Hasil Investigasi TPF Kasus Novel Baswedan Dianggap Tidak Masuk Akal, Berikut Perjalanan Lengkap Kasusnya

0
62
Kasus Novel Baswedan
Perkembangan kasus Novel Baswedan

Elahan.com, Akhirnya tim pencari fakta kasus Novel Baswedan merilis hasil kerja mereka setelah enam bulan bekerja pada Rabu, 17 Juli 2019. Peristiwa penyiraman air keras  tersebut dituangkan dalam laporan sejumlah 170 halaman.

Namun, ternyata tim bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian ini tidak bisa menemukan pelaku lapangan, apalagi dalang kasus ini. Dalam konferensi pers yang disampaikan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Nurkholis selaku juru bicara TPF memberikan rekomendasi pada Tito Karnavian untuk menindaklanjuti tim teknis. Dalam hal ini akan dikomandoi oleh Kabareskrim Komjen Idham Aziz.

Tim TPF juga merekomendasi pendalaman identitas tiga orang yang tidak dikenal berdasarkan hasil penyelidikan lapangan. Tiga orang yang dimaksud adalah: dua orang di dekat tempat wudhu Masjid Al Ihsan yang ada menjelang subuh pada 10 April 2017, dan satu orang tidak dikenal yang mendatangi rumah Novel tanggal 5 April 2017.

Sebenarnya keberadaan tiga orang ini bukanlah hal baru. Sebab ini sudah coba diungkapkan media karena tertangkap kamera CCTV. Hal ini menurut Haris Azhar selaku Direktur Eksekutif Lokataru dan juga anggota tim advokasi Novel, temuan tersebut menjadi pengingat belaka.

Malah Menyalahkan Novel Baswedan

Hasil investigasi tim yang dibentuk menjelang debat pertama Pilpres 2019 ini punya kesimpulan yang cukup mencengangkan. Tim ini terkesan menyalahkan Novel dengan menyebut mantan penyidik KPK ini menggunakan kewenangan yang berlebihan saat mengusut sebuah perkara (excessive use of power).

Tentu ini terdengar tidak masuk akal. Wajar jika kemudian muncul pertanyaan dari kesimpulan tersebut: kewenangan mana yang dilampaui hukum? Pertanyaan yang coba dilempar oleh Haris.

Selain itu, Alghiffari Aqsa yang merupakan anggota tim advokasi Novel juga menilai kesimpulan tim TPF tersebut berlebihan dan menyudutkan kliennya. Padahal dalam kasus penyiraman air keras ini, Novel merupakan korban.

Tuduhan tersebut jelas tidak pantas dilontarkan oleh TPF. Hal itulah yang disampaikan oleh Puri Kencana Putri selaku Manager Kampanye Amnesty International Indonesia. Tuduhan tersebut dinilai tidak etis dilontarkan pada korban yang ingin mencari keadilan.

Selain itu, yang membuat banyak orang menyayangkan tim TPF ini adalah tidak adanya nama pelaku yang diungkapkan. TPF dianggap tidak becus karena tidak bisa mengungkap pelaku tetapi justru bisa membuat simpulan-simpulan aneh yang lain.

Tentu saja tidak logis tim TPF bisa menyimpulkan probabilitas penyerangan dalam kasus Novel baswedan, sedangkan pelakunya masih belum ditemukan. Polri atau tim pakar juga tidak bisa memberi keterangan lebih lanjut dan tidak memberikan bukti terkait tuduhan tersebut.

Wadah Pegawai KPK ikut berkomentar soal Kasus Novel Baswedan

Wadah KPK ikut mengomentari hasil investigasi kasus penyerangan tersebut. Menurut WP KPK, tim yang berisi pakar hukum dengan rekam jejak yang bagus itu gagal total. Ini bukan hanya kegagalan tim TPF semata, melainkan kegagalan polisi karena penanggung jawabnya adalah Kapolri Tito Karnavian.

