Kenapa Pasukan G30S/PKI dengan Mudah Dihentikan? Berikut 3 Faktanya

0
21
Fakta mengenai penyerangan G30S/PKI
3 Fakta-fakta mengenai penyerangan G30S/PKI

Elahan.com, Tanggal 30 September setiap tahunnya, dikenang semua masyarakat Indonesia sebagai hari kelam yang tercatat dalam sejarah. Adalah gerakan G30S/PKI, pengkhianatan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang telah menculik dan membunuh enam jenderal dan seorang perwira TNI AD.

Tragedi berdarah itu akan selalu diingat. Meskipun gerakan tersebut dengan waktu yang singkat berhasil dihentikan kurang dari 24 jam. Bagaimana kondisi dan situasi saat itu? Berikut faktanya.

1. Pasukan tidak banyak

Pasukan PKI yang datang dikabarkan lengkap. Ada satu batalyon Cakrabirawa, satu batalyon Pasukan Gerak Tjepat, satu batalyon dari Brigif I Kodam Jaya, Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP), serta Batalyon 530 Raiders Jawa Timur dan Batalyon 454 Raiders Jawa Tengah, yang masing-masing batalyon berkekuatan 500-700 orang. Pasukan ini juga dilengkapi oleh 2.000 sukarelawan yang sudah dilatih di Lubang Buaya.

Ternyata, pasukan yang menyerang tersebut tidak sebanyak yang disebutkan. Mereka hanyalah sekitar satu kompi Cakrabirawa yang terdiri dari 60 orang. Ditambah anggota Brigif I juga 60 orang saja. Kemudian ada 700 personel dari Pasukan Pertahanan Pangkalan, dan masing-masing 500 orang dari batalyon 530 dan 545. Sedangkan dari Pasukan Gerak Tjepat tidak ada anggota.

2. Tidak adanya logistik makanan

Fakta G30S/PKI
Fakta-fakta G30S/PKI

Pasukan yang dikomandoi oleh Letkol Untung ini dengan mudah bisa ditumpas karena faktor kurangnya logistik. Ini menjadi salah satu kesalahan fatal. Pasukan Bimasakti tidak diberikan nasi bungkus. Padahal Yon 530 dan 545 berjaga seharian di Lapangan Monas.

Dari pagi hingga sore pada tanggal 1 Oktober 1965, pasukan  tersebut tak diberi makan. Sehingga dengan mudah Yon 530 dibujuk kembali ke Kostrad oleh utusan Soeharto.

Saat malamnya, ada gagasan untuk menyerang kota. Terlambat, sebab Yon 530 sudah bergabung dengan Kostrad dan Yon 545 sudah berada di sekitar Halim. Tentu penyerangan tidak mungkin diperintahkan lagi.

3. Perencanaan yang tidak bagus

Kekalahan pasukan dari Untung ini juga disebabkan oleh buruknya perencanaan. Pasukan yang datang tidak sesuai dengan perencanaan sehingga pasukan ini terpaksa dibagi menjadi tiga bagian. Pasukan Pasopati (Cakrabirawa dan Brigif) yang bertugas menculik para jenderal, pasukan Bimasakti (Yon 530 dan Yon 545) yang tugasnya mengawal monas dan sekitarnya serta merebut RRI dari Telkom, dan pasukan Gatotkaca yang tugasnya menjaga Lubang Buaya (PPP dan sukarelawan).

Tidak jelas siapa yang memegang kendali. Brigjen Soeparfjo dan Kolonel Latief, yang pangkatnya lebih tinggi, malah menjadi wakilnya Untung. Saat Presiden Soekarno memerintahkan agar Soepardjo menghentikan gerakan, mereka setuju. Kemudian, gerakan ini bingung sebab tidak punya rencana cadangan.

Rencana operasi G30S/PKI ini terlalu dangkal dan tidak jelas. Tujuannya hanya berfokus untuk mengambil tujuh jenderal saja. Sehingga gagal atau berhasilnya tidak jelas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here