Golput Bikin Kubu Jokowi-Ma’ruf Panik

0
37
Golput sebut bisa rugikan paslon 01
Golput pada pemilu 2019 ancam rugikan paslon 01

Elahan.com, Menjelang pemilihan umum yang sebentar lagi, banyak hasil survei menyebut angka golput alias golongan putih masih cukup tinggi. Meskipun sejauh ini beberapa lembaga survei yang kredibel masih menyebut pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul dari paslon Prabowo-Sandiaga.

Selisih keunggulan keduanya paslon ini hanya berada pada angka 18-20 persen. Elektabilitas petahana hanya mentok pada angka 50-55 persen saja. Namun begitu, bukan berarti elektabilitas paslon 02 naik mengejar paslon 01.

Mendekati hari pemilihan 17 April 2019 nanti, lembaga-lembaga survei menyoroti besarnya potensi jumlah golput atau mereka yang tidak memilih. Faktor yang mempengaruhinya juga beragam, seperti jadwal pencoblosan berbarengan dengan libur panjang, sosialisasi pemilu serentak yang masih kurang, hingga tidak adanya calon presiden alternatif karena kembali mengulang periode sebelumnya.

Bagaimana sih sejarah awal mulanya golput pada pemilu ini?

Golput ini pertama kali muncul di Indonesia ketika menjelang Pemilu 1971 yang dimotori oleh tokoh muda dan cendekiawan seperti Arief Budiman dan Imam Waluyo. Saat itu ada 10 partai politik yang ikut pemilu, seperti Golkar, NU, Parmusi, PNI, PSII, Parkindo, Katolik, Perti, IPKI, serta Murba.

Gerakan golput tersebut bertujuan untuk menolak kebijakan rezim otoriter Soeharto yang semasa itu begitu mengintimidasi, memobilisasi, dan menutup ruang adanya kekuatan oposisi. Namun, dulu golput bukan berarti tidak datang ke TPS. Tetap datang hanya saja memilih di bagian putih di luar gambar partai di kertas suara.

Sejak awal kemunculannya hingga sekarang fenomena tidak memilih ini tidak memudar. Buktinya, dalam tiga pemilu terakhir, jumlah pemilih yang menghanguskan suara berkisar di angka 23-30 persen.

Banyak lembaga survei yang menyebut bahwa jumlah golongan putih berpotensi besar merugikan pasangan calon Jokowi-Ma’ruf. Jika pada pemilu 2019 ini angka golput sama dengan periode sebelumnya sekitar 30,42 persen, dipastikan kedua paslon kekurangan dukungan.

Jika mengacu pada hasil survei LSI Denny JA yang dirilis pada 18-25 Februari 2019 lalu, ada empat dari lima segmen yang merugikan paslon 01 jika tidak ikut memilih. Segmen tersebut adalah pemilih minoritas, pemilih wong cilik, pemilih milenial, serta segmen emak-emak. Sementara segmen yang merugikan paslon 02 hanya dari segmen pemilih terpelajar saja.

Wajar, jika kemudian kubu Jokowi-Ma’ruf kesal dengan adanya fenomena golongan putih ini. Pada setiap kampanyenya, petahana selalu mengingatkan pendukungnya untuk tidak golput karena negara menghabiskan dana sebanyak Rp 25 triliun untuk pelaksanaan pemilu ini.

Golput masih tinggi menjelang pemilu 2019
Fenomena golput masih tinggi menjelang pemilu

Untuk meningkatkan suara pemilih, Kiai Ma’ruf merujuk pada fatwa MUI tahun 2014 yang menyebut golput adalah haram. akan tetapi MMUI pusat membantah pernah mengeluarkan fatwa tersebut.

Bahkan Megawati, Ketua Umum PDI Perjuangan, menyebut mereka yang tidak memilih adalah seorang pengecut yang tidak punya harga diri. Mega juga menyebut golongan ini tidak layak menjadi WNI. Paling menyita perhatian adalah wacana dari Menko Polhukam Wiranto yang mempersoalkan golongan putih dan mengancam tindak pidana bagi siapapun yang menghasut untuk tidak memilih. Sebab Wiranto menilai hasutan tersebut berpotesi menjadi pengacau pemilu.

Tentu saja wacana tersebut mendapat respon yang beragam bahkan dikecam masyarakat. Sebab, memilih atau tidak, itu adalah hak bagi masing-masing individu selaku pemilik kedaulatan. Dan wacana tersebut bisa mengancam demokrasi.

Golongan putih adalah bentuk dari kritik terhadap kekuasaan dan menjadi ekspresi politik warga negara yang dijamin oleh Konstitusi dan Peraturan perundang-undangan. Sehingga harus dihormati dan dihargai.

Berbeda dengan kubu lawan, paslon 02 tidak merasa terancam dengan adanya kubu golongan putih ini. Sehingga bisa membuat mereka lebih fokus untuk mengkritisi paslon 01. Dan ancaman Wiranto dinilai sebagai bentuk kepanikan kubu incumbent.

Jika benar kubu Jokowi-Ma’ruf tengah panik dengan menghadapi golput, maka untuk pertama kalinya petahana gentar bukan oleh rivalnya. Apakah golongan putih ini benar-benar akan menjadi batu sandungan bagi Jokowi untuk menjadi presiden periode kedua? Kita nantikan saja hasil dari pilpres yang hanya menunggu hari saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here