Selama Tahun 2019, Inilah Deretan Kasus Pencemaran Lingkungan di Karawang

0
5
pencematan lingkungan
Selama Tahun 2019, Inilah Deretan Kasus Pencemaran Lingkungan di Karawang

elahan.com, Rentetan kasus pencemaran lingkungan terjadi di Karawang, Jawa Barat selama tahun 2019. Pencemaran terhadap lingkungan merupakan suatu kejahatan merusak lingkungan. Yang terjadi di Karawang hampir di semua sektor yaitu limbah yang mencemari hutan, sungai, tanah, laut hingga lahan pemukiman dan udara.

Di tahun 2019, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihat Karawang tercatat mendapatkan laporan kasus pencemaran terhadap lingkungan sebanyak 36 laporan. Namun di antara puluhan kasus tersebut, sangat sedikit yang bisa diketahui dalangnya. Dari kasus pencemaran secara sembunyi-sembunyi, hanya ada satu kasus pencemaran yang mengalami titik terang.

Berikut ini berbagai kasusnya:

1. Minyak Mentah Milik Pertamina Tumpah di Pesisir

Pada 21 Juni 2019, masyarakat pesisir di Karawang menemukan kemunculan oil spill yang berbentuk seperti bola, berwarna hitam. Setelah berserakan di pantai, oil spill itu mencair, baunya menyeruak seperti minyak tanah hingga tercium warga dan pengunjung yang berenang. Dalam hitungan hari, sejumlah ekosistem laut terkena dampak dari tumpahnya oil spill itu. Selain pohon mangrove yang tentu tercemar, ikan-ikan di laut pun menjauh. Alhasil nelayan pun harus lebih jauh saat melaut dan beberapa nelayan melaporkan bahwa jaring mereka terkena minyak.

Pertamina Hulu Energi ONWJ mengkonfirmasi kasus minyak mentah tersebut berasal dari sumur mereka. Pencemaran tersebut dipicu kebocoran pada sumur YYA-1. Pertamina berupaya menangani pencemaran yang berlangsung hampir 5 bulan itu. “Kami tidak akan lari dari tanggung jawab. Kami akan memulihkan lingkungan dan mengganti kerugian pada masyarakat,” kata Ifki Sukarya, Humas PHE ONWJ.

2. Limbah Menyengat di Hutan Kutatandingan

Ditemukan sejumlah drum berisikan limbah beracun di Dusun Pagadungan, Desa Tamanmekar, Kabupaten Karawang. Bau menyengat keluar dari drum tersebut, polisi menyelidiki dan mencari pelaku pembuang limbah itu. Kejadian itu dilaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup dan Polres Karawang.

Berdasarkan pantauan, terdapat logo Chevron Philips Chemical Company pada drum berwarna putih itu. Malam hari sebelum ditemukan, sekira pukul 01.00 WIB, warga melihat sebuah truk masuk ke wilayah tersebut. Kemudian pagi harinya bau busuk langsung tercium oleh warga.

Diketahui terdapat 11 drum yang mana 4 diantaranya berisi cairan limbah B3. Adapun 7 drum sisanya sudah kosong, diduga tumpah di lokasi. Hal tersebut dapat berdampak negatif bagi kesehatan masyarakat.

3. Limbah Fly Ash 

Limbah fly ash mengganggu warga di Dusun Jatirasa, Desa Duren, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang. Diketahui limbah tersebut berasal dari cerobong asap pabrik K2 Industries. Debu hitam sisa pembakaran batu bara dari pabrik sabun itu terbawa angin dan menyebar ke rumah – rumah warga selama dua pekan.

Salah satu warga disana, yaitu Nayla Aryani seorang ibu rumah tangga mengatakan bahwa ia mengkhawatirkan polusi tersebut berbahaya bagi anaknya yang masih bayi. Nayla pun menuturkan, rumahnya kerap terpapar debu berwarna hitam setiap siang dan sore hari. Ia bertambah kesal lantaran pakaian yang ia jemur kerap dikotori debu – debu tersebut.

