Sudah kenal Hasan di Tiro Sang Pendiri Gerakan Aceh Merdeka?

0
20
Hasan di Tiro Pendiri Gerakan Aceh Merdeka
Perjalanan Hasan di Tiro sebelum, saat dan setelah mendirikan Gerakan Aceh Merdeka.

elahan.com, Hasan di Tiro memiliki nama lengkap Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Ia adalah keturunan ketiga dari pahlawan nasional Indonesia. Kakeknya Teungku Chik Muhammad Saman di Tiro pernah memimpin perang melawan Belanda pada tahun 1890-an. Hasan lahir pada 25 September 1925 di wilayah di Tiro, Pidie, Aceh. Dialah sosok dari berdirinya Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Gerakan Aceh Merdeka (GAM) adalah sebuah pergerakan  yang mengusahakan dan memperjuangkan kemerdekaan Aceh dari Indonesia. Gerakan ini sempat mengancam keamanan nasional. Namun gerakan tersebut telah dihentikan melalui perjanjian Helsinki. Pada tahun 2005 GAM resmi berdamai dan melucuti senjata yang mereka gunakan.

Berikut adalah perjalanan hidup Hasan di Tiro dari sebelum, saat hingga setelah mendirikan Gerakan Aceh Merdeka:

1.Sebelum mendirikan GAM

Hasan di Tiro merupakan anak dari keluarga terpandang di daerah asalnya yaitu gampong Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh. di Tiro menghabiskan pendidikan dengan belajar di Yogyakarta. Saat masih pelajar, Ia ikut dalam gerakan melawan Belanda pada saat Revolusi Nasional Indonesia.

di Tiro melanjutkan pendidikannya ke New York, Amerika Serikat. Pada tahun 1953, Ia ikut dalam gerakan perjuangan Darul Islam. Saat itu Ia mendeklarasikan diri sebagai menteri luar negeri dari gerakan yang dipimpin Daud Beureueh tersebut. Padahal kala itu Ia masih belajar di luar negeri.

Hasil yang harus diterima dari aksinya tersebut adalah masuk jeruji besi. Lantaran kewarganegaraannya dicabut dan dianggap sebagai warga asing ilegal. di Tiro harus merasakan kelamnya Penjara Ellis Island. Perjuangan Darul Islam sendiri berakhir dengan perjanjian damai pada 1962. Hasilnya adalah Aceh mendapatkan hak otonom sendiri dari Indonesia.

Hasan di Tiro dan Gerakan Aceh Merdeka
Hasan di Tiro adalah sosok paling fundamental dari Gerakan Aceh Merdeka.

2.Saat mendirikan GAM

Hasan di Tiro kembali ke Aceh pada tahun 1974. Banyak pihak yang mengatakan bahwa awal pendirian Front Pembebasan Nasional Aceh Sumatra atau dikenal Gerakan Aceh Merdeka adalah isu balas dendam. Hal itu terkait kematian saudaranya yang dianggap akibat kelalaian dokter dari ras Jawa. Berbekal dari teman-teman dari organisasi lamanya, di Tiro pun mendirikan GAM pada 4 Desember 1976.

Tujuan dari pendirian GAM adalah kemerdekaan penuh atas Aceh dari Indonesia bukan otonomi khusus daerah. Ini berdasarkan sejarah Aceh sebelum dijajah Belanda merupakan negara yang merdeka. Tujuan GAM berbeda dari tujuan Darul Islam yang ingin menganti ideologi negara dan menciptakan negara Islam. Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara dinilai sekuler bagi rakyat Aceh yang menginginkan negara Islam yang bersyariah.

3.Setelah mendirikan GAM

GAM berfokus pada sejarah Aceh dan perbedaan identitas etnis. Hal ini yang menyebabkan pergerakannya sering kali melibatkan serangan terhadap transmigran, terutama etnis Jawa. Selain karena keinginan mengembalikan tanah Aceh ke rakyat Aceh, etnis Jawa juga diduga dekat dengan tentara Indonesia. Kala itu GAM memang menjadikan tentara dan polisi sebagai target mereka dalam perang gerilya.

Hasan di Tirto diburu oleh militer Indonesia pada tahun 1977. Ia pun melarikan diri ke Malaysia setelah sempat tertembak kakinya dalam sebuah penyergapan militer. Hasan merupakan dalang dari serangan GAM terhadap insinyur asal Amerika Serikat dan Korea Selatan hingga meninggal dunia.

Dua tahun kemudian, Hasan memiliki kewarganegaraan Swedia. Hingga setelah peristiwa tsunami Aceh, GAM dan pemerintah Indonesia akhirnya pun berdamai. Perjanjian damai pada bulan Agustus 2005 tersebut dilakukan di Filandia. Tak lama dari perjanjian tersebut, disahkan Undang-Undang tentang Penyelenggaraan Pemerintah Aceh. UU tersebut semakin mempertegas perjanjian damai tentang Aceh mendapatkan status otonomi lebih besar.

Hasan di Tiro kembali ke Aceh pada tahun 2008. Namun Ia baru kembali mendapatkan kewarganegaraannya tepat sehari sebelum kematiannya. Akhirnya, Pimpinan Gerakan Aceh Merdeka itu meninggal dengan menyandang status warga negara Indonesia pada 3 Juni 2010.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here