Lockdown di Wuhan Berakhir, Warganya Masih Belum Nikmati Kebebasan

0
30
Lockdown di wuhan berakhir
Lockdown di Wuhan Berakhir, Warganya Masih Belum Nikmati Kebebasan

elahan.com, Setelah masa lockdown dicabut, warga Wuhan, China, mengaku belum sepenuhnya merasakan kebebasan. Setelah hampir tiga bulan lamanya di kota Wuhan menekan penyebaran virus corona dengan memberlakukan lockdown, dan pekan lalu masa itu telah berakhir. Namun sebagian dari  masyarakat di kota yang berisi 11 juta penduduk itu masih merasa belum sepenuhnya bebas seperti biasa.

Salah satunya warga Wuhan yang merasakan itu adalah Zhang yang berumur 50 tahun tinggal di distrik Wuchang. Zhang merasa keadaan pasca lockdown dicabut tidak jauh berbeda dari kondisi sebelumnya. “Kami belum merasakan banyak perubahan, bagi beberapa dari kami, lockdown belum berakhir,” ucap Zhang, dilansir dari The Guardian, Senin (13/4)

Hal itu karena di Wuhan masih terdapat pembatasan berkelanjutan. Seperti banyaknya toko yang tetap tutup, restoran dibuka kembali hanya untuk melayani pembelian melalui jasa pengiriman. Sekolah, bioskop, dan tempat hiburan lainnya juga tetap tutup. Hanya mereka yang memiliki izin dapat pergi secara teratur untuk kembali bekerja.

Terdapat pula pos pemeriksaan konstan di mana penduduk harus menunjukkan kode hijau kesehatan mereka dan mengukur suhu tubuh untuk dapat memasuki suatu kawasan. Zhang mengaku harus melewati empat sesi pemeriksaan kesehatan hanya untuk pergi ke halte bus. Dia pun tidak ingin putrinya yang saat ini belajar di Hong Kong untuk kembali ke Wuhan karena menurutnya kondisi saat ini tidak cukup aman.

“Beberapa orang percaya bencana sudah berakhir, tetapi ada juga orang yang tidak melihatnya seperti itu. Bahaya di sini belum tentu lebih besar daripada di kota-kota Cina lainnya. Dari orang biasa hingga pemerintah, semua orang tahu itu,” ujarnya.

Dosen Ekonomi Politik di Johns Hopkins University berpendapat peningkatan kewaspadaan masyarakat Wuhan itu tak terlepas dari kesalahan pemerintah China dalam merespons awal mula munculnya virus. Salah satunya, kata dia, keterlambatan deteksi awal serta gagalnya peringatan virus lebih dini terhadap masyarakat.

“Orang-orang tidak dapat dengan mudah melupakan kesalahan langkah awal pemerintah dalam menyebabkan krisis, khususnya bagi mereka yang kehilangan orang yang mereka cintai atau bagi yang kesehatannya terdampak,” ucap dia.

Banyak warga masih khawatir tentang jumlah pasien Covid-19 yang terpapar virus tanpa gejala, serta pasien eks positif Covid-19 yang dilepaskan. Beberapa juga khawatir tentang jumlah kasus Covid-19 dari luar negeri, khususnya wisatawan China yang kembali dari negara yang terinfeksi.

Sementara itu, masyarakat yang lain mengatakan mereka ingin kembali bekerja, tetapi masih khawatir tentang kemungkinan penyebaran wabah kedua. Mereka percaya potensi virus masih dapat kembali kapanpun dan di manapun mereka berada. “Kembali normal bukan berarti virusnya hilang,” kata Iris Yao, 41, yang juga tinggal di Hankou.

Seorang pemilik toko mengatakan sebetulnya dia tidak akan kembali bekerja jika dia tidak perlu. Namun Dia terpaksa membuka tokonya kembali karena butuh penghasilan untuk hidup. Terdapat juga beberapa warga yang percaya terhadap pemerintah China. Mereka merasa pemerintah telah menebus kesalahan pada langkah awal penyebaran virus, dan berhasil menangani penyebaran virus Covid-19 di Wuhan.

Menurut Salah satu warga Wuhan lainnya, Ho Fung, bebasnya Wuhan dari lockdown adalah bagian dari upaya pemerintah untuk meyakinkan publik bahwa kehidupan dapat kembali normal, dan pihak berwenang telah mengalahkan virus tersebut. Meski begitu, dampak trauma atas virus masih tetap melekat di masing-masing masyarakat hingga saat ini.

“Pembukaan lockdown di kota Wuhan dimaksudkan untuk mengirim sinyal bahwa China akan kembali melanjutkan bisnis dan pekerjaan secara normal. Tetapi terlepas dari upaya pemerintah itu, penduduk Wuhan masih akan tetap sangat berhati-hati,” ujar Ho-Fung Hung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here