Tilas Balik Terjadinya Konflik Tragedi Poso di Tahun 1998

0
2
tragedi poso
Tilas Balik Terjadinya Konflik Tragedi Poso di Tahun 1998

Elahan.com, Konflik di Poso yang terjadi pada tahun 1998 silam dikenal dengan tragedi poso. Penyebab insiden saat itu diketahui bermula dari pertikaian antar pemuda yang berbeda agama. Berlanjut dengan munculnya sentimen keagamaan yang cukup tajam antara umat Islam dan Kristen. Pada saat itu bertepatan dengan momen perayaan Natal dan Ramadan yang bersamaan. Konflik terus berkembang hingga mengakibatkan perpecahan.

Ketegangan lainnya menyusul pada April hingga Mei 2000. Pertikaian itu disebabkan pemuda Muslim yang mengaku diserang kelompok pemuda Kristen hingga berlanjut aksi saling balas. Aparat kepolisian pun akhirnya turun tangan dengan mendatangkan pasukan Brigade Mobil (Brimob) dari Palu. Saat itu fenomena konflik mengarah pada perang saudara sehingga membuat kekacauan berkepanjangan.

Konflik yang terjadi di Poso dikarenakan masing-masing kelompok menganggap konflik yang terjadi merupakan perang mempertahankan kesucian agama masing-masing.

Beberapa faktor lainnya termasuk persaingan ekonomi antara penduduk asli Poso yang mayoritas Kristen dan para pendatang seperti pedagang Bugis Muslim dan transmigran dari Pulau Jawa. Ketidakstabilan politik dan ekonomi menyusul jatuhnya Orde Baru, persaingan antarpejabat pemerintah mengenai posisi birokrasi, dan pembagian kekuasaan daerah antara pihak Kristen dan Islam. Situasi dan kondisi yang tidak stabil, dikombinasikan dengan penegakan hukum yang lemah, menciptakan lingkungan yang menjanjikan untuk terjadinya kekerasan.

Bulan Mei menandai dimulainya fase ketiga, yang secara luas dipandang sebagai periode kekerasan terburuk dalam hal kerusakan dan jumlah korban. Fase ini merupakan ajang balas dendam oleh kelompok Kristen setelah dua fase sebelumnya yang sebagian besar didominasi oleh serangan dari pihak Muslim, dan berlangsung sampai bulan Juli 2000. Fase ketiga ini memuncak dalam sebuah peristiwa pembantaian di sebuah pesantren yang terjadi di Desa Sintuwu Lemba yang mayoritas penduduknya Islam. Dalam fase ketiga ini, ratusan orang jatuh menjadi korban, umumnya dari pihak Muslim.

Salah satu upaya perdamaian meredam konflik di Poso saat itu adalah Deklarasi Damai Malino I pada Desember 2001. Langkah tersebut merupakan inisiatif pendeta A. Tobondo yang kemudian dieksekusi Jusuf Kalla yang kala itu menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Masyarakat.

Jusuf Kalla atau JK mengutarakan bahwa akar konflik poso saat itu bukanlah disebabkan perseteruan antar-agama, melainkan unsur politik. Salah satu hasil pertemuan juga meminta semua pihak untuk menjaga suasana damai, menghilangkan fitnah dan menegakkan sikap saling menghormati.

Pada tanggal 20 Desember 2001, Deklarasi Malino ditandatangani antara kedua belah pihak yang bertikai dan diinisiasi oleh Jusuf Kalla. Kesepakatan ini sekaligus mengurangi kekerasan frontal secara bertahap, dan angka kriminal mulai menurun dalan beberapa tahun sesudahnya.

Pasca tragedi Poso mereda, Polri mendirikan Komando Lapangan Operasi yang digelar dengan berbagai sandi operasi. Misalnya, Operasi Sadar Maleo pada 2000 silam. Kemudian, pada April 2004 TNI/Polri juga memobilisasi kekuatan melalui Operasi Sintuwu Maroso.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here