Penetapan Tersangka Kasus Novel Baswedan Dipertanyakan

0
10
Kejanggalan Kasus Novel Baswedan
5 hal yang dianggap janggal dari penetapan tersangka kasus Novel Baswedan.

elahan.com, Kasus Novel Baswedan telah bergulir sejak 11 April 2017. Tepat pada tanggal 27 Desember 2019 Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) akhirnya mengumumkan dua tersangka penyerang Novel Baswedan. Meskipun demikian, banyak pihak mencurigai penetapan pelaku sebenarnya dalam kasus penyiraman air keras dua tahun yang lalu tersebut.

Sejumlah pegiat antikorupsi memandang janggal penetapan tersangka penyerang Novel Baswedan. Tersangka yang disebut berinisial RM dan RB itu merupakan polisi aktif. Bahkan diketahui RB berpangkat brigadir. Tim Advokasi Novel juga menilai bahwa penetapan dua orang tersebut sebagai upaya pasang badan untuk menutupi pelaku utama atau dalang kasus pelanggaran HAM ini.

Berikut adalah kejanggalan-kejanggalan dalam penetapan tersangka pelaku penyerangan Novel Baswedan:

1.Belum Diketahui SPDP Polisi Pelaku Penyerang Novel

Tertanggal 23 Desember 2019 SPDP (Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan) ke tiga baru dilayangkan kepada Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dari kepolisian. Surat tersebut bersamaan dengan SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan) ke sepuluh. Kedua surat tersebut ditandatangani Suyudi Arioseto selaku Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Dalam surat tersebut, pihak kepolisian menyebutkan bahwa pelaku penyerang mantan penyidik KPK tersebut belum diketahui

2.Perbedaan Soal Cara Mendapatkan Pelaku

Ketua Presidium IPW (Indonesia Police Watch), Neta S. Pane menulis status di laman facebook pribadi miliknya pada 27 September 2019. Status yang diunggah sekitar pukul 12.00 WIB menuliskan bahwa dua orang pelaku penyerang Novel menyerahkan diri ke polisi. Namun, status tersebut kemudian tidak lama dihapus.

Pada hari yang sama tepatnya pada pukul 17.00 WIB, IPW secara resmi merilis beberapa informasi. Salah satunya menyatakan apresiasi terhadap pelaku yang menyerahkan diri.

Informasi ini berbernding terbalik dari konferensi pers yang digelar polisi pada pukul 18.00 WIB. Polisi menjelaskan penangkapan dua pelaku penyerang Novel. Dalam keterangan singkat tersebut menyatakan bahwa kedua pelaku ditangkap di Depok tepatnya di daerah Cimanggis.

Hingga kini masih simpang siur soal informasi pelaku penyerang Novel. Apakah pelaku menyerahkan diri seperti pernyataan IPW atau ditangkap seperti keterangan Polisi? Namun Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo enggan menjelaskan secara gambang soal informasi yang simpang siur ini. Kepala Badan Reserse Kriminal tersebut justru mengatakan bahwa hal tersebut adalah teknis pihak kepolisian dan yang terpenting pihaknya tidak salah tangkap pelaku sebenarnya.

Kasus Novel Baswedan Perlu Dicurigai
Tersangka kasus Novel Baswedan dianggap pasang badan untuk melindungi dalang sebenarnya.

3.Polisi Dianggap Tak Mampu Buktikan Tindakan Tersangka

Tim Advokasi Novel menilai polisi tidak mampu menunjukan kebenaran bahwa kedua tersangka adalah pelaku sebenarnya. Lantaran belum ada bukti seperti kaitan antara pengakuan tersangka dengan keterangan para saksi. Maka tim advokasi Novel masih meragukan bahwa hal ini merupakan setting-an belaka.

Bukan hanya itu, Direktur Lokataru juga menyatakan keraguannya. Seperti keterangan tersangka bahwa air yang digunakan adalah air aki tidak cocok. Menurut catatan dokter menyatakan Novel disiram air keras. Informasi yang disampaikan polisi dinilai tidak memiliki korelasi dengan fakta, keterangan, dan kesaksian yang sudah ada selama ini.

4.Tersangka Tidak Seperti Sketsa Terduga Pelaku yang Dirilis Polri

Tersangka RB merupakan anggota berpangkat brigadir dari Brigade Mobil. RB diduga memiliki nama asli Ronny Bugis. Wajahnya tidak mirip dengan sketsa yang pernah dirilis Polri beberapa waktu lalu. Akan tetapi, RB sekilas dilihat mirip dengan sketsa yang pernah dikeluarkan Tempo.

Tempo mengeluarkan sketsa terduga pelaku berdasarkan keterangan saksi di lokasi kejadian pada 27 Juli 2017. Sketsa itu menggambarkan seorang pria yang diperkirakan berusia 35 tahun. Memiliki wajah agak bulat dengan rambutnya disisir ke belakang. Pria tersebut memiliki tubuh gempal dan kulit agak gelap. Selain itu, tingginya digambarkan sekitar 165 cm.

Namun, beberapa pihak tidak ingin langsung percaya dengan kemiripan itu. Karena masih banyak fakta di lapangan yang harus diselidiki dan dibuktikan oleh polisi. seperti perihal motor yang digunakan pelaku untuk mengintai Novel sebelum kejadian. Kepemilikan motor tersebut masih diduga milik anggota Polda Metro Jaya.

5.Motif Tersangka Tidak Sama dengan Temuan TGPF

Motif tersangka melakukan tindakan tersebut adalah kesal dan dendam dengan ulah mantan penyidik KPK tersebut. RB bahkan mengatakan dengan suara tinggi bahwa Novel adalah penghianat saat dibawa ke Mabes Polri pada 28 Desember 2019. Sedangkan, RM tidak mengetahui akan diajak untuk menyerang Novel.

Beberapa pihak masih meragukan motif ini. Motif ini dianggap mirip dengan kasus pembunuhan Munir. Pollycarpus Budihari Priyanto sebagai terpidana pembunuhan aktivis HAM tersebut juga menuding Munir sebagai penghianat. Motif ini disebut sebagai modus apabila negara melakukan kejahatan terhadap warga negaranya.

TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) bentukan Polri menyatakan bahwa serangan yang diterima Novel berhubungan dengan pekerjaannya sebagai penyidik KPK. Apalagi selama ini Novel menangani kasus-kasus besar di Indonesia. Sehingga penetapan tersangka kasus Novel Baswedan dianggap janggal karena adanya upaya menutupi dalang sebenarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here