Perang Dagang AS-Cina, Bagimana Dampaknya Untuk Indonesia ?

0
24
perang dagang
perang dagang

Elahan.com, Salah satu lembaga bernama Goldman Sachs Group Inc menyatakan bahwa perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan Cina semakin mengkhawatirkan keadaannya karena mengarah ke resesi yang semakin meningkat. Lembaga ini juga tidak lagi memperkirakan kesepakatan perdagangan yang terjadi antara dua ekonomi terbesar di dunia sebelum pemilu presiden Amerika Serikat 2020.

“Kami telah memperkirakan tarif yang menargetkan sisa US$ 300 miliar dari Cina akan diberlakukan.” Kata bank dalam catatan yang telah dikirimkan kepada para nasabahnya pada Ahad, 11 Agustus 2019.

Sedangkan, Presiden Donald Trump telah pengumumkan pada 1 Agutus pihaknya akan mengenakan tarif tambahan 10 persen pada Impor Cina sebesar US$300 miliar per 1 September 2019 mendatang. Ia pun juga mendorong Cina gar menghentikan pembelian produk-produk pertanian dari Amerika Serikat.

Selain itu Amerika Serikat juga menuding Cina sebagai manipulator mata uang, sementara itu negara tirai bambu menyangkal telah memanipulasi mata uang Yuan untuk keuntungan kompetitif. Adanya perselisihan perdagangan selama setahun yang telah berlangsung pada masalah-masalah seperti tarif, subsidi, teknologi, kekayaan intelektual, dan kemanan siber di antara lainnya.

Atas dasar hal-hal diatas tadi, Goldman Sachs menurunkan perkiraan pertumbuhan kuartal keempat AS sebesar 20 basis poin menjadi 1,8 persen. Hal ini memiliki dampak yang lebih besar dari yang diperkirakan dari perkembangan ketegangan perdagangan.

Berdasarkan catatan Goldman Sachs menyebut adanya peningkatan biaya masuk dari gangguan rantai pasokan dapat menyebabkan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat mengurangi aktivitas domestiknya dan ketidakpastian kebijakan seperti sekarang ini dapat membuat perusahaan-perusahaan menurunkan belanja modal mereka.

Menanggapi hal ini Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menatakan pemerintah Indonesia harus mewaspadai dampak yang akan terjadi dari perang dagang Amerika Serikat dengan Cina dalam beberapa waktu terakhir ini. Ketegangan ini tak kunjung reda, justru yang terjadi kini makin memanas.

Kata Luhut Binsar Pandjaitan soal perang dagang As-Cina.

Luhut sempat menanyakan kondisi tersebut kepada para pelaku industri di Cina, berdasarkan jawaban dari mereka kondisinya very painful dan Luhut menganggap hal ini perlu diwaspadai. Ia juga mengatakan akan melihat perkembangan kebjikana dua negara ini dan salah satunya hingga pemilihan umum Amerika Serikat pada akhir tahun depan.

Perang dagang As dengan Cina telah berkempak pada sektor nilai tukar mata uang Cina. Yuan atau mata uang cina anjlok hingga ke angka 7 Yuan per dolar AS. Pelemahan yang terjadi pada Yuan ini ternyata ikut berimbas kepada anjloknya nilai tukar rupiah hingga kisaran Rp 14.200.

Walau demikian, Luhut optimis, diantara negara-negara berkembang lain Indonesia masih berada di posisi yang terbaik. Luhut memberi contoh, Indonesia masih bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi 5 persen di investasi sehingga para pemodal asing masih mau menanamkan modalnya ke Indonesia.

Selain mewaspadai dampak negatif dari perang dagang, Luhut juga menyatakan jika pemerintah kini berharap bisa menangkap peluang-peluang ekonomi yang ada dari fenomena ini. Indonesia harus bisa menyesuaikan aturan dengan negara lain agar menjadi lebih kompetitif dan Indonesia juga memiliki potensi untuk mengisi impor Amerika dari Cina.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga mengatakan hal serupa dengan Luhut, Ia menyampaikan jika dibandingkan dengan negara di kawasan lain di Asia Tengga yang terpengaruh dengan adanya perang dagang ini, kondisi perekonomian Indonesia ini cenderung lebih moderat atau biasa-biasa saja. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi Malaysia dan Singapura yang terkena dampak yang cukup hebat akibat ketegangan hubungan perdangan Amerika Serikat dengan Cina.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here