Mengingat Kembali Pelanggaran HAM Periode 1996-1999

0
31
Mengingat kembali pelanggaran ham berat masa lalu
Mengingat kembali pelanggaran ham berat masa lalu

Elahan.com, Kasus pelanggaran HAM pada masa lalu hingga sekarang masih belum menemukan kejelasan kapan akan terselesaikan. 20 tahun pasca reformasi, terdapat sejumlah catatan kelam di ranh hukum dan HAM di negeri ini.

Hingga saat ini tercatat masih ada tujuh kasus pelanggaran akan HAM berat yang masih belum terselesaikan. Kasus ini masih “nyangkut” di Kejaksaan Agung. Seperti kasus Tragedi 1965, Penembakan Misterius (1982-1985), Peristiwa Talangsari di Lampung (1989), Kasus Penghilangan Orang secara Paksa (1997-1998), Kerusuhan Mei 1998, Penembakan Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II (1998-1999), serta Kasus Wasior dan Wamena di Papua (2000).

Tidak hanya itu, kasus intoleransi keagamaan di Indonesia juga semakin meningkat dilihat dari meningkatnya kasus konflik mengenai suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Misalnya konflik antar-agama di Ambon, Maluku, di tahun selama 1999, serta konflik etnis di Sampit, Kalimantan engah selama 2001.

Selain itu, polemik di Papua juga menjadi perhatian. Menurut laporan dari Setara Institute tahun 2016, ada peningkatan pelanggaran HAM yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kasus pelanggaran ham berat masa lalu
Kasus pelanggaran ham berat masa lalu

Pemerintah di bawah presiden Jokowi juga terlihat mengesampingkan masalah pelanggaran HAM serta penanganan konflik sosial politik. Berikut rangkuman konflik terkait SARA dan kasus HAM sepanjang dua dasawarsa terakhir ini.

Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) Berat 1996-1999

Ada pengorbanan besar yang dilakukan saat menggulingkan kekuasaan Soeharto dan rezim orde baru. Aksi demonstrasi yang berusaha menjatuhkan Soeharto itu sebagai pucak kekesalan masyarakat akan banyaknya aksi kekerasan dan pelanggaran akan HAM yang terjadi pada masa “The Smiling General” yaitu dua tahun terakhir kekuasaan Presiden Soeharto.

Ternyata, turunnya Soeharto dari puncak kepemimpinan tidak membuat kasus HAM saat meredam aksi demonstrasi mahasiswa di tahun 1999 sehingga menyebabkan tragedi Semanggi I dan Semanggi II yang juga menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Rentetan peristiwa besar itu termula dari peristiwa yang dikenal dengan ‘Sabtu Kelabu’ pada 27 Juli 1996 yang akan selalu diingat masyarakat. Pada tragedi tersebut terjadi penyerangan terhadap kantor Partai Demokrasi Indonesia karena adanya dualisme partai politik akibat intervensi kekuasaan. Menurut data dari penyidikan Komnas HAM, pada kerusuhan tersebut sedikitnya ada lima orang yang tewas, 23 orang hilang, 149 orang luka-luka, serta kerugian materiil Rp 100 miliar.

Setahun berlanjut, rezim Soeharto menuduh dalang dari peristiwa Sabtu Kelabu 27 Juli 1996 adalah Partai Rakyat Demokratik (PRD). Akibatnya muncul kejadian penghilangan orang secara paksa di tahun 1997-1998 sebanyak 23 aktivis pro demokrasi. Data ini diambil dari penyelidikan Tim Ad Hoc Komnas HAM. Dari 23 aktivis yang hilang itu, hanya 9 orang yang dikembalikan, 1 orang meninggal, dan sisanya masih hilang.

Pada Mei 1998, kasus pelanggaran HAM kembali terjadi saat mahasiswa melakuan demonstrasi di depan kampus Universitas Trisakti, 12 Mei 1998. Aparat keamanan yang bersikap represif mengakibatkan empat orang mahasiswa mennggal serta ratusan yang terluka akibat ditembaki dengan peluru tajam. Lalu muncul  tragedi lain pada 13-15 Mei sehari setelahnya. Pada tragedi inilah adanya berbagai peristiwa seperti perusakan, penjarahan, perkosaan, pembakaran, pembunuhan, serta penghilangan paksa dan penyerangan etnis Tionghoa.

Masih di tahun 1998, terjadi tragedi Semanggi I tepatnya pada 13 November 1998. Demonstrasi ini dilakukan sebagai upaya menolak Sidang Istimewa MPR yang inkonstitusional, meminta presiden mengatasi masalah ekonomi, serta menghapus dwifungsi ABRI. Demonstrasi mahasiswa tersebut dilakukan di dekat kampus Atma Jaya, Semanggi, Jakarta. Lagi-lagi, aparat bertindak represif dengan melakukan penembakan yang menewaskan lima orang mahasiswa.

Kasus pelanggaran HAM masa lalu
Kasus pelanggaran HAM masa lalu yang belum terselesaikan hingga sekarang

Setahun setelahnya,, tepatnya 24 September 1999, lagi-lagi mahasiswa melakukan aksi demonstrasi menolak rencana pemberlakuan Undang-undang Penanggulangan Keadaan Bahaya karena dinilai terlalu otoriter.

Pada aksi yang dikenal dengan Tragedi Semanggi II ini tercatat ada 11 orang korban yang meninggal dunia akibat penembakan oleh aparat.

Menurut Komnas HAM, tragedi pelanggaran HAM antara tragedi Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II memiliki hubungan satu sama lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here