2019 mendatang.

Jubir tim Kampanye Nasional Joko Widodo – Ma’ruf Amin, Arya Sinulingga sadar kalau selama 4 bulan terakhir yang terjadi melulu pertarungan isu yang tidak substansial. Dia mempercayai setelah debat pilpres perdana, hal tersebut pasti berubah.

“Karena setelah debat pilpres ini, bakal ada pertarungan program. Akan bertarunglah program antara hukum, HAM-nya, korupsi, terorisme, bakal bertarung sejumlah hari nih, minggu depan,” ungkap Arya.

Sementara itu jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, Ferdinand Hutahaean, mengaku bahwa BPN tidak meyakini hasil survei yang diluncurkan lembaga survei manapun, kecuali survei internal yang mereka kerjakan.

“Sepanjang raw datanya tidak dibuka, dan siapa yang menunaikan mereka mengerjakan survei itu, kami dari Tim Prabowo – Sandi mengaku minta maaf, tidak meyakini hasil rilis dari lembaga survei tersebut,” ujar Ferdinand, Rabu (16 Januari 2019).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here