Larangan Cadar dan Celana Cingkrang, Haruskah?

0
26
Larangan Cadar dan Celana Cingkrang, Haruskah?
Larangan Cadar dan Celana Cingkrang menuai pro-kontra di masyarakat, haruskah hal ini dilakukan?

elahan.com, Kementerian Agama (Kemenag) sempat menghebohkan masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim dengan wacana larangan cadar dan celana cingkrang. Meskipun telah dikonfirmasi oleh Zainut Tauhid Saadi, Wakil Menteri Agama (Wamenag), wacana ini akan diberlakukan di lingkungan Kemenag. Tujuannya untuk penertiban dan penegakan disiplin pegawai atau aparatur sipil negara (ASN) dalam tata cara berpakaian.

Ketentuan berpakaian telah diatur dengan tetap mengindahkan nilai-nilai etika, estetika dan tidak bertentangan dengan ajaran agama, hak privasi ataupun hak asasi seseorang. Meskipun telah dipertegas demikian, wacana larangan cadar dan celana cingkrang masih menuai pro dan kontra di masyarakat.

Sebagian masyarakat merasa kontra dengan aturan ini, karena menganggap larangan cadar dan celana cingkrang sebagai bentuk anti radikalisme. Padahal tidak bisa dikaitkan begitu saja. Selain itu, pemerintah juga dianggap melanggar hak privasi masyarakat, baik dalam hak berpakaian maupun hak menjalankan ajaran agama. Sebab diketahui bahwa penggunaan cadar dan celana cingkrang merupakan anjuran dalam islam.

Larangan Cadar dan Celana Cingkrang
Wamenang mengatakan larangan cadar dan celana cingkrang berlaku di lingkungan Kemenag

Namun, bagaimanakah perintah penggunaan cadar dan celana cingrkrang yang sebenarnya? Berikut penjelasannya:

1. Cadar

Allah SWT. Berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 31, ditujukan kepada para muslimah untuk menjaga:

  1. Pandangan, maksudnya agar melihat hal-hal yang baik,
  2. Kemaluan, maksudnya adalah seluruh organ reproduksinya,
  3. Aurat, maksudnya tidak menampakkan seluruh anggota badan perempuan kecuali yang biasa nampak.

Namun, ayat ini tidak menyebutkan secara rinci maksud dari anggota badan yang biasa nampak. Inilah yang menyebabkan perbedaan pendapat di antara ulama. Mayoritas ulama menyatakan bahwa yang dimaksud adalah wajah dan kedua tangan. Keduanya merupakan anggota badan yang biasa nampak ketika berinteraksi. Wajah merupakan identitas pertama dalam mengenali seseorang. Sedangkan tangan, sering digunakan dalam melakukan interaksi.

Ibnu Hajar dari kalangan Syafi’iyyah mengambil pendapat dari Qadhi Iyadh dalam Tuhfatu al-Muhtaj Syarh al-Minhaj menuliskan bahwa telah tejadi ijma’ yang menyatakan seorang perempuan tidak wajib menutup wajahnya. Karena menutup wajah hukumnya sunnah. Oleh karena itu laki-laki yang berada di depannya juga disunnahkan memalingkan pandangan karena itulah perintah Al-Quran.

Golongan Hanafiyyah mewajibkan cadar karena berpendapat wajah termasuk anggota yang wajib ditutup. Namun kebanyakan ulama berpendapat hukum penggunaan cadar adalah sunnah karena wajah bukan termasuk aurat. Penggunaan cadar sebenarnya merupakan tradisi yang berlaku di Arab. Untuk itu perlunya melihat konteks dalam menyikapi hal ini. Jangan sampai pengguna justru mendapatkan tekanan karena cadar tidak bisa diterima masyarakat setempat. Apalagi sampai menyebabkan perpecahan antar umat islam.

2. Celana Cingkrang

Penggunaan celana cingkrang bermula untuk menghindari larangan Nabi Muhammad SAW. dalam sebuah hadist dari Abdullah bin Umar RA. Dikatakan bahwa Rasulullah SAW melarang untuk memanjangkan pakaiannya hingga ke tanah karena sombong, karena maka Allah SWT tidak akan melihatnya (mempedulikannya) pada hari kiamat. Lalu Abu Bakar sahabat menanggapi bahwa ia telah terbiasa mengenakan baju model panjang seperti itu. Rasulullah SAW menjawab bahwa sesungguhnya Abu Bakar tidak melakukannya karena sombong.

Hadist ini menjelaskan bahwa larangan memanjangkan pakaian dikaitkan dengan sifat sombong. Larangan tidak serta-merta pada modelnya yang menjuntai tapi pada sifat sombong yang mengiringinya. Sehingga memanjangkan pakaian hukumnya boleh-boleh saja, sebagaimana yang Rasulullah katakan pada sahabatnya Abu Bakar. Dan akan haram hukumnya apabila mengenakan pakaian dengan tujuan kesombongan, bahkan meski tanpa memanjangkannya.

Realitanya saat ini, sifat sombong bisa terjadi di pakaian model apapun bukan saja yang panjang menjuntai. Perasaan sombong muncul karena merasa apa yang dikenakan adalah pakaian yang berkelas. Inilah hakikat larangan Nabi Muhammad SAW.

Qadhi Iyadh dalam Nailul Awthar menyatakan bahwa menggunakan semua pakaian yang ukurannya melebihi ukuran biasa, baik luas atau panjangnya hukumnya makruh.  Dalam syariat disebut isbal, yaitu pakaian yang dibuat dan dikenakan melebihi ukuran biasa seperti menjuntaikan pakaian hingga ke bawah atau memanjangkan lengan tangan gamis.

Sehingga tidak tepat mengartikan hadist ini dan larangan isbal hanya pada penggunaan celana cingkrang. Alasannya karena pakaian tidak hanya celana. Tetapi semua jenis pakaian yang dikenakan apabila disertai rasa sombong maka diharamkan.

Untuk itu, larangan cadar dan celana cingkrang akan lebih baik ditanggapi secara dewasa bukan emosional. Masyarakat harus memahami konteks mengapa larangan tersebut dilakukan. Sedangkan pemerintah juga tidak semestinya mengaitkan sesuatu dengan cepat apalagi terhadap isu-isu sensitif. Pemahaman lebih mendalam sebelum mengeluarkan kebijakan menjadi hal yang sangat perlu diperhatikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here