Jejak Para Wijayanto, Pemimpin Teroris Jemaah Islamiah yang Ditangkap

0
53
Para Wijayanto, pemimpin Jemaah Islamiah ditangkap
Para Wijayanto, pemimpin Jemaah Islamiah ditangkap

Elahan.com, Laporan majalah Tempo edisi 13 Juli 2019, ada laporan mengenai pimpinan Jemaah Islamiah (JI), Para Wijayanto, yang ditangkap Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri pada 28 Juni 2019. Para dibekuk di Hotel Adaya Jalan Raya Kranggan, Jatisampurna, Bekasi. Bersama Para, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri juga meringkus istrinya, Masitha Yasmin dan Bambang Suyoso, tangan kanannya. Bambang ini juga berperan sebagai penghubung amir dengan orang yang direkrut serta kader yang akan dikirim ke Suriah.

Ternyata, Para memiliki rekam jejak yang cukup panjang ketika berada di jaringan teroris JI ini. Para ternyata sudah bergabung di dunia terorisme bahkan sejak sebelum tahun 2000. Menurut penjelasan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo, Para Wijayanto alias Abang ini kembali ke Indonesia tahun 2000 setelah menyelesaikan pelatihan militer terorisme di Moro, Filipina. Dia merupakan alumni angkatan ke-3 dari pelatihan militer di Moro.

Semenjak itulah, Para alias Adji Pangestu alias Abu Askari alias Ahmad Fauzi Utomo alias Ahmad Arief tersebut aktif dalam struktur organisasi terorisme Jemaah Islamiah (JI).

Para ternyata memiliki kemampuan yang kuat selama menjalani pelatihan militer di Moro, mulai dari bidang intelijen hingga urusan merakit bom. Para Wijayanto juga menjadi salah satu kader JI asal Indonesia terbaik.

Aksinya di dunia teroris dimulai pertama kali pada 24 Desember 2000 dalam serangan teror bom sejumlah gereja ketika malam natal. Saat itu aksi Para dilakukan bersama Umar Patek. Dilanjutkan dengan aksi teror bom Bali I pada 2002 yang menewaskan  202 orang dan 209 orang lainnya luka-luka.

Para Wijayanto ditangkap
Para Wijayanto ditangkap

Tentu saja kemampuan Para dalam merakit bom tidak diragukan lagi. Terlebih Para juga pernah bergabung dengan Ali Ashari dan Noordin M Top.

Tidak sampai di situ, pada 2005-2007, Para ternyata juga terlibat dalam kerusuhan yang terjadi di Poso, Sulawesi Tengah. Pada kerusuhan yang menewaskan 14 warga sipil dan dua anggota Polri, Jemaah Islamiah (JI) menghilang dan berfokus untuk membangun kekuatan untuk aksi-aksi selanjutnya. Sementara saat ini JI lebih fokus untuk merekrut orang untuk bergabung dengan jaringannya.

Bahkan Para juga dibilang aktif untuk mengirimkan kadernya ke Suriah. Terhitung ada enam kelompok yang sudah dikirim dengan masing-masing kelompok beranggotakan 14 orang. Namun, tidak semua yang dikirim berhasil sampai ke Suriah, ada juga yang dideportasi dan dipulangkan ke Indonesia.

Demi memperkuat jaringannya, Para dan anggotanya membangun perkebunan kelapa sawit di wilayah Kalimantan dan juga Sumatera untuk membiayai kegiatan JI. Untuk setiap anggota yang bergabung, akan diberikan gaji sekitar Rp 10 – Rp 15 juta.

Dua hari berselang, tepatnya pada 30 Juni sekitar pukul 11.45 WIB, Polisi membekuk Abdurrahman, di perumahan Griya Syariah, Blok G, Kelurahan Kebalen, Bekasi. Abdurrahman ini adalah orang yang berhasil di rekrut jaringan Para bergabung dengan JI dan juga orang kepercayaannya untuk menggerakkan jajaran JI di Indonesia.

Di hari yang sama, polisi juga menangkap Budi Tri alias Feni alias Haedar alias Gani sekitar pukul 14.15 WIB di Jawa Timur tepatnya di daerah Pohijo, Sampung, Ponorogo. Budi juga merupakan orang penting, yakni sebagai penasihat Para dan penggerak jajaran JI wilayah Jawa Timur.

Jemaah Islamiah (JI) pernah dibubarkan tahun 2008. Setelahnya Para bersama tokoh lainnya membentuk struktur yang baru sehingga organisasi menjadi lebih sederhana. Hal ini diungkapkan oleh Nasir Abbas, mantan napi terorisme yang pernah menjadi mentor Para ketika menjalani latihan militer di Filipina.

Para menjadi pemimpin JI setelah amir dari JI berturut-turut ditangkap polisi, mulai dari Abu Bakar Ba’asyir, Abu Rusdan, Adung, dan Zakarsih.  Pemimpin JI yang ditangkap polisi, kepemimpinannya akan langsung gugur dan digantikan oleh tokoh lain yang dianggap pantas oleh anggota organisasi yang masih tersisa. Ada beberapa indikator penilainnya. Mulai dari tingkat senioritas serta pengalaman tempur. Dan Para Wijayanto memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin JI.

Seperti yang dilaporkan oleh Majalah Tempo pada edisi 13 Juli 2019, Para Wijayanto diberikan gelar blacksmith yang berarti julukan bagi orang yang ahli menempa besi menjadi senjata di JI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here