Presiden Donald Trump Ingin Lockdown di AS Diselesaikan

0
22
Donald Trump
Presiden Donald Trump Ingin Lockdown di AS Diselesaikan

elahan.com, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump pada Selasa (24/3) waktu setempat mengumumkan keinginannya untuk melonggarkan kebijakan lockdown di AS. Trump menyebut upaya social distancing menyebabkan disrupsi.

“Banyak orang yang setuju dengan saya. Negara kita, tidak dibangun untuk di shut down,” katanya saat berbicara di Fox News.

Ia pun menginginkan AS kembali buka sekitar perayaan Paskah. Paskah akan dirayakan pada 12 April, sekitar 18 hari lagi. Jaga jarak sosial dan karantina telah diberlakukan di hampir seluruh AS, dengan perintah tinggal di rumah terhadap sepertiga dari populasi penduduknya. Menyebabkan perekonomian terbesar di dunia ini berhenti seketika.

Trump memberlakukan 15 hari lockdown yang akan berakhir di awal minggu depan. Langkah social distancing dan karantina dilakukan di sebagian besar AS, menyebabkan mandeknya perekonomian. Dalam wawancara itu Trump menegaskan bahwa lockdown merupakan reaksi berlebihan.

“Kita kehilangan ribuan orang per tahunnya karena flu, tapi kita tidak mengunci negara ini,” Ujarnya.

Trump juga membandingkan dengan kasus kecelakaan lalu lintas yang jumlah korbannya bahkan melebihi penderita flu.

“Kami kehilangan lebih banyak lagi karena kecelakaan mobil. Kami tidak memanggil perusahaan otomotif untuk mengatakan, ‘Berhenti membuat mobil. Kami tidak ingin mobil lagi,'” katanya.

Dia juga menyinggung soal kerugian yang dialami produsen pesawat serta maskapai penerbangan sebagai dampak dari lockdown.

“Kita tidak bisa kehilangan Boeing. Kita tidak bisa kehilangan beberapa perusahaan ini. Jika kehilangan perusahaan-perusahaan ini, kita berbicara tentang ratusan ribu, bahkan jutaan pekerja,” ujarnya.

Para ahli kesehatan mengungkapkan, langkah-langkah lockdown dan social distancing merupakan satu-satunya cara untuk mencegah penyebaran virus corona.

AS menghadapi lonjakan kasus virus corona dalam sepekan terakhir. Negara itu berada di posisi ketiga kasus Covid-19 dengan 49.768 penderita, di bawah China dan Italia. Dari catatan Johns Hopkins University pada Selasa, dilaporkan 600 orang di AS meninggal akibat COVID-19. Jumlah kasus infeksi di negara itu mencapai 50 ribu orang.

Meskipun Donald Trump bersikap optimis, Gubernur New York, Andrew Cuomo memperingatkan adanya peningkatan jumlah pasien COVID-19 di negara bagian dan kota terbesar AS itu. “Kita tidak memperlambatnya. Ini berakselerasi sendiri,” katanya serta membandingkan kecepatan penyebaran virus ini dengan kereta super cepat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here