Fintech Batumbu Tawarkan Angin Segar Bagi UKM

0
57
Fintech legal terdaftar di OJK ada 106
Fintech Batumbu tawarkan model pembiayaan berbeda untuk UKM

Elahan.com, Di awal April 2019 ini, ada sekitar 106 entitas financial technology (Fintech) peer to peer lending yang masuk dalam daftar pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jumlah ini bertambah dibanding bulan Februari lalu yang hanya berjumlah 99 entitas.

Salah satu perusahaan dari 7 entitas yang bertambah itu adalah PT Berdayakan Usaha Indonesia (Batumbu) yang bergerak memberikan pinjaman produktif bagi UKM (usaha kecil dan menengah). Sonny Christian Joseph menyebut fokus pembiayaan ini dengan sistem kemitraan tertutup, artinya UKM yang menjadi bidikan Batumbu adalah UKM yang dimiliki oleh suatu perusahaan agar memastikan UKM tersebut memiliki kualitas kontrol yang baik. Atau dalam kata lain, Batumbu hanya memberikan pembiayaan pada ekosistem dari mitra-mitranya.

Fintech legal yang diawasi OJK bertambah menjadi 106
Fintech Batumbu terdaftar dalam pengawasan OJK

Singkatnya, Batumbu menyediakan platform digital yang menjembatani pihak peminjam dengan pemberi pinjaman. Batumbuh berarti ‘bertumbuh’ yang membawa angin segar serta ikut menularkan energi positif bagi industri fintech lending di Indonesia.

Sekarang, Batumbu sudah bekerjasama dengan tiga mitra yang masing-masing bergerak di bidang garmen, sawit, dan logistik. Ribuan UKM yang berada di bawah perusahaan mitra tersebut berpotensi akan diberikan pembiayaan peminjaman.

Perlu diketahui, kata Sonny, perusahaan mitra itu bukan sebagai penjamin, tetapi menjadi pembayar dari borrower, dimana mitra akan membayar melalui virtual account atas nama peminjam. Targetnya, Batumbu ingin bekerjasama dengan 8-10 mitra yang memiliki ekosistem UKM seperti itu.

Fintech yang baru didirikan September 2018 ini dijalankan oleh mantan banker yang sudah bekerja selama 23 tahun yang mencakup bisnis mikro, UKM, dan komersial dari beberapa bank. Pemegang saham dari Batumbu ini adalah p2p lending tersebsar d Singapura, Validus Capital Pte Ltd, dan Tripultra Group yang merupakan kelompok usaha nasional di berbagai sektor industri yang memang dikenal aktif memberikan pendanaan untuk perusahaan rintisan.

Sonny mengaku Batumbu belum memberikan pinjaman dikarenakan baru mendapatkan tanda p2p lending OJK. Jumlah penyedia dana (lender) belum tercatat karena faktor izin. Dalam aturannya juga tidak boleh memegang dana dari lender lebih dari sehari karena harus secepatnya diberikan kepada peminjam.

Terget jumlah pinjaman juga belum ditentukan. Kata Sonny, masing-masing lender bisa menempatkan dana minimal Rp 100 juta. Maksimal pinjaman yang akan disalurkan Batumbu kepada borrower adalah Rp 2 miiar dengan masa pinjaman maksimal 12 bulan. Dikarenakan masih dalam tahap awal, maka masa pinjaman maksimal hanya 3 bulan dengan bunga tergantung risiko calon peminjam.

Sonny juga optimis bisa menekan gagal bayar agar kualitas pinjaman terjaga. Hal ini karena target mereka merupakan pembiayaan produktif, perusahaan mitra juga sebagai pembayar dan juga Batumbu bekerjasama dengan dua asuransi yang menutup hingga 80 persen pinjaman gagal bayar.

Batumbu diisi oleh jajaran para bankir berpengalaman dari bank papan atas di bisnis UKM yang punya track record tidak diragukan lagi. Mereka melihat UKM belum terlayani dengan baik oleh industri keuangan konvensional karena adanya perberbedaan skema pinjaman dengan model bisnis.

Menurut Sonny, Ukm tidak hanya membutuhkan akses keuangan yang mudah, cepat, dan murah, tetapi juga butuh pembiayaan yang fleksibel berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan.

Michael Jermia Tjahjamulia selaku Head of Business Strategy & Operation Batumbu menyebut, Fintech Batumbu tidak hanya menjembatani UKM dengan pemilik dana pinjaman, tetapi juga berfokus pada peningkatan kapasitas usaha peminjam dengan menyelenggarakan program-program melalui serangkaian pelatihan atau konsultasi bisnis, penyebaran informasi dan pengetahuan, dan sebagainya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here