Indonesia Miliki 5 Kasus Pelanggaran HAM yang Belum Tuntas

0
13
Pelanggaran HAM
Indonesia Miliki 5 Kasus Pelanggaran HAM yang Belum Tuntas

elahan.com, Kasus Pelanggaran HAM acap kali terjadi di berbagai negara di dunia, Indonesia salah satunya. Hari Hak Asasi Manusia (HAM) diperingati setiap 10 Desember di berbagai negara di dunia. Hari HAM sekaligus menjadi pengingat atas pentingnya upaya-upaya penegakkan HAM dan kasus-kasus pelanggaran yang belum kunjung usai.

Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik mengungkapkan ada 11 berkas yang sudah dihasilkan dari penyelidikan Komnas HAM dan kemudian diserahkan ke Jaksa Agung. Akan tetapi, belum ada keberlanjutan dari Jaksa Agung sampai saat ini. Komnas HAM memang hanya memiliki wewenang tahap penyelidikan dan penyelidikan dilanjutankan oleh Jaksa Agung.

Berikut adalah beberapa kasus pelanggaran HAM berat yang termasuk dalam 11 berkas Komnas HAM:

1. Peristiwa Pembunuhan Massal di Tahun 1965

Pada tahun 2012, Komnas HAM menyatakan menemui adanya pelanggaran HAM berat usai terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965. Sejumlah kasus yang ditemukan antara lain adalah penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, penghilangan paksa, hingga perbudakan. Kasus ini masih belum ditindaklanjuti kembali di Kejaksaan Agung. Korban dari peristiwa tersebut diperkirakan mencapai 1,5 juta orang. Sebagian besar merupakan anggota PKI ataupun ormas yang berafiliasi dengannya.

2. Peristiwa Talangsari Lampung di Tahun 1989

Komnas HAM membentuk Komisi Penyelidik Pelanggaran HAM di tahun 2005 untuk melakukan penyelidikan terhadap peristiwa Talangsari Lampung yang terjadi tahun 1989. Pada 19 Mei 2005, tim memperoleh kesimpulan bahwa ditemukan adanya unsur pelanggaran berat pada peristiwa ini. Berkas penyelidikan kemudian diserahkan ke Jaksa Agung pada tahun 2006 untuk ditindaklanjuti. Namun, kasus ini belum kunjung tuntas diusut hingga kini. Dalam peristiwa Talangsari, korban diperkirakan mencapai 803 orang. Peristiwa ini terjadi pada 7 Februari 1989. Menurut berita saat itu terjadi penyerbuan ke desa Talangsari yang dipimpin oleh Danrem Garuda Hitam 043, Kolonel Hendropriyono. Penyerbuan tersebut dilakukan atas dugaan makar ingin mengganti Pancasila dengan Al-Qur’an dan Hadits oleh jamaah pengajian Talangsari yang dimpimpin oleh Warsidi. Akibatnya, sejumlah jama’ah hingga kini dinyatakan hilang, perkampungan habis dibakar, dan ditutup untuk umum.

3. Tragedi Penembakan Mahasiswa Trisakti di Tahun 1998

Kasus ini menjadi sejarah kelam Indonesia, karena mahasiswa sebagai pemuda bangsa gugur dan jasanya dikenang hingga kini. Komnas HAM telah melakukan penyelidikan pada tragedi penembakan mahasiswa Trisakti 1998 yang kemudian selesai pada Maret 2002. Kasus ini sempat masuk ke Kejaksaan Agung berkali-kali, namun berkali-kali juga berkas kasus ini dikembalikan. Bahkan, berkas sempat dikatakan hilang pada 13 Maret 2008 oleh Jampidsus Kejaksaan Agung. Tragedi penembakan Trisakti ini sendiri diperkirakan menyebabkan korban hingga 685 orang.

4. Kasus Wasior dan Wamena di Tahun 2001 dan 2003

Kasus Wasior dan Wamena terjadi pada tahun 2001 dan 2003. Terduga aparat Brimob Polda Papua melakukan penyerbuan kepada warga di Desa Wonoboi, Wasior, Manokwari, Papua. Tindakan ini dipicu oleh 5 anggota Brimob dan satu orang sipil perusahaan PT Vatika Papuana Perkasa yang dibunuh. Perusahaan kayu PT VPP dianggap warga mengingkari kesepakatan yang dibuat masyarakat. Tercatat empat orang tewas, satu orang mengalami kekerasan seksual, lima hilang, dan 39 disiksa. Sementara, untuk Kasus Wamena terjadi pada 4 April 2003, saat masyarakat sipil Papua tengah merayakan Hari Raya Paskah. Masyarakat dikejutkan dengan penyisiran terhadap 25 kampung. Penyisiran ini dilakukan akibat sekelompok masa tidak dikenal membobol gudang senjata Markas Kodim 1702/Wamena. Kasus ini menyebabkan 9 orang tewas dan 38 orang luka berat. Selain itu, pemindahan paksa dilakukan terhadap 25 warga kampung dan menyebabkan 42 orang meninggal dunia karena kelaparan dan 15 orang korban perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang. Kasus Wasior dan Wamena juga telah diserahkan ke Kejaksaan Agung. Sebelumnya, tim ad hoc Papua Komnas HAM telah melakukan penyelidikan Pro Justisia yang mencakup Wasior dan Wamena sejak 17 Desember 2003 hingga 31 Juli 2004. Namun setelah diserahkan ke Jaksa Agung, kasus ini sempat ditolak dengan alasan tidak lengkapnya laporan yang diberikan Komnas.

5. Peristiwa Paniai (2014)

Peristiwa Paniai juga masuk ke dalam deretan kasus HAM yang belum tuntas hingga kini. Kejadian tersebut bermula pada 8 Desember 2014. Saat itu, sebuah mobil hitam dari Enaro menuju kota Madi yang diduga dikendarai oleh dua oknum anggota TNI, dihentikan tiga remaja warga sipil. Tiga remaja tersebut menahan mobil karena warga tengah mengetatkan keamanan jelang natal. Tidak terima ditahan, terduga anggota TNI kembali ke Markas TNI di Madi Kota dan mengajak beberapa anggota lainnya kembali ke Togokotu, tempat ketiga remaja menahan mobil mereka sebelumnya. Mereka pun mengejar ketiga remaja tadi. Keesokan paginya, warga Paniai berkumpul dan meminta aparat bertanggungjawab terhadap remaja yang dipukul. Namun, sebelum pembicaraan dilakukan, aparat gabungan TNI dan Polri sudah melakukan penembakan ke warga. Akibat peristiwa ini, empat orang tewas di tempat, 13 orang terluka dilarikan ke rumah sakit. Sementara satu orang akhirnya meninggal dalam perawatan di rumah sakit Mahdi.

Sebelas berkas kasus pelanggaran HAM yang sudah diajukan tersebut di antaranya kasus-kasus seperti peristiwa 1965, Trisakti, Semanggi 1, Semanggi 2, Penembak Misterius (Petrus), kasus Wamena dan Wasilor, penculikan dan penghilangan paksa aktivis, peristiwa Talangsari, peristiwa dukun santet, ninja, dan orang gila di Banyuwangi tahun 1998.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here