Hadapi Teroris Abu Sayaf, TNI Tak Lakukan Operasi Militer

0
30
elahan.com, Hadapi Teroris Abu Sayaf, TNI Tak Lakukan Operasi Militer
Hadapi teroris Abu Sayaf, TNI berkoordinasi dengan Filipina

Elahan.com, Untuk menghadapi teroris Abu Sayaf yang melakukan penyanderaan 3 orang WNI di Filipina, TNI mengaku  tidak dapat melakukan operasi militer. Hal ini diungkapkan oleh Marsekal Hadi Tjajanto. Ia menyebut TNI sudah melakukan komunikasi dengan otoritas Filipina terkait penyanderaan WNI oleh kelompok Abu Sayaf.

“Enggak mungkin, negara lain di sana,” kata Hadi Tjahjanto di DPR RI pada Senin, 29 Januari 2018. Hadi menegaskan selalu memantau perkembangan kasus Abu Sayyaf dan terus berkomunikasi dengan pihak yang terkait.  “Sudah kami lakukan terus, termasuk (dengan) Menhan (Menteri Pertahanan) juga selalu,” ujarnya.

Diketahui bahwa kelompok teroris Abu Sayyaf menawan tiga nelayan asal Kepulauan Selayar saat sedang berlayar di Perairan Lahat Datu, Malaysia Timur pada Januari 2017.

Tiga orang tersebut adalah Hamda dan Sudarling dari kepulauan Bembe, Kecamatan Pasi Masunggu, Selayar. Dan satu nelayan lainnya bernama Subandi, yang merupakan warga Kecamatan Bontobahari, Bulukumba.

Kelompok teroris Abu Sayyaf juga telah mengunggah video yang ditujukkan kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Dalam video itu seorang nelayan meminta pertolongan.

“Kepada pemerintah kita di Indonesia, Presiden Joko Widodo untuk cepat membebaskan kami, sebab kami ada batas waktu untuk potong kepala, kami minta tolong kepada pemerintah, kami tidak mau mati di sini.”

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pertahanan Indonesia Ryamirzard Ryacudu mengatakan bahwa ia sudah berbicara dengan Presiden Filipina Rodrigo Duerte. Menurutnya Duterte mengizinkan pihak Indonesia untuk melalawan teroris Abu Sayyaf.

Sementara itu menurut laporan dari media Inquirer, Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan bahwa pemerintah Indonesia bersama Malaysia bisa masuk Filipina dengan bekerja sama tantara Filipina.

“Saya akan mengizinkan pasukan Indonesia dan Malaysia masuk,” ujar Duterte. “Cukup informasikan saja kepada Angkatan Bersenjata tentang hal itu,” kata Duterte.

Dilansir dari Today Online, Duterte juga menyebut Filipina bersedia bergabung dengan pasukan operasi asing jika dibutuhkan. Presiden Filipina itu juga menyebut bahwa dia telah memberi tahu Presiden Indonesia, Joko Widodo, dan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak.

Keputusan ini dibuat Duterte karena tampaknya kesabarannya telah habis. Terutama tentang kelompok Abu Sayyaf, yang telah menculik korban dari wilayah Malaysia atau Indonesia.

Kelompok teroris ini sebelumnya juga pernah memenggal korban yang kerabatnya tidak mampu membayar uang tebusan. Hal ini terjadi pada kasus Robert Hall dari Kanada pada Juni 2016, dan John Ridsdel dua bulan sebelumnya.

Duterte yang baru-baru ini diancam akan dibunuh ISIS memberikan respons keras terhadap teroris. Ia mengatakan meledakkan teroris bukanlah masalah karena mereka menginginkan hal itu. Sejauh ini belum ada respons lanjutan dari Indonesia mengenai upaya menghadapi teroris Abu Sayyaf.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here