Anak-anak di lingkungan tersebut sering kali mengidap sakit batuk atau pernafasan yang salah satunya juga dipengaruhi limbah asap tersebut. Namun tidak ada kompensasi apapun dari pihak pabrik terhadap para warga yang tinggal dekat sana. Mereka harus berobat dengan uang pribadi masing-masing.

4. Pencemaran di Anak Sungai Citarum

Sungai Cibeet di Desa Taman Mekar, Kecamatan Pangkalan juga dipenuhi limbah berbusa. Masyarakat setempat melaporkan hal itu kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan. Diketahui ternyata limbah tersebut berasal dari PT Pindo Deli Pulp and Paper Mills 3.

DLHK kemudian meminta bantuan pihak Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk menyegel pabrik tersebut. Lima bulan berselang dari kejadian, pencemaran kembali terjadi di lokasi yang sama. Unit Tipiter Satuan Reskrim Polres Karawang kemudian bergerak ke lokasi kejadian. Pengecekan juga melibatkan Satgas Citarum Harum Sektor 18 dan Dinas Lingkungan Hidup Karawang.

Pencemaran disebabkan oleh pengolahan limbah cair yang gagal. Pencemaran dipicu oleh melubernya limbah cair dalam Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Lantaran tak tertampung dalam IPAL, limbah cair kemudian luber dan gagal ditampung pada bak penampung. Limbah cair semestinya dikelola untuk mengurangi residu zat berbahaya. Sebelum dibuang, limbah cair wajib dikelola melalui IPAL. Setelahnya, limbah cair tersebut ditampung dalam bak khusus.

5. Lumpur Beracun di Lahan Pemukiman

Di tahun 2019, satu-satunya kejahatan lingkungan di karawang yang berhasil terungkap adalah lumpur beracun yang dikubur di tanah. Puluhan Ton lumpur tersebut ditemukan di Desa Darawolong, Kecamatan Purwasari, Rabu (30/10/2019). Satuan Reskrim Polres Karawang berhasil mengungkap kasus tersebut yang rupanya berasal dari tiga perusahaan tekstil di Bandung.

Limbah tersebut seharusnya diantar ke PT WI di Tangerang untuk dimusnahkan. Namun demi meraup keuntungan, PT RPW dan PT LSA selaku pihak ke-3 yang mengantar limbah malah menyelundupkan limbah itu. Sebanyak puluhan ton lumpur beracun diangkut menggunakan 5 dump truk bergerak dari Bandung ke Karawang. Supaya tak mengundang perhatian, truk-truk tersebut tiba pada malam hari. Namun pada 29 Oktober 2019 lalu aksi mereka diketahui warga.

6. Penambangan Gunung Sirnalanggeng

Gunung Sirnalanggeng di Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat terancam akan semakin rusak. Gunung yang tinggal setengah itu bakal kembali ditambang. Penambang akan menggunakan dinamit dan peledak lainnya saat beroperasi. Untuk menghancurkan batuan, Atlasindo rencananya bakal menggunakan bahan peledak campuran seperti Ammonium Nitrate Fuel Oil (ANFO) dan Dinamit lengkap dengan detonatornya.

Satu tahun operasi, rencananya Atlasindo bakal menggunakan 4 ribu Kg dinamit, 175 ribu Kg ANFO dan 6.500 buah detonator. Aris Wijaya, Kepala Teknik Tambang PT Atlasindo Utama menuturkan dalam dokumen UKL dan UPL yang diajukan saat ini, Atlasindo bakal menambang batu andesit yang tersisa di Sirnalanggeng.

Cadangan batu di gunung itu, mencapai 2.609.760 bank meter cubic (bcm) atau setara 6.785.376 Ton. Masyarakat pun pro-kontra terhadap pertambangan itu. Yang protes ingin sisa gunung diselamatkan. Sementara yang mendukung berdalih alasan mata pencaharian. Menyikapi hal itu, DLHL Karawang meminta saran dari Kejaksaan Negeri Karawang.

Itulah beberapa kasus pencemaran lingkungan yang terjadi di daerah Karawang sepanjang tahun 2019. Hal tersebut sangat membahayakan masyarakat sekitar. Dikhawatirkan kesehatan masyarakat akan terganggu. Dari berbagai kasus hanya beberapa yang mampu diatasi secara tuntas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here