Pemilu 2019, Dukungan Pemilih Partai Nasionalis Bergeser

0
86
Ilustrasi Pemilu 2019
Ilustrasi Pemilu 2019 (istimewa)

Elahan.comPemilu 2019 adalah kesatu kalinya Pemilu dilangsungkan serentak bareng Pilpres. PDIP dan Gerindra sebagai partai utama pengusung capres-cawapres paling merasakan coattail effects.

Kedua-duanya bisa dikelompokkan dalam spektrum partai nasionalis yang berpotensi menjadi partai berpengaruh di parlemen mendatang. Namun diperkirakan, preferensi pemilih nasionalis bakal bergeser dan memindahkan dukungan.

Leonard Sb selaku Direktur Eksekutif INDOMETER mengatakan  “Suara PDIP dan Gerindra memang merasakan peningkatan signifikan dikomparasikan hasil Pileg 2014,” ungkapnya pada Minggu (17/3).

Indometer (Barometer Politik Indonesia) melangsungkan survei elektabilitas parpol 1 sampai 7 Maret 2019, dengan jumlah narasumber 1.280 yang tersebar di semua provinsi di Indonesia. Pengambilan sampel dilaksanakan secara random bertingkat (multistage acak sampling), dengan margin of error 2,98% pada tingkat keyakinan 9%. Pendalaman kajian dilaksanakan melalui focus group discussion dengan mengundang pakar bersangkutan.

Temuan survei Indometer mengindikasikan elektabilitas PDIP menjangkau 23,5%, sementara Gerindra 13,4%. Pada Pilihan Legislatif 2014, suara PDIP tidak menjangkau 20%, sedangkan posisi Gerindra masih di bawah Golongan Karya.

Leonard menerangkan bahwa hal presidential threshold yang mengunci jumlah pasangan calon melulu dua pasang memberi keuntungan untuk kedua partai politik. PDIP diduga akan menjadi partai pemenang pemilu 2019, disusul Gerindra diposisi kedua. Di sisi lain, Pemilu 2019 pun akan menjadi akhir dari kejayaan partai Golkar.

Leonard menjelaskan “Sejak pemilu kesatu pasca-reformasi Golkar selalu menduduki peringkat kesatu atau kedua, baru kali ini Golkar tergeser ke posisi ketiga, dengan elektabilitas 10,2 %.”

Posisi partai Golkar pun dibayangi oleh PKB, dengan elektabilitas 8,9%. Berdasarkan keterangan dari Leonard, PKB sedikit tidak sedikit diuntungkan oleh tokoh Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden. Dengan latar belakang Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi basis massa tradisional, posisi PKB relatif lebih aman dibanding partai Demokrat.

“Berkebalikan dengan hasil Pileg 2014, PKB juga berkesempatan menggeser posisi Demokrat yang meraih elektabilitas 6,3 %, meskipun masih tergolong lima besar,” ujarnya.

Posisi papan tengah didominasi oleh partai-partai Islam, yakni PPP (3,9 %), PAN (3,7 %), dan PKS (3,4 %). Lalu terdapat partai Nasdem yang memimpin elektabilitas papan tengah sebesar 4,1 %. Dua partai baru menyusul, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Perindo sukses menembus papan tengah. PSI meraih elektabilitas 3,6 %, sementara Perindo menjadi juru kunci dengan elektabilitas 2,8 %.

Sisanya ialah partai-partai yang ditebak tidak akan lolos ke Senayan, yakni Hanura (1,1 %), PBB (0,9 %), PKPI (0,8 %), Berkarya (0,5 %), dan Garuda (0,2 %).

Leonard mengatakan “Hanura menjadi satu- satunya partai lama yang akan terpental tidak mendapat kursi, begitu pula dengan PBB dan PKPI yang semenjak 2009 tidak meraih kursi lagi di Senayan.”

Sedangkan partai Berkarya dan Garuda menjadi partai baru yang akan tersisih oleh ambang batas parlemen (parliamentary threshold). “Temuan menarik ialah capaian PSI sebagai partai baru yang sukses menyejajarkan diri dengan partai- partai papan tengah,” tuturnya.

Jika menyaksikan hasil survei sebanyak lembaga semenjak dimulainya musim kampanye pada September 2018 lalu, elektabilitas PSI ingin mengalami peningkatan. Dari kisaran nol koma sekitar tiga bulan kesatu, bergerak merayap ke 1,5 sampai 1,7 % pada peralihan tahun. Dalam dua bulan, Februari-Maret 2019, elektabilitas partai ini melonjak dari 2,8 % menjadi 3,6 %.

“Dua partai utama, partai PDIP dan Gerindra merasakan peningkatan dalam tiga bulan kesatu, namun trennya lantas menurun,” bebernya.

Sedangkan tiga partai besar lainnya di pemilu 2019, yakni Golkar, PKB, dan Demokrat ingin stabil. Demikian pula dengan partai-partai papan tengah, tergolong Nasdem dan Perindo. Berdasarkan keterangan dari Leonard, besar bisa jadi terjadi migrasi pemilih dari partai nasionalis utama yakni PDIP dan Gerindra, di mana diduga PSI mendapat limpahan sangat banyak.

Leonard menerangkan sikap partai PSI menyokong capres Jokowi dan serangan gencar yang dilaksanakan terhadap oposisi memberi efek elektoral signifikan. Sebagai unsur dari koalisi, PSI tidak segan-segan melancarkan kritik keras seputar isu korupsi dan intoleransi. “Masih butuh pendalaman lebih lanjut, tetapi terlihat terjadi pergeseran prefensi pemilih nasionalis di pemilu 2019,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here