Menyalahkan Novel tanpa adanya pelaku sama dengan membangun opini yang sifatnya spekulatif. Rekomendasi pembentukan tim teknis juga dinilai semata-mata untuk mengulur waktu dan membuat pengungkapan kasus menjadi kabur.

Sehingga muncul desakan agar Presiden Jokowi membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang sifatnya independen.

Jokowi berikan waktu tiga bulan

Tim Pencari Fakta merilis hasil investigasi kasus Novel Baswedan
Tim Pencari Fakta merilis hasil investigasi kasus Novel Baswedan

Presiden Jokwoi memberikan waktu pada Polri selama tiga bulan untuk menuntaskan kasus penyerangan air keras pada mantan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Jokowi meminta agar hasil investigasi yang awalnya ditugaskan enam bulan, dipercepat selama tiga bulan.

Jokowi juga menyebut bahwa kasus Novel ini juga bukan merupakan kasus yang mudah dan butuh penyelidikan khusus. Hasil yang disampaikan oleh Tim Pencari Fakta (TPF) juga harus diapresiasi karena sudah menyampaikan hasil temuannya. Sehingga hal tersebut perlu ditindaklanjuti oleh tim teknis.

Presiden meminta agar waktu tiga bulan tersebut diamnafaatkan dengan baik oleh tim teknis agar bisa menemukan pelaku. Sehingga kasus ini bisa diselesaikan.

Pimpinan KPK berikan sepeda bagi siapa pengungkap kasus Novel Baswedan

Sepeda bagi yang bisa mengungkap pelaku kasus Novel Baswedan
KPK berikan sepeda bagi yang bisa mengungkap pelaku kasus Novel Baswedan

Bagi siapa yang berhasil mengungkap kasus Novel, akan diberikan sebuah sepeda oleh Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sepeda-sepeda ini disumbangkan oleh Saut Situmorang pada Senin, 3 Juni 2019 lalu. Sepeda gunung tersebut lengkap dengan helmnya.

Ada tiga sepeda yang dibagikan nantinya. Dua sepeda lain berasal dari Wadah KPK. Tipenya BMX berwarna merah. Satu lagi sepeda berasal dari PP Muhammadiyah dengan tipe ontel kecil yang dilengkapi dengan keranjangnya.

Sayembara ini dilakukan pada peringatan 16 bulan kasus Novel Baswedan yang bertepatan pada 27 Juli 2018.

Kasus Novel berawal ketika 11 April 2017 saat dalam perjalanan menuju rumah selepas menunaikan solat Subuh berjamaah. Tiba-tiba ada orang yang tidak dikenal menyerang dirinya dan menyiramkan air keras. Siraman ini membuat mata Novel rusak bahkan hampir buta.

Sayangkan Dugaan Keterlibatan Iriawan

Tim advokasi Anis Baswedan menyayangkan dugaan banyak pihak bahwa ada dugaan keikutsertaan mantan Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Jenderal Iriawan pada penyerangan yang dialami Novel Baswedan.

Hal ini berawal karena informasi tentang pemeriksaan tidak lengkap sehingga banyak yang beranggapan bahwa jenderal yang selama ini dimaksud Novel adalah Iriawan.

Terlebih karena Iriawan sempat mengingatkan Novel serta sempat menawarkan bantuan terkait pengamanan sebelum terjadinya penyerangan tersebut. Meskipun baik Novel dan tim advokasinya, tidak memiliki prasangka pada Iriawan terkait penyerangan air keras yang terjadi.

Kronologi kasus Novel Baswedan

Berikut perjalanan kasus Novel Baswedan yang sudah berjalan dua tahun.

Terjadi pada April 2017

Novel diserang oleh dua orang yang tidak dikenal ketika pulang solat subuh berjamaah di masjid Ihsan yang berlokasi di dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kedua orang yang tidak diketahui identitasnya hingga sekarang tersebut menaiki sepeda motor dan menyiramkan air keras ke arah Novel sehingga menyebabkan matanya rusak dan terancam buta.

Bahkan mata sebelah kiri Novel rusak hingga 95 persen dan menyebabkan dirinya harus menjalani operasi berkali-kali di Singapura.

