Iran Kirim Rudal ke Pangkalan Militer AS, Donald Trump Minta Berdamai

0
8
konflik iran dan amerika
Iran Kirim Rudal ke Pangkalan Militer AS, Donald Trump Minta Berdamai

elahan.com, Kematian Jendral top Iran, Qasem Suleimani akibat rudal Amerika Serikat pada pekan lalu menimbulkan konflik yang semakin memanas. Ketegangan antar dua negara itu terus berlanjut. Jendral Soleimani meninggal akibat serangan drone militer AS di Baghdad atas perintah Presiden Donald Trump. Membalaskan dendamnya negara syiah itu membalas dengan menghujani markas militer pasukan Amerika dengan puluhan rudal.

Atas balasan itu, tak disangka Donald Trump malah menyatakan siap berdamai. Trump mengklaim, ingin ada kesepakatan yang membuat negara syiah itu tumbuh dan sejahtera. “AS siap merangkul perdamaian bersama mereka yang menginginkannya,” kata Donald Trump. Pengamat Timur Tengah Yon Machmudi mengatakan bahwa Amerika Serikat tampak bergeming atas serangan balikan dan potensi perang yang lebih besar.

Meskipun kekuatan militer Amerika jauh lebih besar, tetapi kedekatan negara lawan dengan Rusia dan China tidak bisa dikesampingkan. Gagalnya misi AS di Suriah juga tidak lepas dari kuatnya dukungan Rusia kepada rezim Bashar al-Asssad. Yon menilai, strategi AS melalui ancaman nampaknya tidak berhasil. Trump salah hitung strategi dengan melakukan pembunuhan terhadap petinggi dari negara yang berdaulat. Itu merupakan suatu cara yang tidak lazim dalam hubungan internasional.

Amerika hingga saat ini belum melakukan retaliasi terhadap serangan ke pangkalan militer mereka di Irak. Serangan itu diketahui memang tidak menjatuhkan korban jiwa. Ada fakor-faktor lain yang menyebabkan Trump memilih tidak ingin berperang. Faktor itu antara lain adalah politik dalam negeri AS, pertimbangan negara sekutu AS di Timur Tengah, dan kepentingan investasi. 

Berikut tiga alasan Donald Trump tak mau berperang melawan Iran: 

1. Pemilu AS Sudah Dekat

Presiden Donald Trump akan segera mengakhiri periode pertamanya sebagai presiden. Badai kontroversi dan upaya pemakzulan berhasil ia lewati dengan selamat sampai saat ini. Faktor pemilu itulah yang membuat Donald Trump memilih enggan berperang. Partai Demokrat sebagai oposisi menolak berperang dengan negara islam itu. 

2. Sekutu AS Tolak Perang

Para sekutu AS di Timur Tengah tidak menghendaki adanya peperangan. Dikhawatirkan perang bisa berdampak ke negara mereka.

3. Investasi Donald Trump

Terakhir, faktor investasi menjadi penghalang terjadinya perang. Presiden Donald Trump pun punya kepentingan investasi di Timur Tengah. Perusahaan The Trump Organization tercatat memiliki hotel dan klub Golf di Dubai.

Memanasnya hubungan Iran dan Amerika Serikat (AS) juga dikhawatir akan berdampak pada negara-negara lain di Dunia, khususnya Indonesia. Berikut ini sejumlah dampak yang diperkirakan akan menerpa Indonesia akibat konflik tersebut :

1. Harga Minyak Dunia Naik

Direktur Eksekutif Core Indonesia mengatakan, ‎kenaikan harga minyak dunia akan berdampak pada negara importir minyak, salah satunya Indonesia. Jika harga minyak ‎naik signifkan tentunya maka akan berdampak pada pembentukan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik yang juga mengalami kenaikan.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS melonjak hingga US$ 2,85 atau 4,5 persen ke posisi US$ 65,65. Harga ini merupakan level tertinggi sejak April, sebelum menarik kembali ke US$ 64,11. Benchmark internasional, minyak mentah Brent naik lebih dari 4 persen ke sesi tertinggi US$ 71,75 per barel, tertinggi sejak September, sebelum mundur kembali ke US$ 69,86. Konflik kedua negara ini diprediksi berpotensi bisa membuat West Texas Intermediate (WTI) berada di atas US$ 70.

2. Nilai Tukar Rupiah Melemah

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak fluktuatif di sektor perdagangan pada Rabu, 8 Januari 2020. Rupiah dibuka di level Rp13.930 per US$ atau melemah dibanding perdagangan sebelumnya di Rp 13.878 per US$. Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jaka

rta pada Rabu berpotensi melemah menembus Rp14.000 per US$.

Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Rabu, mengatakan, Serangan balasan tersebut bisa memicu aksi saling membalas dan bisa berujung ke perang di Timur Tengah. Dia memperkirakan rupiah pada hari ini akan bergerak di kisaran Rp13.900 per US$ hingga Rp14.050 per US$.

3. Investasi Terganggu

Berdasarkan berita tempo.co, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada kamis, 9 Januari diperkirakan masih akan melemah yang diperngaruhi perangnya dua negara tersebut. Pada rabu, 8 Januari 2020 IHSG melemah 0,86% didorong sektor industri dasar dan perkebunan yang masing-masing melemah 2,15% dan 1,55%.

Diperkirakan IHSG bergerak pada rentang resistance 6,245 hingga 6,263 dan rentang support 6,199 hingga 6,213. Beberapa saham yang direkomendasikan untuk dicermati oleh investor antara lain ANTM, CPIN, dan SCMA.

4. Harga Emas Melonjak

Harga emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange ditutup lebih tinggi untuk sesi ke-10 berturut-turut pada hari Selasa 7 Januari 2020 kemarin, karena mengkhawatirkan tentang ketegangan geopolitik di Timur Tengah, mendorong pembelian logam mulia dan aset aman (safe haven).

Dikutip dari Antara, emas dan aset aman lainnya semakin menguntungkan pasca-meninggalnya Soleimani, yang menurunkan minat investor terhadap aset yang dianggap berisiko dan mendorong pembelian aset tradisional yang aman seperti emas. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, perang Iran dan Amerika Serikat ini berdampak pada harga emas dan dolar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here