Iskandar-Ronald, Dua Pemuda Saksi Kerusuhan Ambon

0
41
Iskandar-Ronald, mantan tentara anak kerusuhan ambon
Iskandar-Ronald, mantan tentara anak kerusuhan ambon

Elahan.com, Kerusuhan Ambon yang pecah di tahun 1999 tentu saja akan menjadi bekas sejarah kelam yang akan selalu terkenang. Kasus kesadisan dan kebengisan pada lawan yang berbeda keyakinan ini terjadi selama bertahun-tahun.

Pada saat itu, membunuh dengan senjata, senjata api rakitan, mengebom, membakar, dan melakukan hal-hal sadis lainnya taanpa rasa bersalah, seolah-olah menjadi mesin pembunuh yang menjadi bagian hidup sehari-hari anak-anak di lokasi konflik saat iut.

Kebencian yang membara yang mengatasnamakan agama, Islam dan kristen, ini membuat kehidupan mereka terkepung dengan satu tujuan: membunuh semua musuh beda agamanya. Hanya ada dua pilihan saat itu, dibunuh atau membunuh.

Di antara anak-anak pada kerusuhan Ambon pada masa itu ada Ronald Regang dan Iskandar Slameth. Keduanya pernah menjadi garda depan ketika konflik Ambon, namun sekarang sudah menjadi sahabat. Mereka berjuang keras membuang rasa benci dan trauma ketika harus mengingat kembali orang-orang yang mereka bunuh. Serta mengenang kawan yang menjadi korban pada kerusuhan tersebut.

Ronald dan Iskandar sama-sama pernah membunuh dengan alibi membela agama, iman, dan juga kelompok masing-masing. Bahkan dua pemuda ini pernah saling benci sebelum akhirnya bertemu di sebuah ruangan pascakonflik dan menjadi sahabat hingga sekarang.

Di satu malam, Ronald bercerita masih sakit ketika harus mengingat kembali aksinya saat menjadi garis depan pada kerusuhan berdarah itu. bahkan trauma masih terus menghantuinya, wajah-wajah orang yang sudah dibunuhnya selalu terlintas dalam mimpinya.

Ronald bercerita, saat awal 2000 itu, usianya baru menginjak 10 tahun. Namun pilihan hidup yang dihadapinya sungguh berat, dibunuh atau membunuh agar tetap bisa bertahan hidup.

Ronald saat itu tinggal bersama orang tua dan saudaranya di Ternate. Ibu dan adiknya sempat mengungsi ke Manado sehingga membuat mereka terpisah sebelum akhirnya pindah ke Ambon. Ronald yang menyusul belakangan tiba di pelabuhan di Teluk Ambon pada akhir tahun 1999. Kerusuhan Ambon sendiri pecah pada 19 Januari 1999.

Kondisi kerusuhan ambon
Kondisi kerusuhan ambon

Di pelabuhan khusus agama kristen tersebut, kapal minyak yang tiba langsung dirazia untuk mencari umat muslim. Ronald mengingat lagi, katanya mayat-mayat ditumpuk, baik di kiri atau di kanan, semuanya hanya mayat. Aroma-aroma tak sedap menghampiri indera penciuman di sepanjang jalan, mayat di bakar, ada juga yang membengkak.

Hampir sama dengan Ronald, Iskandar Slameth pada Idulfitri bertepatan pada 19 Januari 1999, seorang pemuka masyarakat muslim Ambon tewas dipanah. Sontak perayaan lebaran itu langsung diwarnai kepanikan.

Ayah Iskandar memutuskan untuk pindah ke kampung Hitu yang menjadi basis komunitas muslim. Tentu saja perjalanan menuju Hitu tersebut penuh dengan ancaman dan berisiko karena harus melewati whampir 70 persen wilayah Kristen. Iskandar juga bercerita bahwa tidak ada tentara atau polisi yang mau menemani perjalanan mereka.

Iskandar mengingat kembali momen 20 tahun yang lalu itu. dia bercerita. Saat melewati kawasan kristen, ada saudara kristen yang menolong sehingga Iskandar dan keluarga bisa sampai ke kampung Hitu dengan selamat.

Sudah beberapa bulan menetap di kampung, Iskandar memutuskan kembali ke Ambon ketika mengetahui kakaknya terkena bom. Tersulut emosi, dia akhirnya ikut membunuh untuk pertama kali.

Iskandar bercerita, ketika itu ada orang yang ingin membunuhnya namun tembakannya meleset. Itulah saat ketika Iskandar benar-benar ada di posisi “dibunuh atau membunuh”.

mengingat kembali kerusuhan ambon
mengingat kembali kerusuhan ambon

Setelah membunuh, Iskandar merasa trauma. Dia mandi hingga bersih dan salat sunah untuk menenangkan diri.

Namun, di perjalanan selanjutnya, dia selalu membawa bom dan senjata untuk menjaga dirinya. Dia juga bercerita bahwa dia seperti dididik untuk mendengarkan suara bom dan senjata setiap hari. Apalagi dia juga sudah membunuh orang.

Bahkan saat kerusuhan Ambon tersebut, Iskandar bergabung dengan pasukan Jihad, sebutan untuk pasukan muslim Ambon. Ada dua kelompok lain yaitu, Laskar Jihad (kelompok di luar Maluku), dan Mujahidin (kelompok luar Indonesia yang menempa ideologi bertemput).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here