Perjalanan Revisi UU KPK dari Tahun ke Tahun

0
20
Revisi UU KPK dari tahun ke tahun
Menuai berbagai penolakan, Revisi UU KPK sudah sejak lama diwacanakan

elahan.com, Revisi UU KPK (Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi) menuai pro dan kontra masyarakat Indonesia. Pada 17 September 2019 revisi tersebut telah disahkan berdasarkan kesepakatan pemerintah dan DPR (Dewan Perwakilan Rakyat). Namun banyak pihak yang menilai bahwa revisi tersebut justru memperlemah kewenangan KPK.

Pembahasan revisi UU KPK dinilai aneh dan terlalu terburu-buru oleh kalangan akademis dan koalisi masyarakat. Pasalnya, baru pada tanggal 16 September badan eksekutif dan legislatif negara bertemu untuk membahas RUU KPK ini yang kemudian langsung disepakati akan dibawa ke rapat paripurna keesokan harinya.

Ketua Badan Legislasi DPR menolak bahwa RUU KPK dinilai terlalu terburu-buru. Lantaran sebenarnya hal ini telah dibicarakan jauh-jauh hari, namun saat itu Presiden Jokowi belum menginginkan hal tersebut sehingga ditunda.

Berikut perjalanan Revisi UU KPK dari tahun ke tahun:

Tahun 2010

Sejak era Susilo Bambang Yudhoyono pada periode 2009-2014, RUU KPK telah diwacanakan oleh DPR. Sehingga hal ini bukan barang baru lagi. Hanya saja, meskipun telah diwacanakan beberapa kali namun tak kunjung dikerjakan. Seperti obrolan lama yang tak berkesudahan selama sembilan tahun.

Revisi UU KPK terburu-buru
Meskipun dianggap terburu-buru, Revisi UU KPK sudah diwacanakan sejak 2010

Tahun 2015

Pada 23 Juni 2015 RUU KPK pernah diusulkan masuk ke dalam Prolegnas (Program Legilasi Nasional) 2016 oleh DPR. Namun hal ini menuai polemik karena penolakan dari berbagai pihak, seperti koalisi masyarakat sipil, publik, akademisi dan KPK. Akhirnya berdasarkan keputusan Presiden Jokowi pembahasan tersebut ditunda.

Alasan penolakan RUU KPK pada waktu itu yaitu adanya intrik. Hal ini disimpulkan berdasarkan draf yang hendak dibahas, seperti pembatasan usia institusi, pemangkasan wewenang penuntutan, pengaturan penyadapan, serta pembatasan rekrutmen penyidik dan penyidik independen.

Tahun 2016

Pada 26 Januari 2016 RUU KPK merupakan salah satu prioritas Prolegnas 2016. Para anggota dewan nampak amat bersemangat untuk melakukan revisi. Hampir selurunya menerima pembahasan tersebut. hanya fraksi Partai Gerindra yang kemudian diikuti Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sosial menolak revisi tersebut.

Waktu itu pembahasaan ini semakin menimbulkan polemik yang tinggi. Hingga mau tidak mau Presiden Jokowi harus bertemu dengan pimpinan DPR untuk menyelesaikannya. Saat itu masih dianggap kurang matang dan membutuhkan sosialisai yang lebih gencar lagi.

Tahun 2019

Pada 5 September 2019 dalam rapat paripurna, usulan RUU KPK kembali diusulkan oleh Badan Legislasi DPR RI. DPR pun secara resmi menyetujui dilakukan revisi. Namun banyak yang tidak tahun kapan pembahasan dan kesepakatan antar fraksi ini diambil oleh Badan Legislasi. Publik dibuat kaget dengan kabar bahwa Sekretariat Jenderal DPR telah mengagendakan rapat paripurna.

Draf RUU KPK langsung dikirim ke Presiden Jokowi untuk segera ditindaklanjuti. Tepat pada tanggal 11 September 2019, DPR menerima surat presiden. Secara otomatis menegaskan bahwa Presiden Jokowi menyetujui pembahasan RUU KPK.

Efek Revisi UU KPK terjadi adalah penolakan dari berbagai kalangan. Bahkan sampai terjadi demo besar-besaran di berbagai daerah di Indonesia. Namun RUU KPK tetap jalan terus bahkan bisa dibiang tancap gas. Alasannya revisi ini demi memperkuat KPK.

Pada malam 12 September 2019 dilakukan rapat pertema. Rapat dilakukan DPR bersama Yasonna Laoly sebagai Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Keesokan harinya, rapat DPR bersama pemerintah dilakukan secara tertutup. Awak media tidak diizinkan mengetahui perkembangannya.

Pada 16 September 2019 menjadi rapat terakhir dengan kesepakatan Revisi UU KPK akan dibawa ke rapat paripurna. Keesokan harinya secara resmi Revisi Undang-Undang Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi disahkan menjadi Undang-Undang dengan tujuh pasal yang direvisi UU KPK.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here