Sidang Lanjutan Kasus Ratna Sarumpaet, Hakim Tegur Ratna Karena Tidak Konsisten

0
11
Sidang lanjutan kasus Ratna Sarumpaet pada Selasa, 14 Mei 2019
Sidang lanjutan kasus Ratna Sarumpaet pada Selasa, 14 Mei 2019

elahan.com, Sidang lanjutan kasus Ratna Sarumpaet perkara penyebaran berita bohong atau hoaks digelar kembali pada Selasa, 14 Mei 2019 lalu di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Sidang dimulai dengan Koordinator Jaksa Penuntut Umum (JPU) Daroe Trisadono yang membahas apa yang dibicarakan terdakwa pada 3 Oktober 2018 lalu saat konferensi pers di rumahnya. Saat persidangan tersebut juga membahas permasalahan setan yang dimaksud Ratna saat memberikan konferensi pers di kediamannya.

Pada saat itu Ratna Sarumpaet menyebut dirinya mendapatkan bisikan setan untuk mengarang cerita bahwa wajahnya lebam karena dipukul. Daroe mempertanyakan maksud setan pada pernyataan tersebut. Apakah setan yang dimaksud memiliki identitas atau tidak.

Ratna mengaku bahwa setan yang dia maskud adalah perbuatan bohong dirinya. Menurut dia, perbuatan bohong tidak akan dilakukan oleh dirinya karena bohong merupakan perbuatan setan, bukan perbuatan orang seperti dirinya yang tidak pernah berbohong.

Aktivis tersebut juga meminta maaf kepada Ketua Majelis Hakim saat di akhir persidangan karena memberikan keterangan yang kurang konsisten. Lalu, Ratna juga meminta agar dirinya tidak disamakan dengan pejabat publik karena dirinya adalah seorang publik figur. Menurut dia, sebagai seorang aktivis yang terkenal karena menolong banyak orang, dirinya tidak bisa disamakan dengan pejabat publik.

Ketua Majelis Hakim Joni pada sidang Ratna Sarumpaet itu pun mempertanyakan kembali pernyataan tersebut. Karena tidak ada yang mennyamakan dirinya dengan pejabat publik. Kata Ratna, dia hanya ingin memberi kejelasan dan menjadi catatan bagi semuanya, bahwa pejabat publik tidak boleh salah dan tidak boleh bohong. Sementara publik figur diperbolehkan.

Sontak, Hakim Joni kembali mempertanyakan hal tersebut. Norma apa yang membuat seorang publik figur diperbolehkan berbohong. Ratna kembali menanggapi. Dia menyebut, pejabat publik dalam kedudukannya tidak boleh berbohong.

Dalam persidangan kasus Ratna Sarumpaet tersebut, Hakim juga sempat menegur karena menilai jawaban yang  diberikan Ratna tidak konsisten saat menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan.

Sidang lanjutan kasus Ratna Sarumpaet
Sidang lanjutan kasus Ratna Sarumpaet

Ketika ditanya kenapa dirinya memutuskan pulang dari klinik Bina Estetika pada 24 September 2018, padahal kondisi wajahnya saat itu belum membaik.

Ratna Sarumpaet mengatakan dirinya ingin memenuhi janji yang sudah banyak dan harus segera dipenuhi. Janji tersebut menurut kesaksian Ratna, dibuat setelah melakukan operasi. Namun, jawaban tersebut tidak konsisten sehingga hakim Joni mempertanyakan kembali apakah janji tersebut dibuat sebelum atau sesudah.

Hakim Joni juga mengingatkan agar Ratna menjawab semua pertanyaan dengan jujur dan konsisten karena akan merugikan dirinya sendiri. Sebab, apabila tidak konsisten, maka persidangan bisa dicabut atau diskors terlebih dahulu.

Semua sikap dan jawaban saat persidangan akan menjadi pertimbangan majelis hakim sebagai pertimbangan dalakm menjatuhkan vonis.

Hakim Joni juga menyoroti kondisi Ratna pada persidangan kemarin tidak seperti sebelumnya. Ratna hanya mengaku hilaf atas jawabannya, “Saya tidak mendengar atau telinga saya salah (dengar),: kata Ratna.

Kasus Ratna Sarumpaet ini berawal dari penyebaran berita hoaks yang dia sampaikan mengenai wajah lebam akibat dipukuli. Padahal Ratna baru saja melakukan operasi plastik. Berita bohong yang disebarkan tersebut menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.

Perbuatan ini menyebabkan banyak sekali reaksi dari masyarakat dan tokoh politik terlebih perdebatan panjang di sosial media serta media massa yang dilakukan dalam kurun waktu 24 September hingga 3 Oktober 2018 lalu.

Akhirnya, Ratna mengakhiri drama kebohongannya pada Rabu, 3 Oktober 2018 dengan memberikan klarifikasi di  Kediamannya di Kampung Melayu Kecil V, Kelurahan Buit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan

Mesti begitu, kasus Ratna Sarumpaet ini masih bergulir di pengadilan karena sudah menyebarkan informasi dengan tujuan menimbulkan kebencian terhadap golongan atau individu tertentu berdasarkan SARA.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here