Kekecauan Kudeta Myanmar, Kelompok Etnis Bersenjata Bersatu

0
3
Myanmar
Kekacauan Kudeta Myanmar

elahan.com, Menghadapi kekacauan di Myanmar, sejumlah kelompok milisi etnis menyatakan siap bersatu memenghadapi pasukan junta militer yang melakukan kudeta. Hal ini tentu kekhawatiran terjadinya perang saudara.  Kelompok tersebut merupakan gabungan dari tiga kelompok etnik bersenjata, yaitu Arakan Army  (AA), Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar (MNDAA), dan Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang (TNLA).

Ketiganya membentuk aliansi yang dinamakan Brotherhood Alliance alias Persaudaraan Aliansi. Brotherhood Alliance menyatakan, pihaknya siap bergabung dengan seluruh kelompok etnik jika pembunuhan brutal terhadap demonstran anti-kudeta terus berlanjut. Pada Senin (29/3/2021), Brotherhood Alliance mengutuk junta militer Myanmar saat korban tewas Myanmar mencapai 510 orang di seluruh negeri.

AA merupakan kelompok etnik bersenjata yang memperjuangkan otonomi lebih besar di Negara Bagian Rakhine. AA juga telah menjadi salah satu kekuatan paling tangguh menghadapi militer disana selama dua tahun terakhir. Pertempuran antaranya terus meningkat sejak akhir 2018 hingga tahun 2020. Konflik telah mengorbankan ratusan warga sipil dan menyebabkan lebih dari 200.000 orang mengungsi.

Juru bicara kelompok Arakan Army atau AA, Khaing Thukha menyampaikan pada The Irrawaddy bahwa sudah saatnya keompok etnik bergandengan tangan melindungi warga sipil yang ditindas oleh junta militer.  

“Kita harus melakukan yang terbaik untuk melindungi nyawa dan harta benda orang-orang yang tertindas,” kata Khaing.

Menurutnya, pasukan keamanan Myanmar memperlakukan warga sipil dengan sangat kejam. Seperti warga sipil yang tidak bersalah kemudian ditembak secara brutal dan dibunuh oleh militer setiap harinya. Khaing mengatakan bahwa AA mengutuk keras tindakan tidak manusiawi tersebut.

Sebelum terjadi kudeta Myanmar, Brotherhood Alliance telah merundingkan perjanjian antara setiap anggotanya dan militer untuk menghentikan pertempuran. Mereka mengumumkan gencatan senjata sepihak untuk mendukung negosiasi. Namun setelah kudeta militer, mereka memperpanjang gencatan senjata sepihak sampai dengan 31 Maret. Namun kini, Juru bicara TNLA Mayor Mai Aik Kyaw menyatakan bahwa Brotherhood Alliance sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri gencatan senjata sepihak.

“Kami mengutuk tindakan keras (yang dilakukan junta militer Myanmar). Kami juga berduka bersama dengan keluarga para pengunjuk rasa yang tewas,” sambung Mai.

TNLA juga mengatakan, junta militer sangat bertanggung jawab atas kekerasan terhadap demonstran, termasuk penembakan dan pembunuhan warga sipil. Mai menambahkan, kelompok tersebut akan terus bekerja dengan anggota aliansi lainnya untuk melindungi warga sipil. Di sisi lain, kelompok etnik bersenjata Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA) terus melancarkan serangan terhadap militer dan polisi di Negara Bagian Kachin dan Negara Bagian Shan sejak 11 Maret.

KIA menyatakan bahwa serangan tersebut upaya mendukung rakyat melawan junta militer yang melakukan kudeta pada 1 Februari. Kejadian itu dilakukan setelah dua orang warga sipil ditembak mati pasukan keamanan di ibu kota Negara Bagian Kachin, Myitkyina, pada 8 Maret.

Baru-baru ini, Brigade Kelima dari Serikat Nasional Karen (KNU) menyerbu pangkalan Tatmadaw di distrik Papun, Negara Bagian Karen. KNU dan beberapa kelompok etnik bersenjata lainnya juga menolak undangan rezim untuk menghadiri Hari Angkatan Bersenjata pada Sabtu (27/3/2021). Pemimpin KNU Padoh Saw Mutu Say Poe mengatakan, kelompok itu hanya mau bertemu dengan pemimpin junta militer Jenderal Min Aung Hlaing jika Tatmadaw berhenti membunuh warga sipil dan membebaskan demonstran yang ditahan.

Kekacauan masih terus dirasakan di Myanmar hingga ditakutkan terjadinya perang saudara. Hal ini juga sudah menyita perhatian berbagai negara. Tak hanya itu PBB pun ikut turun tangan mengirimkan utusannya untuk menyudahi kekacauan yang terjadi disana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here