Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Mustahil Capai Target Akhir Tahun

0
36
Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi tidak mencapai target akhir tahun
Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi tidak mencapai target akhir tahun

elahan.com, Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sepertinya tidak bisa didongkrak oleh pemerintah. Hal ini disebabkan oleh adanya defisit neraca dagang yang semakin lebar. Defisit pada April 2019, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), mencapai US$ 2,5 miliar. Ini merupakan yang terdalam sepanjang sejarah.

Pada periode Januari-April 2019, angka defisit ini menjadi US$ 2,56 miliar dengan nilai ekspor US$ 53,2 miliar dan nilai impor US$ 55,76 miliar. Angka defisit ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pada 2018 periode Januari-April, angka defisit hanya US$ 1,4 miliar.

Lonjakan angka defisit ini dipengaruhi oleh kondisi global, adanya perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok. Perang dagang ini memanas dengan saling menaikkan tarif produk impornya. Sejak melakukan perundingan dagang pada Januari 2018 lalu, kedua negara ini belum menemukan kata sepakat dari kedua penguasa ekonomi dunia ini.

Pemerintah tidak bisa dongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini

Akibatnya permintaan dan harga barang ikut lesu dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dunia. Tahun ini IMF menurunkan pertumbuhan ekonomi global 0,2 poin atau turun menjadi 3,3 persen dari estimasi awal tahun.

Tentu saja hal ini berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia karena memperngaruhi perdagangan Indonesia. Untuk neraca nonmigas periode Januari-April angkanya anjlok menjadi US$ 204,7 juta, jauh dibandingkan dengan periode sama tahun 2018 yang mencatatkan surplus US$ 2,49 miliar. Meskipun dari segi impor mengalami pelemahan, begitu pula dengan ekspornya juga menglami penurunan yang lebih besar.

Namun, angka defisit neraca migas mencatatkan hasil yang sedikit baik. Mengambil perbandingan dengan periode Januari-April 2018 yang defisit hingga US$ 3,89 miliar, turun menjadi US$ 2,76 miliar pada periode yang sama di tahun ini. Sejak Pertamina menyerap minyak mentah dari hasil produksi Kontraktor Kontrak Kerja Sama pada Januari, jumlah impornya mulai turun.

Jika melihat pada sektor lainnya, ekspor tambang mengalami pelemahan terbesar bahkan hingga 12,26 persen. Hal ini dipicu karena turunnya harga komoditas. Sektor manufaktur yang menjadi andalan ekspor Indonesia turun menjadi 7,83 persen. Dan pada segi pertanian turun sedikit sekitar 3 persen. Secara keseluruhan, ekspor nonmigas mengalami penurunan ke tigas negara utama seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, situasi ini sebagai sinyal perang dagang yang akan berlangsung dalam jagngka cukup lama. Sebab, menurut dia, pola konfrontasinya sengat head-to-head sehingga tidak akan mereda dalam jangka pendek.

Itulah mengapa, Sri Mulyani menyebut pemerintah tidak mungkin mengandalkan ekspor sebagai engine of growth. Karena baik negara Amerika maupun Tiongkok, mengalami perlambatan pertumbuhan.

Senada dengan itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga mengungkapkan hal yang sama. Menurut Perry, kinerja ekspor tidak bisa diandalkan untuk tahun ini. Bahkan proyeksi defisit transaksi yang berjalan tahun ini dirubah oleh Bank sentral dari 2,5 persen menjadi 2,5 – 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Hal ini berimbas pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi terpangkas berada di bawah angka 5,2 persen.

Perang dagang Amerika dan Tiongkok ini mempengaruhi neraca anggaran negara. Defisit APBN pada April 2019 bahkan mencapai Rp 101,04 triliun atau sekitar 0,63 persen dari PBD. Jika dibandingkan dengan APBN pada April 208 yang mencatat defisit Rp 55,1 triliun.

Pendapatan negara hanya tumbuh sekitar 0,5 persen pada April 2019 padahal di periode yang sama pada 2018 mencapai 13,3 persen. Penerimaan pajak hanya naik sekitar 1 persen saja. Penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) migas secara tahunan tumbuh 5,2 persen atau mencapai Rp 22,2 triliun. Angka penerimaan migas jadi turun drastis diakibatkan oleh turunnya harga harga minyak dunia di bulan April menjadi US$ 62,44 per barel, jauh di bawah asumsi APBN sebesar US$ 70 per barelnya.

Penerimaan pajak yang tumbuh tipis ini, mustahil pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai target di akhir tahun sebesar 5,2 persen. Apalagi sekarang sudah memasuki bulan Mei, uccap Prastowo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here