Perjalanan Tommy Soeharto Membangun Partai Berkarya

0
10
Tommy Soeharto dan Partai Berkarya
Tommy Soeharto dan Partai Berkarya

Elahan.com, Meski dua kali gagal merebut kursi menjadi Ketua Umum Golkar, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto berani mendirikan Partai Berkarya. Partai ini juga menjadi tempat berlabuhnya para petualang politik di Indonesia. Partai besutan anak Soeharto ini mengikuti Pemilu 2019 setelah dinyatakan lolos verifikasi KPU dan berada pada posisi 7.

Meniru induknya, partai berkarya juga menggunakan lambang beringin dengan seragam berwarna kuning-oranye. Partai yang mengusung imajinasi atas “kerinduan Orde Baru” dengan mengajak dua partai bergabung, yakni Partai Nasional Republik (Nasrep)  dan Partai Beringin Karya.

Partai Nasional Republik (Nasrep) ini didirikan tahun 2012 oleh Neneng A. Tutty, Mayjen TNI (Purn) Edy Waluyo, Tommy Soeharto, dan Jus Usman Sumanegara. Partai Nasrep ini sendiri menggunakan badan hukum Partai Serikat Indonesia yang didirikan tahun 2002 serta Partai Nurani Umat yang sudah lolos verifikasi dan sudah memiliki badan hukum sejak 2008.

Berbicara mengenai Partai Serikat Indonesia, partai yang diketuai oleh Rahardjo Tjakraningrat dan sudah bertarung pada Pemilu 2009. Partai ini sebelumnya mengambil Partai Sarikat Islam Indonesia yang sudah dibentuk sejak 1905.

Lalu Partai Nasrep mengakuisisi Partai Nurani Umat demi mengamankan posisi di 2014 karena gagal pada Pemilu 2009. Siasat mennggandeng partai lain ini ternyata cukup efektif menghasilkan SK kepengurusan baru, 4 Januari 2014.

Jajaran pimpinan Partai Berkarya
Jajaran pimpinan Partai Berkarya

Selain Neneng, Jus Usman Sumanegara yang juga seorang petualang, dia sempat membangun Partai Pelopor dan Partai Hanura sebelum bergabung dengan Nasrep. Mecaplok partai lama yang sudah berbadan hukum ini ternyata efektif dan menjadi cara cepat dan tidak repot.

Kolaborasi Neneng dan Tommy memang sudah sejak lama terjadi. Misalnya ketika berada di Ormas Laskar Merah Putih pada 2011, dimana Neneng sebagai ketua umum dan Tommy Soeharto menjadi ketua dewan pembina.

Partai Berkarya seperti menjadi wadah Tommy untuk bisa menjadi penguas partai. Pasalnya Tommy sudah dua kali gagal menguasai partai Golkar. Pada tahun 2009, pada msyawarah nasional, Tommy tidak mendapatkan satu suara pun dibanding Yuddy Chrisnandi, Surya Paloh, dan Aburizal Bakrie.

Lalu, pada 2016, saat munas Golkar di Bali, Tommy kembali gagal menjadi ketua umum Golkar. Sebelumnya, menjelang diadakannya munas di Bali, Tommy mendirikan Partai Beringin Karya dan menjadikan Badaruddin Andi Picunang sebagai sekjen partai.

Kemudian, pada 15 Juli 2016, bertepatan dengan hari ulang tahun Tommy, Partai Beringin Karya dan Nasrep melebur menjadi Partai Berkarya. Taktik yang biasa digunakan oleh punggawa lama Golkar ketika ingin membentuk partai baru. Dan tiga bulan setelah dibentuk, partai Tommy Soeharto itu diakui oleh Kemenkum HAM.

Selain para petualang, para pensiunan jenderal pun juga turut bergabng dengan partai ini. Seperti mantan Menkopolhukam pada kabinet Jokowi sebelum dilakukan perombakan pada 12 Agustus 2015, Laksamana TNI (Purn) Tedjo Edhy. Selain itu ada juga Mayjen TNI (Purn) Muchdi Purwoprandjono, mantan Komjen Kopassus, dan juga mantan Komandan Pusat Polisi Militer TNI, mayjen TNI (Purn) Syamsu Djalal.

Tommy Soeharto dan Partai Berkarya
Tommy Soeharto dan Partai Berkarya

Namun, partai ini sempat berurusan dnegan PTUN Jakarta. Hal ini karena pada 3 Juli 2017 lalu, salah seorang pengurus partai, Akhmad Goesra menggugat Menkum HAM karena SK Menkum HAM mengesahkan perubahan susunan pengurus dewan pimpinan pusat periode 2016-2021.

Hakim diminta untuk membatalkan  surat tersebut karena menurutnya surat itu sudah dipalsukan dengan nomor, tanggal, dan tahun yang sama. Dalam SK bertanggal 13 Oktober 2016 itu jua ada perubahan nama majelis tinggi partai berlambang beringin ini menjadi Arsyat Kasmar, sebelumnya Wibisono Bachir. Tetapi gugatan tersebut kandas oleh putusan Majelis hakim pada Agustus 2017. Pernah menggugat lagi, namun kembali kandas oleh putusan hakim pada 20 februari 2018.

Partai Berkarya juga tidak lepas dari konflik internal yang terjadi di DPD Kabupaten Depok. Dualisme ini terjadi antara Acep Saepudin dan kubu Witjaksono.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here