Perjalanan Kasus Novel Baswedan 2017-2019

0
11
Novel Baswedan
Penyelidikan kasus penyiraman air keras Novel Baswedan masih berjalan.

elahan.com, Novel Baswedan adalah seorang penyidik di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menjadi sorotan dua tahun belakangan ini karena kasus penyiraman air keras kepadanya di pagi buta sehabis sholat subuh berjamaah di salah satu masjid dekat rumahnya.

Berikut perjalanan kasus Novel Baswedan yang menjadi perhatian orang banyak:

Berawal dari April 2017

DI pagi buta tepatnya sehabis sholat subuh berjamaan di Masjid Ihsan, Novel Baswedan diserang oleh dua orang tak dikenal di dekat rumahnya di daerah Kelapa Gading Jakarta Utara. Diketahui kedua orang tersebut berboncengan dengan sepeda motor dan dengan segaja menyiramkan air keras ke wajah penyidik KPK yang sedang banyak mengusut kasus korupsi besar.

Akibat dari penyiraman air keras tersebut, Novel mengalami kerusakan mata sebelah kiri hingga 95 persen, dan mata kanannya terancam mengalami kebutaan. Ia pun harus menjalani serangkaian operasi di Singapura atas rekomendasi dokter kepresidenan.

Presiden Diminta Bentuk Tim Pencari Fakta

Sehari setelah peristiwa penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, Komisi Pemberantasan Koripsi meminta kepada Presiden Joko Widodo membentuk tim gabungan untuk mengusut perkara tersebut. Mantan Ketua KPK Busyiro Muqoddas pun juga meminta Presiden Jokowi untuk secara langsung membentuk tim gabungan untuk mengusur penyerangan Novel.

Selain itu, desakan pun datang dari Pusat Studi Konstitusi (Pusako) Fakultas Hukum Universtias Andalas. Peneliti Pusako mengatakan secara konstitusional, presiden memiliki tanggung jawab untuk memberikan keamanan kepada seluruh warga, terutama penegak hukum.

Wadah Pegawai KPK dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) juga ikut mendesak Jokowi untuk membentuk tim independen karena informasi tentang penyerangan ini sudah banyak.

Komnas HAM Menyiapkan Tim Pencari Fakta

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) saat itu telah menyiapkan pembentukan TGPF atau Tim Pencari Fakta untuk kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan. Berdasarkan hasil investigasi pendahuluan yang dilakukan oleh tim Sub Komisi Pemantauan Komnas HAM menemukan adanya indikasi pelanggaran hak asasi manusia dalam teror penyiraman air keras kepada Novel.

Dalam pembentukan tim tersebut, Komnas HAM juga ikut menggandeng koalisi masyarakat seperti tokoh dari pengajar di Program Pascasarjana Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia yaitu Bambang Widodo Umar, mantan Wakil Ketua KPK. Bambang Widjojanto, serta mantan Ketua KPK, M. Busyro Muqoddas. Penunjukan para tokoh ini dianggap paham mengenai peta dinamika di KPK dan Polri.

Polisi Merilis Sketsa Pelaku Penyerangan

Pada 1 Agustus 2017 Kepolisian Republik Indonesia mempublikasikan sketsa wajah satu dari dua orang yang dicurigai adalah pelaku pemyerangan terhadap Novel Baswedan. Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat itu mengatakan jika timnya merilis sketsa dari penyempurnaan dari tiga sketsa sebelumnya.

Novel Baswedan
Sketsa terduga pelaku penyiraman air keras Novel Baswedan.

Pada November 2017, sketsa pelaku kedua akhirnya diumumkan besamaan dengan sketsa terduga pelaku pertama. Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Idham Azis saat itu mengatakan jika dia sketsa tersebut dibuat berdasarkan pemeriksaan dua saksi kunci yang sempat melihat para pelaku sebelum melakukan penyerangan dengan menyiramkan air keras kepada Novel.

TGPF Dibentuk Oleh Polisi Setelah Hampir 2 Tahun Mandek

Setahun berlalu setelah kasus penyiraman air keras Novel Baswedan, pelaku penyiraman belum juga ditangkap. Koalisi Masyarakat Sipil pun menagih janji kepada Presdien untuk segera menuntaskan penyerangan terhadap penyidik KPK ini.

Kemudian, setelah hampir dua tahun tidak dibentuk TGPF, Markas Besar Kepolisian RI akhirnya membentuk tim gabungan guna menindaklanjuti kasus Novel di awal 2019. Kepada Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Muhammad Iqbal menyatakan jika tim gabungan inti adalah tindak lanjut dari rekomendasi Komnas HAM di akhir Desember 2018.

Anggota dari Tim Gabungan Pencari Fakta kasus Novel Baswedan ini berjumlah 65 orang yang terdiri dari perwakilan KPK 6 orang, perwakilan pakar sebanayk 7 orang, dan sisanya berasal dari kepolisian sebanyak 52 orang.

Selain itu, Pegiat HAM juga ikut dilibatkan. Mereka adalah Ketua Setara Institute Hendardi, amntan Direktur Eksekutif Imparsial Poengky Indarti, serta mantan Komisioner Komnas HAM periode 2007-2012, Ifdhal Kasim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here