KPK Sebut Tas Sekda Papua Berisi Duit Korupsi Saat Datangi Polda Metro

0
33
Logo Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
Logo Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). istimewa

elahan.com – Sekretaris Daerah (Sekda) Papua Hery Dosinaen penuhi Panggilan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Metro Jaya, untuk dicek sebagai saksi atas kasus sangkaan penganiayaan pegawai KPK, di Hotel Borobudur, Jakpus, Sabtu (2/2).

Dalam kedatangannya, Hery tak mau komentar ketika awak media menanyakan permasalahan ini. “Nanti ya nanti,” ungkapnya, Senin (18/2).

Hery mengatakan  dirinya akan menyatakan usai pemeriksaan. “Nanti ya mas setelah pengecekan baru (wawancara),” ungkapnya.

Kuasa Hukum Pemprov Papua Stefanus Roy Rening menuliskan pihaknya akan memberikan ransel hitam yang disinggung penyidik KPK berisi uang hasil korupsi. Tas itu dibawa kliennya saat berada di Hotel Borobudur, Jakpus, Sabtu (2/2).

Roy mengatakan “Tas berikut yang menjadi sasaran utama OTT malam itu, yang dicurigai mengandung uang. Padahal, ketika malam tersebut juga diperiksa tidak ada dana yang dimaksud”

Roy menerangkan, ransel itu dipegang oleh Kabid Anggaran Nuswea. Ransel itu dimulai langsung di depan Gilang Wicaksono, kemudian dibuang ke mukanya dan ditunjukkan bahwa tidak terdapat barang bukti yang dicurigai KPK.

Di samping tas ransel hitam, Roy juga membawa kitab risalah rapat. Buku itu sebagai bukti pekerjaan yang berlaku di Hotel Borobudur tersebut adalah agenda sah pemerintahan.

Roy mengungkapkan “Jadi pertemuan malam itu ialah pertemuan legal, dan difasilitasi oleh DPR Papua dengan mengundang Gubernur Papua dan mengundang Kementerian Dalam Negeri Dirjen Otonomi Keuangan Daerah. Ini bakal kami serahkan”

Kuasa hukum Hery ini pun mempunyai barang bukti lainnya berupa screenshot grup WhatsApp kepunyaan pegawai KPK, Gilang Wicaksono yang tiba-tiba dihapus secara otomatis. Menurutnya, pihak KPK menghilangkan barang bukti isi pesan WhatsApp berhubungan rencana Operasi Tangkap Tangan Gubernur Papua.

“Tapi apa yang terjadi. Setelah mendarat di Polda, WhatsApp Gilang sudah laksana ini (hilang), disedot. Ini whatsappnya Gilang. Jadi seluruh data yang terdapat di dalam HP ini ngeblank. Kami inginkan buka ulang ternyata telah blank. Sehingga terdapat apa teman-teman KPK menghilangkan barbuk ini?,” bebernya.

“Tapi hari ini kami bakal serahkan barang bukti ini, meminta supaya WA Gilang dapat diaudit forensik oleh Reskrimsus sampai-sampai ditemukan adanya konspirasi itu,” ungkapnya.

Sebelumnya, permasalahan penganiayaan tersebut terungkap setelah di antara penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai nama Gilang Wicaksono menciptakan laporan ke Polda Metro Jaya, Minggu (3/2).

Kronologis penganiayaan tersebut terjadi ketika Gilang dan penyelidik KPK lainnya, Indra mengerjakan pengintaian terhadap Gubernur Papua, Lukas Enembe, yang sedang mengerjakan rapat bareng Ketua DPRD Papua, anggota DPRD Papua, Sekretaris Daerah (Sekda) dan sebanyak pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, pada Sabtu (2/2).

Pengintaian itu dilaksanakan karena kedua penyelidik KPK tersebut tengah mendapat tugas untuk mencari adanya sangkaan korupsi perkiraan di Papua.

Dalam permasalahan ini, polisi telah menambah status permasalahan penganiayaan tersebut dari investigasi ke etape penyidikan. Sementara itu, polisi belum memutuskan status tersangka berhubungan insiden penyiksaan yang dirasakan dua penyelidik KPK itu.

Indra Mantong Batti selaku anggota Tim Biro Hukum KPK bareng dengan Muhamad Gilang Wicaksono selaku penyelidiki KPK mengayunkan laporan bersangkutan permasalahan penganiayaan di Hotel Borobudur, Jakpus, ke Polda Metro Jaya. Laporan tersebut telah terdaftar semenjak Minggu (3/2) pukul 14.30 dan diterima oleh Jatanras Ditreskrimum.

Dalam laporan tersebut juga pihak terlapor yang masih dalam lidik tersebut dijerat dengan Pasal 170 KUHP dan atau Pasal 211 KUHP dan atau Pasal 212 KUHP.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here