Perjalanan Karier Dandhy Laksono, Seorang Jurnalis Hingga Mendirikan WatchdoC

0
11
Dandhy Laksono
Dandhy Laksono sempat ditahan oleh polisi karena dugaan penyebaran konten berbau kebencian di media sosial.

Elahan.com, Seorang jurnalis dan pendiri WatchdoC Documentary, Dandhy Lakosono pada 26 September 2019 malam ia ditangkap di kediamannya dan dibawa ke Polda Metro Jaya pada pukul 23.05 WIB. Penangkapan Dandhy berdasarkan surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh kepolisian tertulis jika Dandhy ditangkap karena dianggap melanggar Pasal 28 ayar 2 jo, Pasal 45A ayat 2 Undang-undang nomor 8 tahun 2016 mengenai Informasi dan Transaksi Elektronik, serta Pasal 14 dan 15 UU nomor 1 tahun 1946 mengenai Hukum Pidana. Dandhy dituding menyebarkan informasi yang mengandung kebencian serta permusuhan yang menyangkut suku,ras,agama, dan antar golongan atau SARA. Namun, pada 27 September 2019 siang Dandhy dilepaskan oleh polisi walau dirinya telah ditetapkan menjadi tersangka.

Dandhy merupakan pendiri dari WatchdoC, sebuah rumah produksi yang menghasilkan sejumlah film kontroversional dan diantaranya adalah ‘Sexy Killers” dan “Rayuan Pulau Kelapa”. Salah satu anggota dari Aliansi Jurnalis Independen ini terkenal sebagai aktivis yang kerap kali mengkritik pemerintah, termasuk di era Presiden Joko Widodo.

Berikut adalah perjalanan karier Dandhy Laksono :

Seorang Jurnalis

Dandhy selain menjadi seorang pendiri dari rumah produksi WatchdoC dan media perdamaian bernama acehkita.com, ia ternyata merupakan seorang jurnalis terbukti dengan keterlibatannya menjadi anggota Aliansi Jurnalis Independen. Dandhy memiliki pengalaman di bidang jurnalis diantaranya di media cetak, radio, dan televisi.

Perjalanan kariernya sebagai jurnalis menemui sejumlah hambatan, diantaranya Dandhy pernah ‘diusir’ dari sebuah stasiun televisi swasta karena memberitakan isu tentang korban darurat militer di Aceh yang membuat geram dan marah pihak yang berkuasa saat itu. Berita ini sebelumnya telah disetujui dalam rapat redaksi. Selain itu, di stasiun televisi swasta lainnya pun ia juga diminta untuk menghentikan pemberitaan suatu kasus.

Sebagai jurnalis yang selalu mengedepankan fakta kerap kali mengalami hambatan-hambatan yang memang terlihat tak terkesan adil. Sebenarnya, Dandhy telah menjadi jurnalis sejak tahun 1998 di salah satu tabloid ekonomi. Akan tetapi, sebagai jurnalis ia selalu saja dibenturkan pada pertarungan idealisme di industri media.

Menurutnya permasalahan yang kerap kali ia temui bukanlah masalah metodologinya, namun ontologinya yang bermasalah.

Mendirikan WatchdoC

Sexy Killers menjadi salah satu produksi dari rumah produksi WarchdoC yang didirikan oleh Dandhy Laksono bersama Andhy Panca.

Pada 2009, Dandhy Laksono bersama dengan sahabatnya Andhy Panca Kurniawan yang merupakan mantan Pememimpin Redaksi di kantor berita Voice of Human Rights ini mendirikan sebuah rumah audio-visual bernama WatchdoC.

WatchdoC merupakan sebuah rumah produksi yang dibentuk dengan didasari atas keinginan Dandhy dan Andhy untuk mencari ruang dalam memberikan informasi namun juga tersirat pengetahuan didalamnya.

Karya pertama dari WatchdoC adalah video berdurasi 48 menit berjudul ‘Kiri Hijau Kanan Merah’ pada 2009. Video ini berkisah tentang sosok Munir Said Thalib seorang penggiat HAM yang tewas dibunuh dalam perjalanannya menuju Amsterdam.

Dalam perjalanan WatchdoC sendiri terbagi atas tiga fase yaitu fase pertama pada 2009-2011 yang merupakan satu fase untuk mencari bentuk dengan sumber daya yang terbatas. WatchdoC pada masa ini masih meraba identitas dengan menjajal segala macam tema sambil memutar roda produksi.

Fase kedua adalah pada rentang tahun 2011-2014, WatchdoC mulai merambah pada peliputan alternatik untuk layar kaca. Rumah produksi ini bekerja sama dengan tiga televisi saat itu yaitu Kompas TV, Metro TV, dan Bloomberg TV Indonesia.

Fase ketiga pun terjadi pada 2014-2016 ketika WatchdoC mulai beradaptasi dengan perkembangan budaya media. Video dokumenter untuk televisi kerap kali berdurasi 30-60 menit, sedangkan untuk pesanan klien di luar TV memiliki durasi yang lebih singkat yaitu berkisar pada 5 menit.

Produknya pun berupa kisah sukses paralegal, video pelatihan, iklan layanan masyarakatm serta presentasi. Sementara itu untuk video yang berdurasi panjang ini masih dilakukan meski kuantitasnya hanya sedikit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here