Fakta Dibalik Keraton Agung Sejagat, Menghidupkan Mitos Demi Uang

0
11
Keraton Agung Sejagat
Fakta Dibalik Keraton Agung Sejagat, Menghidupkan Mitos Demi Uang

elahan.com, Masyarakat Indonesia kini sedang dihebohkan dengan hadirnya Keraton Agung Sejagat di daerah Purworejo, Jawa Tengah. Keraton tersebut didirikan oleh Toto dan Fani yang mengakui bahwa mereka penerus kemaharajaan Nusantara, Majapahit, yang muncul setelah perjanjian 500 tahun dengan Portugis berakhir.

Layaknya sebuah kerajaan, keraton ini juga dipimpin oleh seorang raja dan ratu. Istana kerajaan ini berpusat di Desa Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Purworejo, Jawa Tengah. Toto merupakan sang Raja yang dikenal dengan Sinuwun Toto Santoso Hadiningrat. Sedangkan Sang Ratu adalah Fani yang dikenal dengan panggilan Kanjeng Ratu Dyah Gitarja.

Raja Kerato ini mengakui telah memiliki 450 pengikut. Menurutnya pengikut mereka telah diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Selain di Purworejo, keraton ini juga sudah berdiri di beberapa daerah lain di Klaten, Yogyakarta, dan Lampung.

Sosiolog dari Universitas Padjajaran (Unpad) mengatakan banyak kemungkinan yang menjadi latarbelakang kehadiran Keraton Agung Sejagat, di antaranya adalah keinginan untuk mencari uang dari sumbangan orang-orang yang masih percaya kepada trah kerajaan dan ratu adil. Hal itu mendukung kebenaran dimana persyaratan yang dibuat untuk menjadi anggota pengikut keraton dengan membayar uang sejumlah Rp. 3 Juta. Sang Raja juga menetapkan pengikutnya untuk membayar iuran setiap bulannya.  

Keraton buatan Toto dan Fani ini memiliki sebuah prasasti yang dibanggakan pengikutnya. Batu prasasti kerajaan bertuliskan huruf Jawa yang disebut Prasasti Bumi Mataram. Pada bagian kiri prasasti terdapat tanda dua telapak kaki, sedangkan pada bagian kanan terdapat sebuah simbol. Adapun di dekat istana di Purworejo, kerajaan juga memiliki sebuah kolam yang disakralkan oleh pengikutnya.

Diketahui sang raja, Toto pernah tinggal di kawasan Ancol, Jakarta Utara. Dia merupakan seorang wiraswasta. Namun kehidupannya di Ancol tidak seindah di kerajaannya. Di Ancol, kehidupan Toto sangat jauh dari kesan mewah. Kapolres Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto mengatakan, pihaknya telah menelusuri alamat tinggal Toto yang tertera pada KTP-nya.

Budhi mengatakan Toto tinggal di wilayah RW 005 Kelurahan Ancol, tepatnya di daerah Kampung Dao, Ancol, Jakarta Utara. Secara geografis, wilayah Dao sudah hilang karena kebakaran yang ikut menghanguskan rumahnya. Karena kehilangan rumah akibat kebakaran itu, Toto tidak memiliki rumah lagi. Dia pun hidup di bedeng daerah kampung bandang.  

Setelah viralnya nama keraton di Purworejo ini, pihak kepolisian bergerak menyelidiki kebenarannya. Pemeriksaan dilakukan terhadap Toto dan Fani dengan menggandeng tiga guru besar dari Universitas Dipenogoro (Undip). Alasannya, polisi akan mendalami keberadaan keraton itu dari sejumlah aspek, yakni aspek yuridis, filosofis, nilai kebangsaan, ideologis, dan historis. Nantinya, tiga guru besar Undip juga akan membantu penelusuran kasus tersebut dari sisi kesejarahan dan hukum pidana.

Setelah melalui proses pemeriksaan, Polisi menetapkan sang raja dan ratu sebagai tersangka. Kapolda Jateng, Irjen Rycko Amelza Dahniel mengatakan, polisi memiliki bukti permulaan dengan adanya motif penarikan dana dari masyarakat. Mereka menarik dana dengan cara menipu melalui penggunaan simbol-simbol kerajaan palsu. Berdasarkan pemeriksaan sementara, Toto dan Fanni juga diketahui bukan sepasang suami istri. Rycko mengatakan, keduanya hanya berstatus sebagai teman.

Toto Santoso dan Fanni Aminadia dijerat Pasal 14 UU RI Nomor 1 tahun 1946 tentang menyiarkan berita atau pemberitaan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran. Keduanya juga diancam Pasal 378 KUHP tentang penipuan mengani keberadaan Keraton Agung Sejagat yang diakui mereka.

Ketahui cara berlangganan majalah tempo, untuk mengetahui berita lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here