Enam Gerai Giant Tutup, Ini Penyebabnya

0
13
Penyebab Giant Tutup
Penyebab Giant Tutup

Elahan.com, Baru-baru ini enam gerai Giant tutup tepatnya pada 28 Juni 2019 lalu. Adapun enam gerai tersebut adalah Giant Express Pondok Timur, Giant Express Cinere Mall, Giant Extra Mitra 10 Cibubur, Giant Extra Wisma Asri, Giant Extra Jatimakmur, dan Giant Express Mampang.

Giant merupakan salah satu merek gerai dari HERO. Selain itu ada juga Hero, Giant, Guardian, dan IKEA.

Padahal sepanjang 2018 saja PT Hero Supermarket Tbk (HERO) sudah menutup 26 gerai. Menurut Direktur HERO Hadrianus Wahyu Trikusumo, ritel makanan di Indonesia memang tengah mengalami peningkatan persaingan beberapa tahun terakhir. Hal ini disebabkan karena perubahan pola belanja konsumen.

Meski begitu, di tengah masyarakat, merek Giant menurutnya masih sangat kuat. Namun, Hero hanya butuh melakukan adaptasi agar bisa bersaing dengan pesaingnya secara efektif dengan menerapkan program multi-year transformation, menurut Hadrianus.

Strategi yang dipersiapkan oleh pihak HERO adalah dengan mengubah dan menyegarkan penawaran untuk para pelanggan setianya.

Hingga tanggal 28 Juni tersebu, secara total HERO kehilangan 119 gerai Giant dengan total 125 gerai Giant.

Hal yang paling berdampak dan menjadi sorotan adalah para karyawan yang bekerja di enam gerai tersebut. Hadrianus menyebut untuk urusan ini HERO sudah berkomunikasi dengan semua karyawan yang terlibat. Pihak dari HERO juga memastikan masa transisi ini akan berjalan dengan sebaik dan seadil mungkin.

Enam gerai Giant tutup
Enam gerai Giant tutup

Adapun program multi-years transformation yang menjadi sorotan dari manajemen HERO yakni melibatkan penataan ulang ruang usaha, menyesuaikan general merchandise, meningkatkan kualitas, kesegaran, dan skala di semua toko sehingga memberikan nilai tambah pada para pelanggan.

Mengenai rencana melakukan ekspansi, Hadrianus belum menyebutkan berapa gerai Giant yang akan dibuka tahun ini. Menurut penjelasannya, tahun ini persaingan retail dengan konsep hypermarket dan supermarket menghadapi persaingan ketat.

Di tahun 2018 pendapat HERO turun tipis dari tahun 2017 menjadi Rp 12,97 triliun. Tetapi kerugiannya tahun 2018 juga meningkat dari Rp 249,32 miliar tahun 2017 menjadi Rp 1,25 triliun.

Di tengah jaman yang serba canggih dan di era seperti sekarang, memang pola belanja masyarakat juga ikut berubah. Sebagian orang lebih memilih belanja secara online ketimbang belanja langsung di toko atau secara offline.

Karena ketidaksiapan mengikuti perkembangan jaman inilah, yang jadi faktor banyak pengusaha retail konvensional seperti mal dan toko, tutup atau gulung tikar.

Hal yang sama disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta. Dia menyebut bahwa bisnis retail berkembang pesat dengan persaingan yang sangat ketat juga. Apalagi munculnya berbagai platform jual beli online dengan menawarkan produk-produk layaknya yang ditawarkan di toko retail luring alias offline.

Selain itu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menambahkan bahwa persaingan antar retail juga mempengaruhi. Akhir-akhir ini banyak yang membuka usaha yang menyediakan kebutuhan lengkap dan berada dekat dari masyarakat.

Giant tutup
Giant tutup

Enggartiasto Lukito, Menteri Perdagangan, juga ikut berkomentar. Menurutnya penutupan toko retail tersebut tidak hanya disebabkan oleh daya beli masyarakat yang melemah, tetapi juga persegeseran pola hidup dan adanya perubahan perilaku belanja. Masyarakat dinilai lebih banyak menghabiskan duitnya untuk jalan-jalan, nongkrong di tempat hits, ataupun untuk makan-makan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut pihaknya masi terus melakukan monitor terhadap perubahan pola konsumsi masyarakat yang merupakan dampak dari era digitalisasi.

Nantinya akan dilakukan kajian apakah toko yang secara fisik, seperti Giant tutup ini, bisa membuka toko kembali secara online.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here