Perdagangan Anak Sisakan Trauma Meski Pelaku Telah Dihukum

0
3
Perdagangan Anak
Perdagangan Anak Sisakan Trauma Meski Pelaku Telah Dihukum

Elahan.com, Para korban perdagangan anak mungkin taka akan pernah bisa melupakan kejadian pahit yang menimpa dirinya. Rasa takut, malu, minder, dan perasaan tak menyenangkan lain yang dialami saat peristiwa pahit itu berlangsung akan menjadi trauma seumur hidup. Meskipun pelaku kejahatan sudah mendapatkan hukuman, para korban tidak bisa sembuh sepenuhnya.

Seperti yang terjadi pada dua orang korban remaja berusia 15 dan 16 tahun. Mereka merupakan korban perdagangan anak melalui praktik prostitusi daring di sebuah hotel di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 2020 lalu. Proses hukum terhadap pelaku prostitusi daring bernama Ismu Sundarto (IS) berlangsung pada Maret hingga Mei 2020.

Selama proses hukum berlangsung, Mawar dan Melati (nama samara) tinggal di rumah aman dan mendapat fasilitas pendampingan dari Rifka Annisa Women’s Crisis Center (RAWCC). Konselor Hukum RAWCC, Arnita Ernauli Marbun (28), para pendamping mengungkapkan selama berada di rumah aman, kedua korban merasas ketakutan setiap kali menjumpai pria dengan postur tubuh mirip pelaku.

Kedua remaja tadi bukan satu-satunya korban perdagangan anak di Yogyakarta. Selama enam tahun terakhir, sudah lebih dari 10 korban yang didampingi RAWCC. Namun Arnita mengatakan, di luar korban yang didampinginya bisa saja banyak kasus serupa yang tak terungkap. Berdasarkan data RAWCC, pelaku biasanya menggunakan modus tawaran pekerjaan untuk melancarkan aksinya. Modus lainnya yaitu tawaran sekolah gratis.

Akibat kejahatan kemanusiaan tersebut para korban mengalami trauma sepanjang hidupnya. Dampak psikologis yang mereka alami tidak serta merta hilang meskipun pelaku sudah dihukum.

Dalam langkah pendampingan, menurut Anita mendampingi korban bukanlah hal mudah. “Menjelaskan ke mereka kalau kamu ini jadi korban perdagangan manusia, posisimu bahaya, jadi kamu harus kami tolong, itu aja susah. Belum lagi mengatasi kebosanan, kejenuhan mereka, bisa seharian penuh mereka mengeluh bosan,” jelasnya.

Para korban yang dilindungi di rumah aman juga kemudian difasilitasi dengan beberapa kegiatan pemberdayaan seperti memasak, menjahit, dan tata rias. Para konselor RAWCC mengarahkan korban untuk menekuni hobinya. Tujuannya, begitu proses pendampingan korban dan kasus hukum selesai, mereka bisa kembali ke tengah masyarakat dalam kondisi berdaya sosial dan ekonomi.

Untuk itu, pemerintah perlu menangani lebih serius mengenai perdagangan anak. Untuk menghindari terjadi lebih banyak lagi korban yang harus mengalami trauma dalam hidupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here