Partai Koalisi Prabowo Akan Ditinggalkan Partai Demokrat dan PAN

0
7
Pertemuan AHY yang merupakan bagian dari partai koalisi Prabowo, dengan Jokowi
Pertemuan AHY yang merupakan bagian dari partai koalisi Prabowo, dengan Jokowi

elahan.com, Koalisi Adil Makmur yang diisi oleh partai koalisi Prabowo – Sandiaga disebut-sebut sudah retak karena isu kepergian PAN dan Partai Demokrat dari koalisi yang mengusung paslon 02 ini.

Juru Bicara BPN Andre Rosiade menyebut koalisi tidak akan melarang siapapun untuk bertahan atau ingin keluar dari koalisi karena itu merupakan hak masing-masing anggota koalisi. Apapun keputusannya, koalisi akn menghormati keputusan tersebut, lanjut Andre.

Seperti yang sudah diketahui, beberapa waktu setelah Pemilu 2019, Ketua Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bertemu dengan presiden Joko Widodo di Istana Negara. Usai adanya pertemuan tersebut, Partai Demokrat digadang-gadang akan merapat pada koalisi Jokowi.

Meski menghormati apapun keputusan partai, Andre berharap agar Partai Demokrat atau PAN bisa menjunjung tinggi etika. Etika yang dimaksud adalah memberitahukan terlebih dahulu jika ingin berpisah. Andre juga menyebutnya dalam pribahasa, jika datang nampak muka, pergi harusnya tampak punggung. Jika ingin pindah, kata Andre, koalisi akan menghormati tetapi berpisahnya juga harus baik-baik. Setidaknya berpamitan terlebih dulu, kata Andre.

Partai Dmeokrat yang tergabung dalam Partai koalisi Prabowo
Partai Dmeokrat yang tergabung dalam Partai koalisi Prabowo

Selain Partai Demokrat, satu lagi partai koalisi Prabowo yang dikabarkan pindah haluan ke koalisi Jokowi – Ma’ruf adalah PAN. Setelah Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan juga bertemu dengan presiden Jokowi setelah pemilihan presiden lalu.

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menanggapi postitif dengan adanya kabar  bergabungnya kedua partai tersebut dalam koalisi Jokowi. Siapapun yang ingin bergabung dipersilakan asalkan punya visi misi yang sama untuk membantu pemerintahan Jokowi-Ma’ruf periode ke depannya.

Cak Imin, panggilan akrabnya, menyebut belum ada pembicaraan yang mengarah pada bergabungnya kedua partai tersebut. Sebab perlu adanya dialog terlebih dahulu, meminta persetujuan dari partai lain dalam koalisi, apakah setuju atau tidak.

Kemungkinan bergabungnya kedua partai tersebut meninggalkan partai koalisi Prabowo juga disampaikan oleh pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin. Ujang mengatakan bahwa peluang ini berkaitan dengan adanya keinginan untuk mendapatkan jatah kursi menteri pada periode mendatang.

Menurut Ujang, yang diinginkan saat berpolitik adalah mendapatkan kekuasaan. Adalah hal wajar jika partai kalah lalu menyebrang dan bergabung dengan kubu yang menang. Kubu yang menang perlu merangkul yang kalah, dan yang kalah tetap membutuhkan yang menang.

Ujang juga memprediksi, menjelang proses penghitungan suara rampung di KPU, partai koalisi Prabowo akan banyak yang jalan sendiri-sendiri, seperti misalnya Partai Demokrat dan PAN.

Pada awal Mei 2019 lalu, Ferdinand Hutahaean, Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat, melemparkan narasi yang memiliki isyarat bahwa Partai Demokrat akan menentukan arah politik setelah mengetahui hasil Pemilu 2019.

Jika Prabowo-Sandi menang, maka partai yang dipimpin SBY ini akan tetap berada dalam koalisi dan mengawal pemerintahan. Namun jika Jokowi-Ma’ruf menang dan terpilih menjadi presiden dan wakil presiden, maka Demokrat akan bergabung dengan koalisi petahana, hanya jika Jokowi mengajak. Pernyataan ini ditanggapi berbeda oleh partai-partai yang tergabung dalam koalisi Jokowi. Tetapi secara umum, semuanya ingin permasalahan ini dibicarakan terlebih dahulu oleh semua anggota koalisi.

Baru-baru ini, Sekretaris Bidang Pendidikan dan Pelatihan DPP PDIP Eva Kusuma Sundari mengeluarkan pernyataan yang turut mengejutkan. Dia menyebut Megawati Soekarnoputri menerima jika Partai Demokrat ingin bergabung dengan koalisi Jokowi.

Hubungan SBY, ketua umum Demokrat yang merupakan partai koalisi Prabowo, dengan Ketua Umum PDIP memang tidak berlangsung baik dalam waktu yang cukup lama. Inilah yang menjadi hambatan Demokrat sulit bergabung dengan kubu Jokowi seperti yang sudah direncanakan sejak lama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here