Fakta Tito Karnavian, Kapolri Termuda Hingga Jadi Menteri

0
11
Tito Karnavian
Tito Karnavian seorang birokrat dan tokokh kepolisian.

elahan.com, Jenderal Polisi (Purn.) Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 26 Oktober 1965 merupakan seorang birokrat dan juga tokoh kepolisian Indonesia yang kini menjadi Menteri Dalam Negeri di era Jokowi jilid II.

Berikut adalah sejumlah fakta Tito Karnavian yang dilansir dari Tempo.co:

Memiliki Karier Cemerlang

Tito Karnavian dikenal sebagai orang yang memiliki komikasi dan manajemen yang bagus, hal ini pun disampaikan oleh Kepala Polri sebelum Titp, Jenderal Badrodin Haiti. Kemampuannya ini pun diakui oleh semua polisi.

Ketika Tito masih menjadi perwira menengah, ia terlibat dalam pengungkapan sejumlah kasus terorisme sejak Bom Bali 2002 hingga berhasil menangkap gembong teroris, Noordin M. Top dan Dr Azhari. Atas prestasinya ini, Tito akhirnya ditunjuk sebagai Kepala Densus 88 Antiteror pada 2009 hingga 2010.

Ketika Tito menjadi Kapolda Metro Jaya pun Tito dipuji oleh Istana karena kecepatannya dalam menangani ka`sus teror Bom Thamrin Jakarta pada 14 Januari 2016.

Selain itu, dirinya memperoleh pangkat Komisarin Jenderal ketika menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2016 karena dinilai memiliki pengalaman dalam menangani terorisme.

Ketika Tito baru menjabat sebagai kepala BNPT pada Juli 2016, pria asal Sumatera Selatan ini pun kemudian ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo menjadil Kapolri.

Kini kariernya pun semakin cemerlang, di masa jabatan Presiden Jokowi periode 2019-2024 dirinya ditunjuk menjadi Menteri Dalam Negeri.

Berhasil Ungkap Banyak Kasus

Tito Karnavian diketahui telah cukup banyak mengungkap sejumlah kasus besar di Indonesia, diantaranya adalah pada 2003 dirinya berhasil mengungkap tiga kasus besar yaitu bom di Gedung DPR MPR, bom di Bandara Soekarno-Hatta, bom JW Marriot.

Selain itu, pada 2004 ia berhasil mengungkap kasus pembunuhan Direktur PT Asaba oleh Gunawan Santosa, bom di Cimanggis Depok, dan Bom di Kedubes Australia. Di tahun 2005, kasus bom Bali II, dan bom di Pasar Tentena.

Puncaknya adalah ketika dirinya bersama Idham Aziz yang kemudian menggantikan Tito di tahun 2019 menjadi Kapolri ini berhasil melumpuhkan gembong teroris Azhari husin alias Dr Azhari di Batu, Jawa Timur pada 9 November 2005.

Menjaedi Kapolri Termuda

Pria kelahiran Palembang ini menjadi Kapolri termuda dan mendahului emapat angkatan di atasnya. Ketika dirinya dilantik saat menjadi Kapolri pada 3 Juli 2016 usianya 52 tahun ini menganttikan Jenderal Badrodin Haiti yang telah memasuki masa pensiun.

Terpilihnya Tito ini pun menjadi sorotan publik Indonesia sebab usia yang terbilang muda untuk menjadi seorang Kapolri. Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol), Semarang pada 1987 ini meraih predikat Adhi Makayasa atau lulusan terbaik.

Namanya Masuk Kasus Buku Merah

Belum lama ini, nama Tito heboh menjadi perbincangan karena disebut-sebut dalam kasus suap impor daging yang menyeret pengusaha Basuki Hariman dan mantan Hakim Mahkamah Konstitusi yaitu Patrialis Akbar. Selain itu, namanya juga tercantum dalam buku berwarna merah yang didalamnya tertulis nama-nama penerima aliran dana dari Basuki Hariman.

Tito Karnavian
Nama Tito Karnavian sempat diduga berada di dalam buku merah.

Buku merah ini kemudian menjadi perhatian. Hal ini karena buku merah tersebut merupakan barang bukti kemudian sejumlah halamannya dirusak terutama pada lembaran yang berisikan nama Tito Karnavian. Pelaku pengerusakan barang bukti ini diduga adalah dua penyidik KPK dari Polri, akan tetapi Polri membantah keterlibatan Tito dalam suap impor daging.

Masih Memiliki Utang Kasus

Meski kariernya serta prestasinya gemilang, masih ada satu kasus yang belum sempat diselesaikan hingga dirinya meninggalkan Polri yaitu kasus penyerangan terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan. Wajah penyidik KPK ini disiram oleh orang tak dikenal pada April 2017 seusai sholat subuh di masjid dekat rumahnya dan menyebabkan sebelah matanya cacat permanen.

Penyerangan ini disebut-sebut merupakan buntut dari pengusutan suap impor daging oleh pengusaha Basuki Hariman dan mantan Hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar.

Saat itu ketika Polri masih dibawah Tito Karnavian dan hingga kini belum ada titik terang terkait pelaku penyiraman tersebut. Selain kasus penyiraman air keras, ada kasus yang belum terselesaikan yaitu penembakan dalam demonstrasi mahasiswa di Kendari pada Septmber 2019, serta penembakan dalam demonstrasi  di Jakarta pada 1-23 Mei 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here