KPU Simulasikan Pemungutan dan Penghitungan Suara

0
68
Logo Komisioner Pemilihan Umum (KPU)
Logo Komisioner Pemilihan Umum (KPU). Istimewa

Elahan.com – KPU atau Komisi Pemilihan Umum melangsungkan Simulasi Pemungutan dan Penghitungan Suara Pemilu Serentak 2019.

Simulasi dilangsungkan di halaman kantor KPU, dibuntuti oleh komisioner dan staf Komisi Pemilihan Umum yang berjumlah 300 orang.

“Hari ini kita mengerjakan simulasi, mudah-mudahan simulasi ini dapat merepresentasikan kejadian pengambilan suara bahwasannya di TPS,” ungkap Arief Budiman selaku Ketua KPU, pada Selasa (12/3).

Simulasi dibuka pada pukul 10.00 Waktu Indonesia Barat (WIB). Namun, diibaratkan TPS  atau Tempat Pemungutan Suara dimulai pada pukul 07.00 WIB cocok dengan aturan yang berlaku.

TPS dilengkapi dengan lima kotak suara dan empat bilik pencoblosan. Di depan TPS, tertempel kumpulan DPT atau Daftar Pemilih Tetap yang berjumlah 300 nama.

Ada pula tujuh orang staf KPU yang beraksi sebagai KPPS atau Kelompok Panitia Pemungutan Suara. Ada pula staf yang berperan sebagai saksi.

Sementara itu, terlihat sebanyak petinggi KPU duduk di kursi antrean pemilih yang disediakan di dalam Tempat Pemungutan Suara.

Sebelum pengambilan suara dimulai, petugas KPPS dan saksi melangsungkan rapat pendahuluan TPS.

Rapat dimulai dengan pemungutan sumpah petugas KPPS yang ditonton saksi dan pemilih yang telah hadir.

Selanjutnya, petugas KPPS membuka satu per satu kotak suara yang sebelumnya masih terbungkus tersegel.

Petugas menerbitkan sejumlah surat suara dari masing-masing kotak suara guna dihitung.

Satu kotak suara mewakili satu tingkatan pemilihan, yakni Presiden dan Wakil Presiden, DPD, DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota.

Jumlah surat suara mengacu pada jumlah DPT diperbanyak dua persen surat suara cadangan. Ada 300 DPT diperbanyak enam surat suara cadangan, sampai-sampai total terdapat 306 surat suara di masing-masing tingkatan pemilihan.

Petugas KPPS lantas menjelaskan teknis pengambilan suara, jenis surat suara, sampai hal-hal yang dilarang dilaksanakan saat pengambilan suara.

“Nanti pemilih memakai alat coblos yang telah disediakan, jangan merobek unsur surat suara, nanti jadi tidak sah. Pemilih mesti mengecek surat suara, dijamin sudah ditanda tangan ketua KPPS dan tidak rusak,” ungkap petugas KPPS.

“Tidak boleh memakai HP kamera ke bilik, untuk yang perlu pendamping, pendamping mesti tanda tangan form c3 dan merahasiakan opsi pemilih,” tambahnya.

Petugas KPPS memanggil satu per satu nama pemilih. Mereka dipanggil berdasar urutan kedatangan. Di urutan kesatu, petugas memanggil Arief Budiman selaku Ketua KPU.

Sebelum menginjak bilik suara, Ia mesti lebih dulu menunjukan eksemplar isian C6 atau undangan memilih, ke petugas KPPS.

Ia lantas diberi lima surat suara, dan dipersilahkan menginjak salah satu bilik suara.

Selesai mencoblos, Arief memasukan lima surat suara ke lima kotak yang berbeda, cocok dengan tingkatan pemilihan. Proses ini ditolong oleh petugas KPPS.

Selesai proses tersebut, Ia mengarah ke ke petugas KPPS beda dan mencelupkan di antara jarinya ke tinta berwarna ungu.

Proses pengambilan surat suara dilangsungkan hingga pukul 13.00 WIB. Setelahnya, KPU bakal dilanjutkan dengan penghitungan suara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here