Presiden diminta membentuk tim pencari fakta

Pembentukan tim gabungan untuk mengusut perkara ini sebenarnya sudah diminta KPK dilakukan sejak sehari setelah Novel diserang. Mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas minta Jokowi secara langsung agar segera membentuk tim gabungan agar kasus ini segera diusut.

Tidak hanya dari KPK, desakan tersebut juga datang dari Pusat Studi KOnstitusi (Pusako) Fakultas Hukum (FH) Universitas Andalas, Sumatera Barat. Mereka meminta agar Jokowi segera turun tangan dan bertanggung jawab.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dan Wadah Pegawai KPK juga mendesak Jokowi membentuk tim independen. Menurut mereka, informasi mengenai kasus ini sudah banyak, hanya saja tergantung keinginan polisi mau membongkar kasus ini atau tidak. Jika tidak ada niat, maka perlu segera dibentuk tim independen.

Komnas HAM siapkan Tim Pencari Fakta

Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) menyiapkan pembentukan tim independen untui mengusut kasus peyerangan yang terjadi pada Novel Baswedan. Dari hasil investigasi tim Sub Komisi Pemantauan Komnas HAM menemukan adanya indikasi pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi pada Novel.

Polisi Rilis Sketsa Pelaku

Pada 1 Agustus 2017, Kepolisian Republik Indonesia mempublikasikan sketsa wajah satud ari dua orang yang dicurigai melakukan penyerangan pada Novel Baswedan. Sketsa ini disempurnakan dari tiga sketsa sebelumnya. Menurut Tito Karnavian, sketsa yang dirilis timnya mendekati wajah yang dilihat oleh para saksi.

Kemudian, sketsa kedua dirilis pada November 2017. Kali ini tidak hanya satu sketsa pelaku, tetapi juga bersama pelaku penyerangan yang satu lagi. Dua sketsa tersebut dibuat berdasarkan dari pemeriksaan saksi kunci yang sempat melihat para pelaku sebelum melancarkan aksi penyerangannya.

Pengusutan Kasus Novel Baswedan jalan di tempat

Setahun sudah berlalu, namun pelaku dari kasus penyerangan novel belum juga berhasil ditangkap. Jangankan ditangkap, ditemukan saja belum. Sehingga membuat koalisi masyarakat sipil kembali mendesak Presiden Jokowi untuk memenuhi janjinya menyelesaikan kasus ini.

Lagi-lagi. Jokowi diminta untuk segera membentuk tim pencari fakta dan mengusut kasus ini secara tuntas. Sebenarnya banyak bukti dan informasi yang dianggap cukup bagi polisi untuk menetapkan status tersangka pada para pelaku. Polisi juga belum mengembangkan isi kesaksian Novel ketika diperiksa di Kedutaan Besar Indonesia untuk Singapura.

Bahkan yang lebih parah, polisi diduga tidak serius menangani kasus ini karena ada sketsa yang mirip sekali dengan terduga pelaku tetapi tidak diumumkan.

Akhirnya polisi bentuk Tim Pencari Fakta

Markas besar kepolisian Republik Indonesia akhirnya membentuk tim gabungan untuk menindaklanjuti kasus Novel di tahun 2019 awal. Tim gabungan ini adalah tindak lanjut dari adanya rekomendasi dari Komnas HAM di Desember 2018 akhir.

Anggota dari tim pencari fakta ini berjumlah 65 orang yang terdiri dari tujuh orang perwakilan pakar, enam orang perwakilan KPK, 52 orang sisanya dari kepolisian. Beberapa dari pakar ini adalah Indriyanto Seno Adji mantan Wakil Ketua KPK Februari-Desember 2005, Hermawan Sulistyo dari LIPI dan lainnya.

Pegiat HAM yang dilibatkan menangani kasus Novel Baswedan lainnya adalah ketua Setara Institute Hendardi. Ada juga mantan Direktur Eksekutif Imparsial Poengky Indarti, dan Ifdhal Kasim selaku mantan komisioner Komnas HAM 2007-2012.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here