Risiko Gelombang Kedua Virus Corona Bila Terapkan Karantina Wilayah

0
16
karatina wilayah
Risiko Gelombang Kedua Virus Corona Bila Terapkan Karantina Wilayah

elahan.com, Bila Indonesia menerapkan karantina wilayah maka akan menekan angka kematian virus corona. Namun strategi untuk menanggulangi virus Corona tersebut memiliki risiko yaitu COVID-19 gelombang kedua, ketiga, dan seterusnya bakal muncul lagi.

Penjelasan ini adalah salah satu bagian dari hasil permodelan terkait wabah COVID-19 di Indonesia, yang dibuat oleh pakar dari berbagai universitas dan tim SimcovID. Ilmuwan yang terlibat mengerjakan penelitian ini berasal dari ITB, Unpad, UGM, Essex and Khalifa University, University of Southern Denmark, Oxford University, ITS, Universitas Brawijaya, dan Universitas Nusa Cendana.

Peneliti membagi prediksi berdasarkan tiga jenis skenario intervensi sebagai berikut:
1. Tanpa intervensi: Penyebaran virus dibiarkan tanpa penanganan.
2. Mitigasi (mulai 15 Maret 2020): Memperlambat penyebaran. 50% Populasi diam di dalam tempatnya, 50% populasi bisa bepergian.
3. Supresi (jika mulai 12 April 2020): Menekan laju penyebaran. Karantina wilayah. Hanya mengizinkan 10% populasi yang bisa bepergian.

Dalam skenario supresi dengan menetapkan karantina wilayah. Sebanyak 90% populasi benar-benar tidak diizinkan bepergian. Cara ini diprediksi ampuh menekan korban jiwa akibat COVID-19. Diprediksi ada 120 ribu orang meninggal dunia akibat COVID-19 bila karantina wilayah diterapkan, lebih rendah jumlahnya ketimbang korban jiwa dari skenario mitigasi (1,2 juta jiwa) dan skenario tanpa intervensi (2,6 juta jiwa).

Durasi epidemi COVID-19 bakal lebih panjang bila karantina wilayah diterapkan, yakni memakan waktu 6-7 bulan. Puncaknya, yakni pada akhir April-awal Mei 2020, akan ada 1,6 juta orang terjangkit. Meski jumlah korban jiwa lebih sedikit, dan jumlah orang yang terjangkit juga lebih sedikit, namun penerapan itu diprediksi tak mampu menghindari wabah COVID-19 susulan.

“Ada kemungkinan terjadi gelombang kedua, ketiga, dan seterusnya,” tulis peneliti.

Tentu saja, setiap nyawa manusia dan setiap kesehatan satu orang penduduk sangatlah berharga. Tim peneliti berpendapat karantina wilayah disertai tes cepat (rapid test) adalah skenario yang paling baik yang bisa dilakukan pemerintah.

“Makin lambat penerapan kebijakan maka akibatnya puncak pandemi akan semakin tinggi. Dalam menerapkannya kecepatan identifikasi hasil rapid test akan menentukan kecepatan tercapainya puncak sekaligus penurunan kasus,” tulis tim.

Sejumlah pakar meneliti, risiko terjadi gelombang kedua virus Corona. Pemerintah mengaku telah memperhitungkan soal risiko itu dan memilih tak menerapkanya.

“Bukan pilihan, karena kita sudah menghitung seperti itu. Makanya tidak ada opsi karantina wilayah,” juru bicara pemerintah terkait penanganan wabah virus Corona, Achmad Yurianto, kepada wartawan, Sabtu (11/4/2020).

“Salah satunya itu (risiko gelombang kedua),” tegas Yuri.

Sebelumnya diberitakan, bila karantina wilayah diterapkan, angka kematian kasus positif COVID-19 diprediksi bakal rendah. Ternyata strategi untuk menanggulangi virus Corona ini punya risiko. Angka kematian memang bisa ditekan dengan karantina wilayah, tapi COVID-19 gelombang kedua, ketiga, dan seterusnya bakal muncul lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here