Mengenal HOS Tjokroaminoto, Sang Guru Besar Bangsa

0
5
Tjokroaminoto
Mengenal HOS Tjokroaminoto, Sang Guru Besar Bangsa

elahan.com, Mengulik kisah Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto yang terkenal sebagai guru bangsa. Beliau merupakan salah satu pahlawan nasional yang juga pemimpin abadi Sarekat Islam (SI) sejak tahun 1914. Memperingati hari guru nasional setiap tahunnya di tanggal 25 November, tak lepas dari nama besar Tjokroaminoto yang merupakan guru bagi tokoh-tokoh yang kelak sangat berpengaruh, seperti Sukarno, Semaoen, Musso, hingga Maridjan Kartosoewirjo.

Lahir di Bakun, Madiun, Jawa Timur pada tanggal 16 Agustus 1882. Beliau merupakan putra kedua dari 12 bersaudara. Ayahnya dari R.M Tjokroamiseno yang merupakan seorang asisten bupati. Sedangkan sang kakek R.M. Adipati Tjokronegoro pernah menjadi bupati Ponorogo. Maka tentu sejak lahir Tjokroaminoto merupakan garis keturunan darah biru.

Pada tahun 1902 ia Lulus dari Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Magelang. OSVIA adalah sekolah bagi calon abdi negara pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tamat dari OSVIA, Tjokroaminoto sempat bekerja di kesatuan pegawai administratif di Ngawi.

Suami dari Suharsikin dan ayah dari Siti Oetari (istri pertama Presiden RI-1 Soekarno) ini semasa hidupnya menentang kebijakan-kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Salah satunya adalah penentangannya soal perbudakan. Saat itu, orang pribumi dipekerjakan oleh Belanda layaknya budak. Saat menjadi redaktur koran Bintang Soerabaya, Tjokro membuat pemerintah Hindia Belanda ketakutan. Tjokro mengkritik pemerintah Hindia Belanda melalui tulisannya di surat kabar Bintang Soerabaya dan lainnya.

Surat kabar yang ditulisnya laris dijual dan selalu dibaca oleh beberapa kalangan kala itu. Dari sanalah beliau disebut ancaman bagi pemerintah Hindia Belanda namun langsung dikenal oleh tokoh organisasi pergerakan yang melawan Hindia Belanda. Kemudian ia barulah bergabung dengan organisasi Serekat Dagang Islam (SDI).

Tjokroaminoto merupakan anggota Serekat Dagang Islam (SDI) di Surabaya yang kemudian menjadi ketua cabang. Atas sarannya lah Hadji Samanhoedi merubah nama Serekat Dagang Islam (SDI) menjadi Serekat Islam (SI). Lalu ditahun 1914 ia menjadi pemimpin Central Sarekat Islam (CSI) yang berpusat di Solo. Di tahun pertama kepemimpinan Tjokroaminoto, anggota resmi SI tercatat mencapai 400.000 orang.

Dikenal sebagai guru bangsa, karena darinya lahir tokoh-tokoh bangsa. Salah satu pesannya kepada para muridnya yang masih terkenal hingga kini adalah “Jika kalian ingin menjadi Pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator”.

Rumah tinggalnya saat itu yang berada di Gang Paneleh VII, nomor 29-31, di tepi Sungai Kalimas, Surabaya, sesak oleh para murid yang di kemudian hari menjadi pemimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia. Saat itu rumah kediamannya menjadi rumah kost anak murid yang menimba ilmu darinya semisal; Semaoen, Alimin, Muso, Soekarno, dan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Bahkan, Tan Malaka pernah menimba ilmu darinya.

Tjokroaminoto wafat pada usia 52 tahun di Yogyakarta pada tanggal 17 Desember 1934. Ia dimakamkan di TMP Pekuncen, Yogyakarta, setelah jatuh sakit sehabis mengikuti Kongres SI di Banjarmasin. Salah satu trilogi darinya yang termasyhur adalah Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. Dalam salah satu biografinya yang ditulis Cindy Adams, Soekarno mengenang Tjokroaminoto sebagai idolanya.

Meski tidak sempat menikmati alam kemerdekaan, Tjokroaminoto telah memberikan pengaruh dan sumbangsih bagi gagasan bangsa Indonesia untuk berdiri di atas kaki sendiri. Atas jasa-jasanya, Tjokroaminoto kemudian diangkat menjadi Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno pada tahun 1961.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here